Cerita Perjalanan ke Makassar

“Sudah sampai mana?” tanya suara di ujung telepon pada saya yang sedang berada dalam sebuah mobil menuju bandara.

“Sudah sampai Liang Anggang, Bu,” jawab saya dengan suara bergetar. Jam di pergelangan tangan saya sudah menunjukkan pukul 17.20, empat puluh menit sebelum pesawat saya berangkat.

Hari itu adalah hari keberangkatan saya ke Makassar. Seharusnya pukul 16.00 saya sudah berangkat dari rumah menuju Bandara Syamsudin Noor. Namun karena kurangnya koordinasi antara saya dan suami masalah pemesanan taksi online, pukul 16.45 kami baru berangkat menuju bandara. Perjalanan dari rumah kami ke bandara memakan waktu kurang lebih 30 menit. Namun dengan kondisi jalan yang padat karena jam pulang kerja tentu saja waktu tempuh ini bisa lebih lama beberapa belas menit. Bayangkan bagaimana paniknya saya saat itu.

“O ya sudah nggak apa-apa. Insya Allah sempat aja. Minta sopirnya lebih cepat, ya,” kata suara tersebut lagi menenangkan saya.

“Iya, Bu,” jawab saya lagi. Saya kemudian meminta pengemudi taksi online untuk memacu mobilnya lebih cepat. Dalam hati saya tak putus-putusnya berdoa semoga pesawat yang akan kami tumpangi tak meninggalkan saya.

Baca : Menginap di Hotel Four Points Sheraton Makassar

Read More »

Belajar tentang Usaha Memberi ASI dari Adik

Minggu, 29 Juni 2014, adik saya melahirkan putra pertamanya. Saat itu usia kandungannya sebenarnya masih belum genap 9 bulan. Kondisi fisik yang kelelahan karena bolak-balik ke rumah sakit saat ayah sakit mungkin menjadi penyebab kelahiran sebelum waktunya ini. Dengan kelahiran prematur, keponakan pertama saya lahir ke dunia. Fathan Al Farisi, begitu dia kemudian diberi nama.

Kondisinya prematur membuat Faris harus menginap di inkubator rumah sakit selama beberapa minggu. Ibunya sendiri di awal-awal kelahiran harus berjuang dengan ASI yang ternyata tak kunjung keluar. Pihak Rumah Sakit (perawat) sendiri sempat beberapa kali menawarkan untuk memberikan susu formula kepada Faris. Adik saya menolak awalnya. Namun karena ASI tak kunjung keluar, dengan terpaksa adik saya merelakan putra pertamanya diberi minum susu formula.

Untungnya adik saya tidak menyerah dengan kondisinya. Setelah diizinkan pulang ke rumah, adik saya berusaha keras agar ASI-nya bisa keluar dengan lancar. Berbagai cara pun dicoba. Mulai dari diurut, hingga mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang bisa meningkatkan produksi ASI. Alhamdulillah dengan usaha yang sungguh-sungguh, akhirnya adik saya bisa memberikan ASI-nya kepada Faris. ASI tersebut disimpan ke dalam botol untuk kemudian diberikan kepada Faris yang masih menginap di Rumah Sakit.

Read More »

Pertemuan Mingguan

Ina melirik pergelangan tangannya. Pukul dua lewat tiga puluh menit. Ah, sial! Telat! Rutuknya dalam hati. Kalau saja Ina tidak merebahkan diri dahulu usai salat dzuhur tadi, mungkin dia takkan setergesa ini. Segera saja ia mengambil kunci motor yang tergeletak di atas meja dan berpamitan pada ibunya yang sedang berada di dapur.

Ina memacu motornya dengan kecepatan penuh. Hari ini seharusnya ia bertemu dengan beberapa temannya. Karena tertidur, dia jadi terlambat. Tak sampai tiga puluh menit, akhirnya Ina tiba di tempat tujuan. Masjid Raya Sabilal Muhtadin, sebuah masjid yang terletak di pusat kota Banjarmasin. Masjid itu merupakan salah satu masjid terbesar di kota tempat Ina tinggal. Beberapa tahun lalu masjid tersebut direnovasi oleh pemerintah dan menghasilkan bangunan yang terlihat lebih megah dan menawan dari yang sebelumnya.

Setelah memarkir motor, Ina menyempatkan diri memeriksa penampilannya. Diperbaikinya kerudung yang terlihat berantakan dan rok yang terlihat kusut. Dirasa oke, Ina pun berjalan cepat menuju teras masjid, berharap ia tak banyak ketinggalan. Dari jauh, dilihatnya enam orang gadis berjilbab yang duduk melingkar dan seorang wanita paruh baya sedang berbicara. Ina tersenyum. Ah, inilah yang selalu Ina tunggu setiap minggunya. Pertemuan dengan para sahabatnya dalam mendalami agama.

***

Jumlah kata : 192 kata

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid”

Doa dan Cinta dalam Sentuhan

Beberapa hari setelah resepsi pernikahan, saya mengalami sebuah kecelakaan kecil. Saat itu, kami sekeluarga baru pulang dari mengunjungi kediaman nenek saya di Aluh-aluh. Menggunakan motor, saya dan suami masing-masing membonceng ayah ibu mertua kami. Saya bersama ibu mertua, sedang suami bersama ayah dan adik bungsunya. Saat sedang asyik berkendara, tiba-tiba saya melihat ada seorang pria yang hendak menyeberang jalan. Spontan saya cengkeram rem kanan motor matic saya. Akibatnya bisa ditebak, alih-alih menghindari kecelakaan, saya dan ibu mertua malah jatuh bersama dari motor.

Setiba di rumah, saya langsung diminta mengurut kaki yang sakit akibat jatuh tersebut. Saat itu suami dengan sigap mengurut-urut pelan pergelangan kaki saya yang sakit. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya jatuh dari motor. Beberapa bulan sebelumnya, saya juga mengalami 2 kali kecelakaan kecil yang berakibat cedera pada kaki saya. Beberapa kali juga kaki saya diurut untuk menghilangkan sakit di bagian kaki. Hasil urutnya sih lumayan oke, tapi kadang-kadang masih muncul sedikit rasa nyeri di kaki saya. “Yah, moga lama-lama nyerinya hilang,” begitu pikir saya.

Sayangnya perkiraan saya salah. Tambahan kecelakaan baru yang saya alami kala itu rupanya secara diam-diam menambah “luka” di kaki saya. Puncaknya terjadi saat saya dan suami pergi piknik ke pantai bersama beberapa rekan kantor. Sepanjang perjalanan, tak ada tanda-tanda saya akan mendapat masalah. Namun begitu tiba di pantai, saat akan turun dari mobil, tiba-tiba saya merasakan nyeri yang amat sangat pada pergelangan kaki kanan saya. Nyeri seperti ditusuk yang membuat saya sulit menjejakkan kaki di tanah.

Read More »

5 Barang Impian dari Lazada

Wanita dan belanja adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Mau itu sekadar belanjang sayur ke pasar atau pakaian baru di mall, setiap wanita pasti dengan senang melakukannya. Bahkan ada yang menyebutkan kalau belanja adalah terapi untuk menghilangkan stress. Yah, kalau untuk saya sih, mungkin lebih memilih window shopping di mal atau pusat perbelanjaan online. Meski tidak membeli, namun cukup senang rasanya melihat barang-barang yang ditampilkan di sana.

Dengan semakin majunya teknologi, belanja kini tak perlu lagi dilakukan. Salah satu tempat belanja online yang kerap saya kunjungi adalah Lazada. Di dengan adanya sistem penjualan online yang semakin memudahkan para wanita dan belanja. Tak perlu capek-capek ke pasar, kita bisa membeli barang-barang yang kita inginkan. Tinggal klik sana sini, tunggu beberapa hari, dan barang yang diinginkan pun sampai di tangan.

Salah satu tempat belanja online yang kerap saya kunjungi adalah Lazada. Ada cukup banyak barang yang saya taksir di Lazada. Maklum saja, di Lazada ini banyak sekali diskon yang diberikan. Berikut adalah barang-barang yang saya inginkan dari Lazada:

Pertama, satu set pemotong sayuran. Sebagai seorang istri, salah satu kebiasaan baru yang saya lakoni sehari-hari adalah memasak. Nah, agar tidak rempong dalam menyiapkan makan suami, tentu diperlukan peralatan potong-memotong yang lengkap. Alhamdulillah di Lazada saya menemukan Nicer Dicer Set Pemotong ini. Dalam satu set Nicer Dicer Pemotong ini saya lihat alat yang disediakan cukup lengkap, plus warnanya hijau. Hoho. Saya kebetulan suka warna hijau jadi paslah dengan keinginan saya.

pemotongRead More »