The Founder, Kisah Tragis di Balik Kesuksesan McDonald’s

Jika mendengar nama McDonald’s, pikiran kita pasti mengarah pada sebuah franchise besar dari Amerika dengan ikon huruf M besarnya itu. Namun siapa sangka ternyata di balik nama besar McDonalds ini ada sebuah kisah yang cukup memilukan. Dan saya baru mengetahuinya setelah menonton film The Founder yang dibintangi Michael Keaton.

Cerita awal The Founder dimulai dari Ray Croc, seorang sales alat pembuat milkshakes yang sedang menawarkan barang miliknya ke berbagai gerai di Amerika. Saat sedang beristirahat dari pekerjaannya, dia mendapat informasi kalau ada sebuah tempat makan yang ingin membeli banyak sekali alat pembuat milkshake yang ia tawarkan. Ray tentu saja terkejut dengan kabar ini. Pasalnya, selama ini dia sangat kesulitan memasarkan alat milkshake tersebut. Dan tiba-tiba saja ada permintaan sampai, wajar

Dengan rasa penasaran, Ray pun memacu mobilnya menuju lokasi gerai makan McDonalds. Setibanya di McDonald’s, Ray dibuat takjub dengan sistem pelayanan yang dilakukan oleh gerai makanan ini. Tak seperti gerai makanan lain yang kerap dikunjunginya, di mana para pengunjung menunggu pesanannya (sampai lumutan) di dalam mobil, maka McDonald’s menggunakan sistem antrian. Para pengunjung yang ingin menikmati burger harus mengantri. Ajaibnya, mereka hanya perlu menunggu sekian menit hingga pesanannya diserahkan. Sangat efisien!

Baca juga : Hindi Medium, Cerita tentang Pencarian Sekolah Terbaik untuk Anak

 

Read More »

Hindi Medium, Cerita tentang Pencarian Sekolah Terbaik untuk Anak

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton sebuah film Bollywood berjudul Hindi Medium. Sebuah film menarik yang dibintangi oleh Irrfan Khan dan Saba Qomar. Filmnya sendiri bercerita tentang usaha sepasang suami istri, Raj dan Mita Batra mendaftarkan putri mereka ke sebuah sekolah bergengsi di kota mereka. Alasan utama sang istri sangat ingin putrinya bisa bersekolah di sekolah elit tersebut karena dia yakin kalau di sekolah elit sang putri akan mendapatkan banyak fasilitas yang lebih baik dari sekolah negeri.

Pasangan Raj dan Mitra Batra sendiri berasal dari keluarga yang cukup berada. Raj sebagai kepala keluarga memiliki bisnis pakaian yang cukup besar di Chandni Chowk. Atas desakan sang istri, Raj akhirnya setuju untuk pindah dari Chandni Chowk ke kawasan perumahan elit agar bisa beradaptasi dengan kehidupan orang-orang kaya. Selain itu mereka juga mengikuti semacam bimbingan agar anak mereka bisa diterima di sekolah elit yang dimaksud.

Sayangnya dengan segala usaha yang telah dilakukan, Pia, sang putri tercinta tak lolos seleksi. Ironisnya, putri dari salah satu karyawan mereka malah berhasil diterima. Rupanya di sekolah elit tersebut ada jalur khusus bagi mereka yang tidak mampu. Demi bisa menyekolahkan putri tercinta, Raj dan Mita pun mencoba mendaftarkan Pia lewat jalur ini, tentu saja dengan memalsukan beberapa dokumen.

Sialnya tak berapa lama pihak sekolah mengetahui adanya pihak-pihak yang memalsukan dokumen hanya untuk bisa diterima di Delhi Grammar School, sekolah yang mereka tuju. Pihak Delhi Grammar School kemudian mengutus salah satu perwakilannya untuk melakukan survey lapangan pada orang tua yang mengajukan lamaran dengan jalur tidak mampu.

Read More »

5 Film Bertema Penulis

Beberapa waktu yang lalu saya menonton film Genius yang dibintangi oleh Jude Law dan Colin Firth. Film ini bercerita tentang hubungan seorang penulis dengan editornya. Setelah menonton film ini, saya jadi ingat beberapa film lain yang juga bertemakan dunia kepenulisan yang sudah saya tonton. Beberapa diambil dari kisah nyata, namun ada juga yang murni kisah fiktif. Berikut adalah beberapa film berlatang belakang dunia penulis yang sudah saya tonton tersebut:

Genius (2016)

 

Thomas Wolfe, adalah seorang penulis muda yang sedang berusaha menerbitkan novelnya. Ia mengirimkan naskahnya kepada Max Perkins, seorang editor yang mengorbitkan F. Scott Fitzgerald dan Ernest Hemingway. Meski naskahnya super tebal, namun Perkins dengan insting editornya tetap berniat untuk menerbitkan tulisan Wolfe. Dengan bimbingan Max, Tom pun berhasil menerbitkan novel perdananya yang laris di pasaran.

Genius merupakan film yang menarik karena melalui film ini, saya diperlihatkan bagaimana hubungan seorang editor dengan penulisnya. Max Perkins sendiri dalam film ini digambarkan sebagai seorang editor yang cukup sabar dalam menghadapi Tom yang. Hal lain yang membuat saya berdecak kagum juga adalah bagaimana seorang editor bisa sanggup membaca naskah ratusan lembar. Pantas saja ya nggak banyak editor yang jadi penulis. Mereka terlalu sibuk memeriksa naskah sehingga naskahnya sendiri terbengkalai.

Read More »

[Review] The Edge of Seventeen

Nadine memacu mobil ibunya. Setiba di sekolah, setengah berlari ia menuju ruang kelasnya.

“Aku mau bunuh diri,” katanya pada Mr . Bruner yang sedang menikmati jam istirahatnya.

Sang guru tertegun. Salah satu anak muridnya ini memang sedikit berbeda. Ia kadang tanpa ragu mengkritik gaya mengajar Mr. Bruner. Bahkan pernah juga gadis itu melampiaskan kemarahannya hanya karena Mr. Bruner berusaha memberitahu kalau mungkin Nadine lah yang bermasalah. Dan sekarang ia berkata ingin bunuh diri. Oh, well..

Semua ini gara-gara Krista. Sejak Nadine memergokinya bersama Darian, hidupnya mulai berantakan. Krista, gadis manis yang menyapanya saat sedang di kelas dua dan menjadi sahabatnya sejak saat itu. Sahabat satu-satunya. Dan kenapa harus Darian? saudara laki-lakinya yang menyebalkan itu. Sejak kecil Nadine tidak pernah suka pada Darian. Darian sejak kecil sudah populer dan memiliki banyak teman. Sedang dirinya kerap kena bully dan tak memiliki teman. Dan sekarang ia malah mengambil sahabat satu-satunya. Huh!

Read More »

[Review] Nil Battey Sannata

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton sebuah film Bollywood bertema keluarga yang sukses menyentuh hati. Film ini bercerita tentang kehidupan seorang ibu dan anak gadisnya yang beranjak remaja. Chanda, nama si ibu, adalah seorang ibu muda yang tinggal hanya berdua dengan putrinya yang bernama Apeksha (Apu). Sehari-hari ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman seorang dokter. Selain itu, Chanda juga mengambil beberapa pekerjaan lainnya di sore hari untuk menambah pemasukan bagi dirinya dan putri semata wayangnya.

Dengan latar belakang dirinya yang tak lulus SMA dan hanya bekerja sebagai pembantu, wajar jika Chanda mengharapkan sang putri bisa lebih sukses darinya. Ironisnya, Apu malah sepertinya tak memiliki keinginan untuk menjadi seorang yang berhasil. Dalam pelajaran sekolahnya, Apu nyaris tak pernah berusaha untuk memperbaiki nilainya, terutama dalam Matematika. Bahkan saat Chanda bertanya apa rencana ke depan Apu, sang putri dengan santai menjawab akan menjadi pembantu sama seperti ibunya.

Merasa khawatir dengan masa depan sang putri, Chanda meminta saran kepada dokter Diwan, majikan tempatnya bekerja. Mulanya Chanda disarankan untuk memasukkan Apu ke tempat kursus. Namun karena keterbatasan biaya, rencana tersebut tidak terlaksana. Dokter Diwan memberikan usulan lain. Chanda diminta bersekolah di sekolah Apu, dengan begitu Chanda bisa mengajari Apu pelajaran Matematika tanpa perlu memikirkan masalah biaya.

Read More »