Rumah Impian

Mobil yang membawa saya melaju di sepanjang jalan kota Banjarbaru. Hari itu adalah untuk kesekian kalinya saya berkunjung ke kota tetangga tersebut dan bertamu di rumah salah satu rekan kerja. Jika pada kunjungan pertama saya datang sendiri, maka pada kunjungan kedua ini saya membawa seorang kakak yang juga rekan kerja kami di kantor.

Saat melewati sebuah tempat penjual tanaman, tuan rumah kami spontan berkata, “Kita nanti mampir ke sini, ya nanti. Aku mau beli bibit tanaman untuk rumahku.”

Saya hanya diam mendengar ajakannya. Selain karena saya berdomisili di Banjarmasin, saya juga belum menikah dan memiliki rumah sendiri layaknya dua orang yang bersama saya hari itu.

Usai makan siang di salah satu kedai ayam goreng yang cukup ternama di Banjarbaru, kami pun kembali menuju kediaman tuan rumah. Sebelum tiba di rumah, tak lupa kami mampir ke tempat penjual tanaman yang kami lewati dalam perjalanan sebelumnya.

Ada banyak bibit tanaman di tempat itu. Kebanyakan yang dijual adalah bibit buah-buahan seperti mangga dan jambu. Ada juga beberapa bibit tanaman hias untuk halaman rumah. Mendadak saya teringat ketika bertahun yang lalu bisnis tanaman hias begitu populer. Beberapa jenis tanaman hias harganya begitu tinggi hingga bisa membuat kaya raya penjualnya. Dan kini bibit tanaman hias yang sempat terkenal itu tak saya temukan di tempat yang kami singgahi.

Setelah memilih dan tawar menawar dilakukan, kami semua pulang dengan membawa beberapa bibit tanaman di bagasi mobil. Tuan rumah kami membeli satu bibit mangga, satu bibit tanaman hias, serta tanah pupuk untuk halaman rumahnya. Sementara kakak yang menemani saya ke Banjarbaru juga membeli satu bibit mangga untuk rumahnya. Kebetulan rumah miliknya bersisian dengan rumah tuan rumah. Rumah tersebut kini dikontrakkan pada sebuah keluarga yang berprofesi sebagai pedagang.

Setiba di rumah, langsung saja kami mengeluarkan bibit-bibit tanaman tersebut. Tuan rumah kami segera menyusun bibit-bibit yang ia beli di halaman rumahnya. Sementara bibit yang lain langsung dibawa menuju rumah sebelah untuk dititipkan pada pengontraknya.

Sambil memandangi halaman rumah yang ditumbuhi aneka tanaman, pikiran saya melayang. Sejak dulu saya selalu senang mengamati aneka model rumah. Saat masih kuliah, kerap saya melewati jalan-jalan di kota Banjarbaru yang dijejeri rumah-rumah dengan desain yang keren di mata saya. Sambil melambatkan motor, saya menatap rumah-rumah tersebut sambil berkhayal kelak bisa memiliki rumah seperti itu juga.

Adapun untuk model rumah, entah kenapa saya selalu berangan-angan memiliki sebuah rumah bertingkat dengan balkon di lantai duanya. Saya juga ingin memiliki kebun yang cukup luas untuk rumah saya nantinya. Hal yang sepertinya agak susah diwujudkan mengingat bagaimana harga properti sekarang.

Di Banjarmasin sendiri, agak sulit menemukan rumah dengan halaman yang luas dan penuh tanaman. Mungkin karena pola kehidupan di kota ini yang lebih dekat dengan sungai. Rumah orang tua saya sendiri juga berada di pinggir sungai. Dulunya sungai di belakang rumah tersebut cukup luas dan nyaman untuk berenang. Namun seiring perkembangan waktu, sungai itu kian menyempit hingga kami bisa saling menyeberang ke dapur tetangga.

Pada akhirnya, apapun model rumah yang saya miliki nanti, satu harapan saya. Rumah tersebut bisa menjadi tempat yang selalu nyaman bagi saya dan anggota keluarga saya nantinya.

27 thoughts on “Rumah Impian

  1. Aamiin…

    Duluuu teteh juga pengeeen punya rumah dgn halaman yang luas gitu, sekarang dapat rumah alhamdulillah meski tidak punya halaman lias, tetep terasa lapang dan bikin adem tinggal didalamnya ..:)

  2. Aku juga suka mbak rumah berlantai dua dg halaman yg luas, tapi sepertinya agak lama mewujudkannya karena kami baru memulai kehidupab baru dan harus menabung dulu…

  3. dulu jaman kuliah kepikiran desain2 rumah impian tapi skrg kok engga. kredit rumah kalo ngga dipaksa orang tua mungkin ngga ambil . apa karena keseringan hidup di jalan ya? tapi jujur tempat paling nyaman di rumah orang tua. tempat paling nyaman utk tidur seharian , leyeh2 ngga ngapa2in

  4. rumah dengan halaman luas penuh tanaman juga rumah impianku, tapi tetap bersyukur dengan rumah sekarang yang mungil… insya Allah semoga impian nya terwujud ya mba

  5. Kebetulan sekarang kami juga lagi merenovasi rumah, penginnya sih punya halaman luas kayak rumah mertua di desa namun kalau di kota agak susah, kalaupun ada pasti mahal harga rumahnya. semoga impian Yana bisa segera terwujud ya, aamiin.

  6. tapi ingat pepatah:
    “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.”
    punya orang pasti selalu terlihat lebih menarik.

    salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *