USG yang Bikin Kangen

“Kita lihat dede bayi, yuk,” kata suami pada saya pada suatu sore. Saat itu kehamilan sudah memasuki usia 12 minggu.

Saya berpikir sejenak.

“Yah, nggak bisa hari ini, Mas. Kalau bulan Ramadhan kan bidannya buka pagi aja,” kata saya kemudian. Saya ingat hari itu sudah Sabtu sore, dan kebetulan bidan yang kerap kami kunjungi tidak buka sore hari.

“Senin pagi aja, gimana?” tawar saya kemudian.

“Oke, deh,” jawab suami akhirnya.

Senin pagi, sekitar pukul sembilan, saya izin keluar kantor untuk pergi ke klinik bidan yang akan kami kunjungi. Selama bulan Ramadhan, klinik tersebut buka dari pukul sembilan pagi hingga pukul dua belas siang. Salah satu alasan saya memilih bidan ini adalah adanya fasilitas USG dalam pemeriksaannya. Biayanya juga jauh lebih murah ketimbang jika harus ke dokter kandungan.

Suami tampak sudah menunggu saat saya tiba di klinik. Saat itu, kliniknya sendiri juga baru buka. Tanpa perlu menunggu lama, saya dan suami sudah berada di ruang periksa bersama bu Bidan dan seorang asistennya.

Layaknya prosedur USG standar, perut saya diolesi gel terlebih dahulu sebelum ditempelkan alat USG. Bu bidan kemudian menggerak-gerakkan alat di area perut saya.  “Nah, itu bayinya, sudah mulai berbentuk,” kata bu Bidan

Saya pun memandangi layar yang ada di samping badan. Rasa takjub langsung menyelimuti diri. Bulan sebelumnya, janin yang saya kandung masih belum terlalu jelas bentuknya. Sedangkan sekarang, tampak sesosok mungil sedang menggerakkan tangan dan kakinya di dalam tubuh saya. Ah, benar-benar menakjubkan!

img_20160608_062521.jpg

Suami sendiri tentunya tak kalah antusias melihat hasil USG bayi kami. Setiba di rumah, tak henti-hentinya ia bercerita bagaimana bayi kami bergerak saat alat USG menempel di perut saya. “Tadi bayinya tangannya ke atas. Kamu lihat, nggak?” begitu katanya pada saya.

img_20160627_092732.jpg

Setelah hari itu, pemeriksaan kehamilan menjadi satu kegiatan yang kami tunggu-tunggu. Tak sabar rasanya ingin melihat pertumbuhan jabang bayi di dalam perut. Sayangnya, memasuki minggu ke-15 layar tak bisa lagi menampilkan tubuh bayi dengan penuh. Ini disebabkan ukuran bayi yang semakin membesar. Jadinya, saat alatnya ditempelkan yang terlihat hanya bagian-bagian tertentu saja. Misal bagian kepala saja atau bagian kaki saja.

20160831_151231.jpg

Tentang USG sendiri, dulunya saya pikir kegunaannya cuma untuk mengetahui jenis kelamin bayi. Ternyata setelah googling-googling, ada banyak manfaat dari pemeriksaan USG pada ibu hamil, seperti yang saya kutip dari situs hamil.co.id. ini:

Trimester pertama (Minggu 1-12)

  • Untuk mengkonfirmasi kehamilan
  • Untuk memeriksa plasenta, uterus, ovarium dan leher rahim
  • Untuk mengetahui kondisi bayi dalam kandungan

Trimester kedua (Minggu 12-24)

  • Memeriksa perkembangan bayi dalam kandungan
  • Mengetahui usia kehamilan dan berat badan bayi
  • Untuk mengetahui adanya kelainan pada janin
  • Mengetahui masalah-masalah selama kehamilan

Trimester ketiga (Minggu 25-40)

  • Memeriksa pertumbuhan bayi pada tingkat normal
  • Memonitor kadar cairan ketuban
  • Mengetahui jenis kelamin bayi

Hingga pemeriksaan kehamilan terakhir kemarin, alhamdulillah bayi saya terlihat sehat. Gerakannya juga cukup aktif dengan posisi masih melintang. Semoga sampai waktu kelahirannya nanti dede bayi sehat selalu 🙂

Usg 22 minggu. Posisi bayi masih melintang

A post shared by Antung Apriana (@ayanapunya) on

 

17 thoughts on “USG yang Bikin Kangen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *