Saat Saling Gigit dan Cakar

Terdapat beberapa momen yang ingin diingat oleh setiap pasangan. Setelah bertemu orang itu untuk pertama kalinya saat kita menjadi buta tidak bisa melihat apapun, dan hanya melihat orang itu. “Dialah orangnya.”

Perasaan bahwa orang ini adalah segalanya bagiku di dunia ini. Menjadi orang yang paling penting bagi satu sama lain mereka menjadi pasangan suami isteri.

Tentu saja, saat kita mulai hidup bersama, mata kita terbuka,dan kita saling menggigit, merobek dan mencakar satu sama lain. Tapi tetap saja, karena adanya momen-momen berharga itu bukankah kita bertahan selama masa-masa sulit kita?

Kutipan di atas saya dapatkan dari drama Korea Cunning Single Lady. Saat itu, Na Ae Ra, tokoh utama perempuan sedang melakukan presentasi tentang produk yang ditawarkan perusahaan tempatnya bekerja. Entah mengapa, monolog yang disampaikan Na Ae Ra tersebut sangat mengena di hati saya. Seolah semakin menegaskan bahwa pernikahan bukanlah hal yang main-main.

Selama ini untuk memotivasi orang-orang yang belum menikah, mereka yang sudah menikah akan mengatakan kalau menikah itu menyenangkan. Bahkan sampai ada candaan yang begitu terkenal, “Menikah itu cuma 1% enaknya dan 99%nya enak banget.” Siapa coba yang belum pernah mendengar candaan tersebut?

Tentunya tidak ada yang salah dengan candaan tersebut. Namun seiring bertambahnya umur, saya sadar bahwa hal tersebut hanya merupakan kulit luar dari pernikahan. Masih ratusan kulit lain yang tidak diketahui kecuali seseorang menjalani sendiri pernikahan tersebut. Ada ego yang harus dikalahkan, juga berbagai kompromi agar pernikahan yang dijalani bisa tetap langgeng.

Salah satu senior di kantor pernah membagi pengalamannya tentang pernikahan. Saat itu beliau sedang membahas kasus-kasus perselingkuhan yang terjadi di dunia kerja. “Kau tak mungkin mengharapkan pasanganmu akan tetap sama seperti saat kau pertama kali bertemu dengannya. Karena itu, saat fisik pasanganmu mulai berubah, ingatlah saat pertama kalian jatuh cinta,” begitu kira-kira pesan yang disampaikan oleh senior tersebut.

Dalam buku-buku pernikahan yang pernah saya baca pun memberikan tips yang senada seputar pernikahan. Dalam pernikahan kita harus terus berusaha untuk menumbuhkan cinta di dalamnya. Ada juga yang berkata pernikahan itu tak melulu soal cinta, namun juga kerja sama. Dan saya setuju dengan pendapat tersebut.

37 thoughts on “Saat Saling Gigit dan Cakar

  1. benar sekali, mbak ayana 😀
    nikah ga melulu tentang hal2 yang menyenangkan. tapi juga bertahan dengan mengompromikan hal2 yang tidak menyenangkan 😀
    salam kenal ya mbak 😀

  2. drama korea chunning single lady aku dh ntn,bagus ceritanya 😀
    klo menurut aku (orng baru dlm dunia pernikahan) ya perkawinan adalah proses saling mengenal terus menerus (5 tahun pacaran dan 1 tahun sudah menikah) masih aja ada kejutan2 baru yg belum pernah di lihat sebelum menikah 🙂

  3. iya mbak..candaan seperti itu bisa nyindir yang belum nikah
    padahal kan yang seharusnya disindir tuh yang pacaran aja tapi gak nikah nikah
    kasian yang jomblo

  4. Saya belum nikah jadi baca ini malah jadi informasi baru :hehe
    Tapi melihat orang tua yang sudah menikah sekitar 25 tahun dan sekarang pun masih bersama, saya jadi sadar kalau cinta itu tidak mesti berapi-api, tapi lebih pada rasa sayang untuk menghabiskan hari-hari 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *