Sebulan Berlayar

Jam di ruangan tengah menunjukkan angka lima tiga puluh. Di hadapan saya tampak bumbu dapur yang masih harus dihaluskan. Sementara pada kompor gas yang menyala seekor nila sedang dipanggang di atas wajan happycall. Di kompor yang lainnya, sebuah penggorengan sudah mulai memanas permukaannya.

Saya mulai panik! Sementara bumbu masih harus dihaluskan, saya juga harus menyiapkan teh panas untuk berbuka. Akhirnya saya pun berdiri. Sebelumnya saya kecilkan terlebih dahulu api kompor yang sedang menyala. Saya kemudian berjalan menuju kamar tengah. Di sana tampak suami saya sedang terlelap.

“Mas, tolongin aku,” kata saya pada suami yang sedang istirahat sore. Suami saya terbangun. Dilihatnya saya dengan tampang awut-awutan. Belum lagi suami saya beranjak dari tempat tidur, saya sudah setengah berlari kembali ke dapur.

Tak lama suami bergabung dengan saya di dapur. Sementara saya menyelesaikan sayur yang ingin dibuat, ia membantu menggoreng ikan seluang yang sudah saya bumbui beberapa jam sebelumnya. Tak lama kemudian, menu berbuka pun siap disajikan. Ikan nila bakar dengan sayur daun singkong santan plus ikan seluang goreng kering.

***

Satu bulan sudah saya menjalani kehidupan baru sebagai seorang istri. Tentunya ada banyak hal baru yang saya dapatkan semenjak perubahan status ini. Yang pertama jelas sekarang saya tidak tidur sendirian lagi (uhuk). Selain itu kewajiban baru sebagai seorang istri juga sudah diletakkan di pundak saya. Sama seperti suami yang kini memiliki tanggung jawab baru pada saya sebagai istrinya

Kata orang, pernikahan merupakan proses ta’aruf yang sebenarnya antara sepasang suami istri. Saya dan suami sendiri, meski sudah saling kenal selama empat tahun, namun tak pernah benar-benar akrab. Setelah menikah, kami pun mulai beradaptasi dengan karakter dan kebiasaan masing-masing.

Ada cukup banyak perbedaan antara saya dan suami. Lucunya, kadang saya merasa suami lebih banyak lebihnya ketimbang saya. Contohnya seperti yang saya ceritakan di atas. Karena terbiasa jauh dari orang tua, maka suami saya cukup handal dalam memasak. Adapun saya, hanya akan ke dapur jika ibu saya tidak ada di rumah. Alhasil, ketika harus menyiapkan menu berbuka sendirian, saya kewalahan.

Saya sendiri sempat kaget ketika mengetahui bagaimana suami saya ternyata melebihi ekspektasi yang pernah saya pikirkan terhadapnya. Kadang saya juga merasa takut dia akan kecewa mendapati istrinya yang mungkin bukanlah tipe idealnya. Namun di lain pihak saya juga merasa beruntung karena mendapat suami sepertinya. Semoga saja suami saya cukup sabar dalam membimbing saya sebagai istrinya.

Satu bulan sudah kapal kami berlayar. Saya berharap ke depannya kami bisa melewati setiap ombak yang menghadang perjalanan kami berdua.

27 thoughts on “Sebulan Berlayar

  1. Saya doakan semoga rumah tangganya sejahtera, rukun, dan langgeng terus sampai seterusnya ya Mbak :hehe. Berkesan sekali tentunya, pengalaman-pengalaman pertama dalam melayani suami sebagai seorang istri :)). Hal-hal sederhana yang dulu kita biasa lihat ibu dan ayah lakukan dalam mengisi keseharian, memang akan jadi sangat berbeda ketika kita sendiri terlibat di dalamnya sebagai pemeran utama :)).

    Sangat memperkaya!

  2. Saya doakan moga langgeng Mbak *kok saya jadi copypaste Gara sih*

    Saya sendiri penasaran sebenarnya yang menikah dengan proses ta’aruf seperti Mbak. Well, selama komunikasi lancar kayaknya gak masalah kan mbak?

  3. wah…. istri di rumah belum dibelikan happycall 😀

    ya mungkin itu hikmahnya mendapatkan jodoh sebulan yang lalu… dapat yang lebih baik daripada ekspektasi

  4. Wah, goreng kering ikan seluang enak sekali. Saya sampai kirimkan buat keluarga sewaktu saya di Banjarmasin. Padahal belinya jauh di Serongga, Batu Licin sana.

    Suami istri itu harus saling membantu, saling berbagi dan menghormati satu sama lain. Kalo ada salah satu yang dominan pasti gak happy.
    Semoga tetap samara, aamin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *