Sejenak Mengenang Bandung

Tahun 1992 adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di kota Bandung. Saat itu almarhum Abah mendapat kesempatan untuk belajar di kota kembang tersebut selama kurang lebih sembilan bulan. Karena tak ingin terpisah jauh dari keluarga, Abah memboyong serta istri dan kedua anaknya.

Sebuah rumah di jalan Suka Ati menjadi tempat kami tinggal selama di Bandung. Selain kami ada beberapa keluarga lain juga yang indekos di rumah itu. Pemiliknya sendiri merupakan seorang wanita paruh baya yang kerap kami sebut Emak. Di rumah itu, emak tinggal bersama beberapa putranya yang kemudian sudah kami anggap seperti keluarga sendiri.

Masa-masa saya tinggal di Bandung sendiri terbagi dalam dua periode. Periode pertama adalah tahun 1992 seperti yang saya sebutkan di atas. Adapun untuk periode kedua saya jalani saat Abah saya kembali melanjutkan studi Metrologinya di tahun 1995. Saat itu lagi-lagi kami tinggal di kontrakan yang sama dan komplek sekolahan yang sama yang yang saya masuki sebelumnya, yakni SD Pasir Kaliki.

Ada banyak kenangan yang saya dapatkan selama tinggal di Bandung. Saya ingat bagaimana di hari pertama tinggal di kota Bandung saya dibuat terbengong-bengong dengan bahasa Sunda yang mereka gunakan. Saya juga ingat bagaimana akhir minggu kami habiskan dengan mengunjungi Alun-Alun kota Bandung dan beberapa daerah sekitarnya. Dan tentunya tak lupa kami mengunjungi tempat wisata paling tersohor di Bandung, Gunung Takuban Perahu.

img_20160228_082612.jpg
Kenangan mengunjungi Gunung Takuban Perahu

Setelah studi Abah selesai, kesempatan saya menginjakkan kaki di kota Bandung terjadi sekitar tahun 2011. Saat itu saya dan dua orang teman berkesempatan menghadiri pernikahan salah seorang temannya di Sukabumi. Baik saya dan kedua teman saya kemudian sepakat untuk mampir sejenak ke kota Bandung meski jaraknya cukup jauh dari Sukabumi.

Setelah kurang lebih enam jam perjalanan, saya pun akhirnya bisa melihat kembali kota yang pernah menjadi salah satu episode kehidupan saya itu. Ada banyak perubahan tentunya. Mulai dari adanya jalan layang, kemacetan, hingga mal besar yang menggantikan toserba yang kerap kami kunjungi di masa kecil saya dulu. Ah, sungguh rasanya saya ingin berlama-lama kala itu agar bisa menapaki kembali jalan-jalan di kota Bandung. Sayang keterbatasan waktu membuat saya harus segera meninggalkan kota Bandung.

Setidaknya ada empat hal yang selalu saya ingat tentang kota Bandung. Pertama adalah suhu dinginnya yang selalu sukses membuat saya menggigil di pagi hari. Kedua, kecantikan pada mojangnya, yang selalu membuat saya iri. Ketiga adalah batagor yang merupakan salah salah satu kuliner khas kota Bandung. Sedang hal keempat adalah bangunan-bangunannya yang masih berarsitektur Belanda, yang membuat saya betah memandangnya.

Hingga saat ini, keinginan saya untuk kembali mengunjungi kota Bandung masih tetap berkobar. Apalagi kini Bandung sudah semakin cantik dengan adanya berbagai fasilitas yang baru dibangun. Selain itu juga masih ada banyak tempat-tempat yang rasanya ingin saya kunjungi. Sebut saja Kawah Putih Ciwidey, Lembang Floating Market, Wisata Air Panas, dan berbagai tempat wisata lainnya di Bandung. Ah, semoga saja keinginan saya ini bisa terwujud nanti.

NB : Tulisan ini rencananya mau diikutkan dalam Give Away Unforgettable Bandung. Sayang saya tak bisa menyelesaikan tulisan ini di rumah.

0 thoughts on “Sejenak Mengenang Bandung

  1. saya lupa kalau saya juga pernah ke tangkuban perahu waktu di SD 😀

    yah, sayang sekali nggak diikutkan mbak… yang jejak kaki misterius juga nggak yah?

  2. wah, nyaman bngt baca tulisannya, eh ternyata saat baca diakhir tulisan ini gak jadi ikut dilombakan,

    smoga lain kesempatan bisa ikut mbak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *