Roadshow Film Tausiyah Cinta

Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah pengumuman dari sebuah komunitas di laman facebook saya. Pengumuman tersebut memberitahukan adanya acara Nobar, Meet & Greet sebuah film berjudul Tausiyah Cinta. Dalam poster yang ditampilkan, tampak wajah salah satu pemeran utama filmnya yang bernama Hamas Syahid yang saya ketahui terpilih memerankan Mas Gagah dalam film Ketika Mas Gagah Pergi.

poster acara
poster acara

Begitu membaca pengumuman tersebut, saya pun langsung menghubungi salah seorang teman yang juga menjadi salah satu panitia dalam acara tersebut. Maklumlah, saya juga penasaran dengan kegantengan dek Hamas yang fotonya mulai wara-wiri di blog saya.

Dari Yuli -begitu namanya- saya mengetahui kalau selain meet and greet juga ada workshop film yang diadakan setelah acara roadshow. Tentunya harganya berbeda dengan jika hanya mengikuti acara Meet and Greet saja. Berhubung saya juga tertarik dengan proses pembuatan film, maka saya dan suami pun memilih tiket B untuk acara meet and greet plus workshop. Harga tiket untuk acara tersebut adalah tujuh puluh lima ribu rupiah per orang.

Minggu, 20 September, acara roadshow diselenggarakan di Aula Bappeda Provinsi Kalimantan Selatan. Berhubung harus menghadiri walimahan salah satu tetangga di gang, saya dan suami datang sedikit terlambat. Akibatnya saya tidak sempat ikut menonton film pendek berjudul #HKS yang juga diputar dalam acara tersebut. Meski begitu saya sudah cukup puas bisa menyaksikan secara langsung diskusi dan tanya jawab seputar film yang akan tayang sekitar akhir tahun ini.

foto dulu di depan
foto dulu di depan

Acara hari itu dihadiri oleh sutradara dan salah satu pemeran utama film Tausiyah Cinta, yakni mas Humar Hadi dan Hamas Syahid (yang gantengnya memang maksimal). Selain itu hadir juga salah satu produser dari film Tausiyah Cinta. Film Tausiyah Cinta sendiri diangkat dari sebuah buku berjudul berjudul sama yang berisi kumpulan twit tentang cinta dan diproduksi oleh BedaSinema.

Dalam bincang-bincang hari itu para tamu yang datang bercerita tentang proses pembuatan film Tausiyah Cinta. Sutradara misalnya, beliau bercerita tentang sulitnya mencari tokoh Azka yang diperankan oleh Hammas. Lalu ada produser bercerita tentang rasa pesimis yang sempat mampir di benak beliau akan prospek film Tausiyah Cinta. Hamas sendiri selaku pemeran utama paling banyak ditanyai hari itu. Ya, maklum lah ya, sosoknya memang menjadi magnet utama acara ini.

Selain menjawab pertanyaan para peserta (yang kebanyakan perempuan), Hamas juga menampilkan kemampuannya menghafal  al qur’an lewat kuis-kuis yang diadakan di akhir acara. Duh, sudah ganteng, hafal qur’an pula. Akhwat mana yang tidak terpesona? 😀

tanya jawab
tanya jawab
acara bincang-bincang
acara bincang-bincang

Usai salat dzuhur, acara dilanjutkan dengan workshop film. Untuk acara kedua ini, tak banyak lagi peserta yang ikut. Dalam workshop ini bang Humar memaparkan beberapa hal penting dalam pembuatan sebuah film. Di antara poin-poin tersebut antara lain menentukan ide, menentukan target penonton, proses pra produksi, editing dan promosi.

Selain memaparkan sedikit teori pembuatan film, para peserta juga diberi kesempatan untuk melihat langsung proses pembuatan sebuah adegan. Untuk penyampaian materi ini, lagi-lagi Hammas ditantang untuk menunjukkan kemampuan aktingnya bersama dua orang peserta workshop. Lalu bagaimanakah kemampuan akting seorang Hamas? Mungkin nanti bisa saya tampilkan dalam postingan yang lain.

Ba’da Ashar, acara hari itu pun selesai. Layaknya peserta lainnya, saya pun dengan bersemangat mendatangi Hammas untuk foto bareng. Sayangnya, saking fokusnya sama Hamas saya sampai lupa foto bareng sutradaranya (maaf ya mas Humar). Foto pun diambil. Begitu melihat hasilnya, saya hanya bisa mengurut dada melihat betapa kucelnya saya di samping Hamas 😀

DSC02373
Mas Humar menjelaskan proses pembuatan film
praktik bikin
praktik bikin adegan film
foto bareng dulu
nggak sah kalau nggak foto sama artisnya 😀

0 thoughts on “Roadshow Film Tausiyah Cinta

  1. Ketika Cinta Bertasbih, saya nonton filmnya.
    Lalu menyusul Ayat-ayat cinta, kemudian Ketika cinta bertasbih 2 dan sekarang tausiyah cinta. Satupun saya belum tonton, kecuali teasernya hehe…
    Saya merasa gak berminat kalo cinta difilmkan dan dibuat judulnya berbau ibadah begitu.

    • Saya juga yang nonton di bioskop cuma ayat-ayat cinta, mas. Heu. Yah saya sendiri juga kadang ngerasa skeptis begitu kalau nonton film berbau religi soalnya biasanya ceritanya “terbatas”. Lebih senang sama film berbau religi yang dibikin bang dedy mizwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *