Selamat Jalan, Abah

“Bisakah kira-kira abah menjadi wali nikah di pernikahanku?” Itulah pertanyaan yang menggelayuti pikiran saya beberapa waktu jelang hari pernikahan saya. Pertanyaan ini muncul mengingat kondisi ayah saya yang semakin memburuk selama beberapa bulan terakhir. Beliau sudah tidak bisa mengenali kami lagi dan juga sangat sulit diajak berbicara.

“Waktu Sari (adik saya) nikah kemarin orang KUA-nya datang ke rumah kan buat pelimpahan wali?” kata ibu saya saat pertanyaan itu kemudian saya ajukan padanya. Pikiran saya melayang ke tahun 2013 saat adik saya menikah. Saat itu, untuk kelengkapan rukun pernikahan, petugas KUA datang ke rumah untuk melihat kondisi ayah. Saat itu, meski sama-sama tidak mengenali orang lagi, kondisi ayah saya bisa dibilang lebih baik ketimbang saat saya akan menikah. Beliau masih bisa berdiri dan bisa diajak berkomunikasi.

Saya dan suami pun berinisiatif menanyakan hal ini pada pihak KUA. Saat itu sekitar satu bulan jelang hari pernikahan saya. Saya ceritakan kondisi ayah saya yang sudah tidak bisa bicara juga tidak bisa mengenali orang lagi. Saya juga bertanya kemungkinan perwalian dialihkan kepada adik laki-laki saya.

“Wah, tidak bisa itu, Dik. Kalau ayahnya masih hidup ayahnya yang jadi wali. Yang penting ayahnya bisa mengangguk aja,” begitu jawab pihak KUA pada saya. “Kalaupun terpaksa adik laki-lakinya yang jadi wali, maka dia sendiri yang harus menikahkan. Tidak bisa dilimpahkan,” tambah petugas KUA itu lagi.

Saya dan calon suami pun kemudian mengajak petugas KUA tersebut ke rumah. Saat itu, kondisi ayah sudah mulai drop. Beliau sudah tidak lagi didudukkan di kursi roda, juga tidak bisa lagi mengunyah makanan keras. Hal ini otomatis membuat kami hanya bisa mengurus ayah dari tempat tidur.

Begitu tiba di kamar, petugas KUA kemudian membimbing saya untuk meminta izin menikah pada ayah. “Abah, ulun minta izin menikah dengan Murdiyanto bin Parno,” begitu kira-kira kalimat yang saya ucapkan dengan mata berkaca-kaca di hadapan ayah yang terbaring lemah. Tak lama, saya lihat ayah menganggukkan kepalanya tanda setuju. Setelahnya, giliran petugas KUA yang meminta izin kepada ayah saya untuk menikahkan saya menggantikan ayah.

***

Satu minggu jelang resepsi pernikahan, kondisi ayah saya memburuk. Karena hanya berada di tempat tidur, pada bagian belakang tubuh beliau muncul luka-luka bernanah. Makannya semakin sedikit. Bahkan pernah satu malah penuh beliau cegukan tanpa henti.

Puncaknya, Selasa dini hari di awal Juni. Saat itu saya dan suami masih terlelap dalam tidur ketika tiba-tiba ibu saya menerobos kamar yang kami tempati. “Yan! Abah meninggal!” seru ibu kepada kami yang masih separuh terbangun.

Tanpa sempat berpikir lagi saya dan suami langsung bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar tempat ayah saya biasanya tidur. Di atas tempat tidur saya lihat ayah yang terbaring kaku. Suami langsung memeriksa kondisi ayah sementara ibu saya masih menangis di samping ayah. Dalam sela tangisnya itu ibu kemudian bercerita. “Mama baca Yasin di samping abah dan ketiduran jam satu. Jam dua tiba-tiba mama terbangun dan mama lihat wajah abah sudah pucat. Mama periksa detak jantungnya ternyata sudah tidak ada lagi,” begitu kata ibu pada kami berdua.

Saya sendiri kemudian teringat bagaimana kondisi ayah beberapa hari sebelum beliau berpulang. Saat itu, saat akan menyuapi beliau untuk makan malam, saya mendapati tubuh ayah yang panas. Saya juga bisa merasakan bagaimana tatapan mata beliau yang benar-benar mengabur. Lalu kemudian saya juga teringat bagaimana beliau terus-menerus memandang jendela kamar seolah ada seseorang di sana. Mungkinkah saat itu malaikat maut sedang menunggu waktu untuk menjemput beliau?

Hampir lima tahun lamanya ayah saya menanggung sakit yang menyerang otaknya. Saat itu sakitnya bermula dari seringnya beliau lupa pada hal-hal kecil, hingga kemudian menyerang fungsi motorik tubuhnya. Pada akhirnya, cairan yang menyelimuti otak beliau melumpuhkan anggota tubuh juga ingatan beliau. Satu harapan saya, semoga sakit yang ditanggung beliau tersebut menggugurkan dosa-dosa beliau.

Selamat jalan, Abah. Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagimu di sisi-Nya.

DSC_2077
Foto keluarga terakhir bersama abah

47 thoughts on “Selamat Jalan, Abah

  1. Wah sedih bacanya. Jadi ingat bapak saya. Sewaktu bapak meninggal saya berada jauh. Cuma bisa melihat wajah almarhum ayah ketika dibuka kafannya di liang lahat.

  2. duh Yana…jangan nulis yg sedih2 pas puasa. Papaku udah duluan 22 tahun yg lalu. Semoga almarhum ayah-ayah kita mendapat tempat sebaik2nya di sisi Allah. Bebas dari segala penyakit yang pernah mereka alami. Sehat walafiat di alam sana.

  3. sedih bacanya, hiks :(, semoga abah mendapat tempat terbaik di sisinya mbak, dgn sakitnya maka dihapuskan segala dosa-dosanya, amin
    turut berduka cita ya mbak *hug*

  4. Mbak Yana, sediiiih bacanya.. :'(
    Moga beliau dilapangkan kuburnya, diampuni dosa2nya, dan dimudahkan jalannya ke surga yaa.. aamiin..

    Satu hal yg dikuatirkan anak perempuan yg belum nikah yaa mbak, apakah ayahnya masih sempat menikahkan (jadi wali nikah)..

  5. Turut berduka ya, Yana.. semoga beliau diterima di sisiNya.

    Dan saya ga tau lho kalo Yana udah nikah sekarang. Selamat atas pernikahannya ya. selamat menempuh hidup baru. πŸ™‚

  6. ikut mengamini doa Yana, semoga sakitnya menggugurkan dosa-dosa beliau dan sekarang mendapat tempat di sisi Allah amin…. πŸ™‚ salut sama Yana yang bisa tegar menghadapi cobaan berat saat menikah

  7. Innalillahi wa innailaihi roji’un, allahummaghfirlahu warhamhu wa β€˜afihi wa’fu β€˜anhu… Semoga sakit tersebut menjadi penggugur dosa dan menambah amalan pahala semasa hidup. Tetap sabar ya mbak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *