Sepasang Cincin Batu Akik

Sepasang suami istri berjalan mendekati deretan penjual batu akik di pinggir jalan dekat rumah mereka. Penjual batu akik ini bermunculan ketika demam batu akik terjadi beberapa bulan sebelumnya. Meski kini demam batu akik mulai mereda, sepertinya para penjual di tempat tersebut masih berusaha bertahan dengan usaha mereka.

Sepasang suami istri ini menghampiri sebuah etalase dari salah satu penjual. Pada etalase tersebut terpajang beberapa macam batu akik juga emban dari batu akik yang terbuat dari besi. Sang suami kemudian meminta sang istri memilih salah satu emban yang pas dengan jarinya. Kebetulan ia memiliki sebuah batu berwarna merah kecoklatan yang dibelinya dari seorang penjual batu akik yang kehabisan ongkos pulang.

“Nggak ada yang pas, Mas,” kata sang istri setelah mencoba beberapa emban yang ada di etalase tersebut.

Sang suami kemudian mengajak sang istri mencoba di penjual lain. Beberapa kali sang istri mencoba emban-emban yang ada di etalase. Ah, ternyata sulit sekali menemukan emban yang pas dengan jarinya yang kecil. Sampai kemudian sang istri akhirnya menemukan emban pilihannya.

“Nah, yang ini pas di jariku, Mas,” kata sang istri sambil menunjukkan emban yang dipilihnya. Sang suami memperhatikan emban tersebut. Memang pas ukurannya, namun sayang wadah batunya lebih kecil dari batu yang ia miliki.

Sang suami berpikir sejenak.

“Kalau emban yang ini cocoknya batu yang mana?” tanyanya akhirnya pada penjual batu akik.

Penjual batu akik pun menawarkan beberapa batu miliknya.

“Kalau batu yang ini jenis apa?” sang suami bertanya lagi sambil menunjuk ke salah satu batu berwarna biru.

“Oh, itu batu safir.”

“Berapa harganya?”

Sang penjual pun menyebutkan sebuah angka. Setelah tawar menawar dilakukan, akhirnya sang suami setuju untuk membeli batu safir plus emban pilihan istrinya.

Sembari menunggu batu safir dipasang di emban, giliran sang suami melihat-lihat emban yang dipajang salah satu penjual batu akik. Rupanya ia merasa sayang jika batu miliknya tidak menemukan “rumahnya.” Setelah beberapa saat, sang suami memilih sebuah emban untuk batu akik miliknya.

“Ini batu apa?” tanya penjual batu akik saat ia memasangkan batu pada emban pilihan suami.

“Wah, kurang tahu juga saya. Kira-kira batu apa ya?” sang suami balik bertanya.

“Dari warnanya sih seperti Rafflesia Bengkulu atau batu Bacan,” jawab penjual batu akik sambil tetap bekerja.

Sang suami hanya manggut-manggut mendengar jawaban penjual batu akik. Tak lama batu pun sudah terpasang di embannya. Kedua suami istri itu pulang dengan sepasang cincin baru di jari mereka.

img_20160104_124111.jpg

0 thoughts on “Sepasang Cincin Batu Akik

  1. Selamat buat cincin barunya :)), semoga jadi pengikat akan memori-memori indah di saat bersama :amin. Bagi saya dari sebuah cincin/perhiasan itu yang penting nilai di baliknya, bukan apa pada saat dibeli itu terkenal dan di harga berapa cincin itu bisa diboyong ke rumah :hehe :peace. Yang penting uangnya pas, pas mau dibeli cincinnya pas ada duitnya :hihi *kabur*.

  2. Saya sudah beli batu bacan sekian juta karena mengharap untung, sampai saat ini belum lak. Begitulah kalau gak tau ilmu dagang batu akik 🙁
    Saya pengen beli batu merah delima Cempaka Martapura.

    • saya malah nggak ngerti sama sekali soal batu. tapi ini jadi pengen beli lagi setelah punya. nah, belum pernah lihat batu merah delima saya, mas. kemarin dikasih lihat red borneo aja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *