Tausiyah tentang Tarawih

Selama bulan Ramadhan, kantor saya memanggil seorang ustad untuk memberikan tausiyah bagi para karyawan. Tausiyah ini diadakan di aula kantor dan wajib dihadiri para pejabat struktural. Meski begitu, jika karyawan ada yang ingin mendengar langsung isi tausiyahnya, tidak dilarang untuk ikut bergabung di aula.

Sayangnya, tak semua karyawan bersemangat untuk datang ke aula. Mungkin karena ada pekerjaan yang menunggu mereka di ruangan. Atau juga karena durasi tausiyahnya yang lumayan lama yang membuat mereka tidak bersemangat mengikuti tausiyah tersebut. Saya sendiri juga termasuk yang tidak datang ke aula tersebut ­čśÇ

Untungnya, kantor kemudian berinisiatif menyiarkan isi tausiyah dari ustad tersebut pada speaker-speaker yang dipasang di tiap departemen. Ini tentu kebijakan yang sangat baik mengingat isi dari tausiyah tersebut sangatlah baik untuk menambah pengetahuan karyawan tentang agama Islam.

Pagi ini sendiri, materi yang disampaikan adalah seputar salah tarawih. Dalam tausiyahnya, ustad Zulfakar membahas seputar asal usul salat tarawih. Dan ternyata, ada banyak sekali hal yang saya tidak ketahui perihal ibadah di malam bulan Ramadhan ini.

Pertama, saya baru tahu salat tarawih disebut demikian karena salat ini ada jedanya. Jadi dalam setiap dua rakaat salam, ada jeda jelang salat yang berikutnya. Biasanya kalau di masjid-masjid atau musala, jeda ini diisi dengan salawat. Lalu, kata ustad lagi, bisa juga diisi dengan membaca surah al ikhlas, seperti di sebuah negara (saya lupa negaranya apa). Yang penting ada jeda antara salat satu dengan salat selanjutnya. Ini jelas hal yang sangat baru bagi saya. Apalagi biasanya jika saya salat tarawih sendirian, langsung saja tuh salat lagi sesudah dua raka’at salam.

Selain itu, ada juga paparan tentang bagaimana sejarahnya salat tarawih dua puluh rakaat yang biasanya saya ikuti yang ternyata dimulai dari zaman khalifah Umar. Dari yang saya tangkap, sesudah Rasulullah wafat, orang-orang melaksanakan salat tarawih masing-masing di masjid. Khalifah Umar kemudian akhirnya mengumpulkan orang-orang tersebut dalam satu jama’ah hingga akhirnya diikuti oleh umat muslim hingga sekarang.

23 thoughts on “Tausiyah tentang Tarawih

  1. oiya.. materinya sesuai janji sdn hari sebelumnya kalo hr ini bakal membahas masalah tarawih. Pas banar td lun kdd di tempat gara2 ambil ektp di bjb.. Padahal pngn tau segala ttg tarawih. Untung ja pyn tulis, mayan jadinya ada gambaran sedikit. ­čÖé

  2. Kalo di tempat saya sekarang (Ambon) jeda itu diisi dengan membaca shalawat pendek. Jadi gak terasa deh jedanya hehe…

    Dulu saya sering ikut shalat tarawih di masjid Sabilal Muhtadin. Shalat subuh juga sering disitu. Yang saya tunggu waktu itu (tahun 2007) adalah ceramah agama dari ustad Ahmad Bakeri. Walaupun ceramahnya banyak dalam bahasa Banjar, tapi saya suka karena ada lucunya, hehe…

  3. Ternyata ada sejarah yang panjang ya Mbak di balik shalat Tarawih ini :hehe. Dan ini bukti kalau pengajaran agama bisa jadi yang mendekat ke umat, tidak selalu umat yang mendekat ke pengajaran agama ya Mbak :hehe. Habisnya menarik, disiarkan via speaker ke seluruh ruangan :hehe.

  4. kalo aku sih baca doa..
    allahumma innaka ‘afuwun karim, tuhibbul ‘afwa, fafu’anna
    allahumma inna nas aluka ridhoka wal jannah, wa na a’udzubika min sakhotika wannar.
    kalo masih sempat baca doa untuk orang tua dan anak istri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *