The Theory of Everything

“I have asked Elaine to travel with me to America.”

“She will look after me.”

“Will she?”

“Yes.”

“You always used to tell me when an invitation came in.”

“Another award. What can you do?”

Inilah percakapan yang mengakhiri pernikahan Stephen Hawking dan Jane Wilde dalam film The Theory of Everything yang saya tonton beberapa hari yang lalu. Ironisnya, keduanya berpisah setelah menikah selama 30 tahun dan menghasilkan 3 orang anak.

The Theory of Everything sendiri berkisah tentang kehidupan ilmuwan pencetus teori lubang hitang, Stephen Hawking. Ia bertemu dengan Jane Wilde dalam sebuah pesta dansa dan dalam sekejap keduanya saling jatuh cinta. Sayangnya Stephen kemudian divonis menderita motor neuron disease yang akan membuatnya kehilangan kemampuan untuk bergerak. Penyakit ini lebih dikenal dengan nama Lou Gehrig’s disease. Dokter bahkan memvonis kalau Stephen hanya memiliki waktu 2 tahun untuk hidup. Saat mengetahui penyakit yang dideritanya ini satu pertanyaan keluar dari mulut Stephen, “What about the brain?”. Mendengar pertanyaan tersebut, dokter pun menjawab, “The brain isn’t affected.”

Ketika Jane mengetahui penyakit yang diderita Stephen, ia memutuskan untuk tetap berada di samping Stephen. Awalnya ayah Stephen meragukan keputusan Jane. Namun Jane berhasil meyakinkan calon mertuanya tersebut.

“I know what you all think. That I don’t look like a terribly strong person. But I love him, and he loves me.We’re going to fight this illness together. All of us.”

Jane kemudian membuktikan ucapannya tersebut. Selama tiga puluh tahun ia dengan setia merawat Stephen yang kondisi fisiknya semakin memburuk. Bahkan kehadiran Jonathan yang mencintainya (dan juga ia cintai) tak membuat Jane serta merta meninggalkan Stephen.

Berbanding terbalik dengan Jane, Stephen malah dengan mudahnya melupakan Jane ketika hadir sosok lain yang dirasanya lebih bisa mengurusnya. Adalah Elaine Mason, perawat yang merawat Stephen setelah menjalani operasiΒ tracheotomy dan kehilangan kemampuan berbicara. Elaine yang berpengalaman dengan mudah bisa membuat Stephen berkomunikasi melalui papan bantu. Dan sejak saat itu, Elaine menjadi bagian baru di keluraga Stephen dan Jane.

Jujur saja pada bagian ketika Stephen dan Jane berpisah saya merasa Stephen sedikit tidak tahu diri dan egois. Namun di lain pihak, perpisahan antara Stephen dengan Jane ini pada akhirnya bisa memberikan kesempatan bagi Jane dan Jonathan untuk bersatu. Terakhir yang saya baca, Jane dan Jonathan akhirnya menikah dan bahagia sementara Stephen dan Elaine menikah kemudian bercerai. Stephen dan Jane sendiri kini menjalin hubungan yang baik sebagai teman.

Jadi, apakah pesan moral yang bisa ditangkap dari film yang memberikan Oscar bagi Eddie Redmayne ini? Kalau bagi saya, mungkin lebih ke sikap setia Jane pada Stephen. Juga tentang jodoh yang memiliki masanya masing-masing.

29 thoughts on “The Theory of Everything

  1. wuih keren juga nih dialog nya, mengandung pesan moral yang bagus buat kita. Jadi penasaran ane sob pengen nontn ini pilem πŸ™‚

    izin follow yak blog nya πŸ˜€

  2. menurut saya Stephen justru melepas Jane karena ia ga tega ngebiarin Jane / ngotot agar Jane harus mendampinginya terus dengan penyakit yang dideritanya. Padahal ada pria baik lain yang mencintainya dan Jane pun ada hati padanya. Beda kasusnya dengan Elaine yang memang karena profesinya lebih siap mendampingi Stephen. Eh…koq saya jadi belain Stephen ya ? hahaha. Tapi saya senang sekali Edy Redmayne menang oscar dari film ini. Walaupun saya ga terlalu puas dengan jalan cerita film ini.
    #sori kalo kepanjangan.

  3. Sallut banget kesetiaannya…. Semoga saya pun bisa seperti jane.

    Ada banyak cerita gara gara sakit berkepanjangan, berujung cerai ….. πŸ™

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *