Universitas Terbuka dan Jodoh

Saya memiliki kenangan tersendiri tentang Universitas Terbuka. Saat itu, saya menjadi salah satu pengawas untuk pembangunan kantor Universitas Terbuka di Banjarmasin. Untuk keperluan pencairan, saya harus terbang menuju Jakarta. Itu adalah untuk pertama kalinya saya mengunjungi kota Jakarta sendirian. Untungnya selama di Jakarta saya mendapat bantuan dari pihak kontraktor. Mereka meminjamkan kantor untuk saya bekerja, juga mengantarkan saya menuju Pondok Cabe tempat Universitas Terbuka berada.

Karena kenangan inilah, saya begitu bersemangat ketika suami mengatakan rumah orang tuanya ada di daerah Pondok Cabe. Dalam hati saya berkata, Wah, apakah ini tempat yang mengaitkan aku dan si Mas? Ya, saya selalu yakin bahwa siapapun yang menjadi jodoh kita pastilah memiliki kaitan dengan kita di masa lalu. Entah itu melalui tempat, keluarga, hingga momen tertentu. Dan untuk saya, selain FLP, ternyata UT juga menjadi tempat yang mengaitkan kami.

“Di mananya UT?” Tanya saya kemudian pada suami.

“Ya di depan UT itu jalan menuju rumahnya,” begitu katanya.

Saya tambah semangat mendengar jawabannya.

“Kalau begitu ntar kita jalan-jalan ke UT ya kalau sudah di Jakarta,” kata saya kemudian.

***

Begitu kami menginjakkan kaki di Tangerang, suami langsung membeli tiket Damri jurusan Lebak Bulus. Sesudahnya, kami berpindah angkutan dengan menumpangi angkot jurusan Lebak Bulus – Parung yang akan melewati Pondok Cabe.

Sepanjang perjalanan saya berusaha mengingat kembali rute yang pernah saya lalui saat ke UT beberapa tahun yang lalu. Tak banyak yang saya ingat sebenarnya. Satu-satunya tempat yang saya ingat hanyalah penjual bubur yang kami singgahi untuk sarapan.

Setelah beberapa puluh menit, suami menyetop angkot yang kami tumpangi. Begitu turun spontan saya bertanya, “Mana UT-nya?”

“Tuh, di depan,” jawab suami pendek.

Saya berbalik. Benar saja, di hadapan saya kini tampak sebuah komplek bangunan dengan monumen berbentuk buku terbuka dan pena di pagar depannya. Saya tentu takkan lupa pernah berfoto di bagian depan monumen tersebut.

Sore hari setelah akad nikah adik ipar dilaksanakan, suami memenuhi keinginan saya untuk mengunjungi UT. Dengan motor milik adiknya, kami berkendara menuju komplek UT. Karena sudah sore, komplek UT ini cukup sepi. Suami kemudian mengajak saya menyusuri bagian dalam UT sekalian bercerita tentang beberapa kenangan masa kecilnya di kampus ini.

Saya sendiri mendengarkan cerita suami sambil memperhatikan kembali bangunan-bangunan di UT. Universitas Terbuka di Pondok Cabe ini dibangun di atas tanah berbukit. Hal ini tentu saja membuat kontur jalannya agak melelahkan jika dilewati dengan berjalan kaki. Pada bagian dalam komplek terdapat danau yang bisa menjadi tempat rekreasi bagi mereka yang ingin berkunjung. Terdapat juga wahana untuk berolahraga seperti lapangan tenis dan yang lainnya.

“Di sini aku dulu pernah latihan karate,” begitu kata suami saat kami melewati sebuah bangunan dalam komplek UT. Begitulah. Sore itu, saya dan suami membuat kenangan baru kami di komplek Universitas Terbuka.

 

 

 

 

21 thoughts on “Universitas Terbuka dan Jodoh

  1. Sekalian nostalgia ya Mbak :hehe. Asri dan bersih sekali kampusnya, ada danau juga yang bisa jadi tempat menghabiskan waktu atau menunggu teman. Buat jogging-jogging di pagi atau sore hari kayaknya asyik nih. Tapi saya masih agak penasaran dengan UT, jadi ada kampusnya juga yah? Setahu saya UT itu kuliahnya jarak jauh… :hehe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *