[Review] The Man Who Knew Infinity

Srinivasa Ramanujan adalah seorang ahli Matematika yang berasal dari Madras, India. Dianugerahi otak jenius, dia menghabiskan waktunya untuk menulis berbagai macam teori Matematika. Saking cintanya pada angka, sang istri sempat berkata kalau Ramanujan lebih mencintai angka ketimbang orang.

Setelah dirinya diterima bekerja sebagai tukang ketik di sebuah institusi, Ramanujan disarankan melakukan korespondesi dengan pihak Universitas Cambrige. Adalah G. H. Hardy, salah satu pengajar di Universitas Cambrigde yang kemudian menerima surat berisi catatan rumus-rumus Ramanujan. Hardy yang terpukau dengan rumus-rumus tersebut memutuskan mengundang Ramanujan ke negeri ratu Elizabeth.

Perjuangan Ramanujan untuk diakui tentunya tidaklah mudah. Selama berada di Universitas Cambridge, Ramanujan diminta untuk menghadiri perkuliahan agar dirinya bisa meningkatkan pengetahuannya. Hal ini sempat menjadi masalah karena ternyata Ramanujan malah mempermalukan profesor yang mengajarnya. Profesor Hardy sendiri bisa dibilang bukan mentor yang menyenangkan bagi Ramanujan. Ia terus-menerus meminta Ramanujan untuk membuktikan teorinya sementara Ramanujan merasa teorinya sudah cukup benar untuk dipublikasikan.

Perang Dunia I bisa dibilang menjadi titik terendah dalam kehidupan Ramanujan. Hilangnya kontak dengan sang istri serta vonis tubercolosis yang diterimanya sempat membuat Ramanujan berniat mengakhiri hidupnya. Di saat inilah kemudian hubungannya dengan profesor Hardy malah membaik. Profesor Hardy bahkan mengusahakan agar Ramanujan bisa diterima menjadi salah satu anggota Trinity College di Universitas Cambridge.

Sayangnya, meski akhirnya permohonan keanggotaan Ramanujan dipenuhi, kondisi fisiknya yang buruk membuatnya harus kembali ke negaranya. Ramanujan sendiri kemudian meninggal hanya setahun setelah kepulangannya ke India. Meski begitu, di usianya yang tak lama, Ramanujan telah berhasil menorehkan namanya sebagai salah satu ahli Matematika yang berpengaruh dari India.

***

The Man Who Knew Infinity merupakan film biopic kesekian yang saya tonton di tahun 2016 ini. Beberapa waktu terakhir, saya memang tertarik menonton film-film yang berbau kisah nyata dari berbagai tokoh atau kejadian tertentu. Dari film-film biopic ini saya jadi mendapat pengetahuan baru tentang tokoh-tokoh atau kejadian bersejarah yang terjadi di belahan dunia. Selain itu, saya juga menikmati nuansa nostalgia yang kerap disajikan film-film biopic.

Untuk film The Man Who Knew Infinity sendiri, saya dikenalkan pada seorang ahli Matematika bernama Srinivasa Ramanujan. Mungkin kalau ada pembaca yang kuliah di jurusan Matematika pernah mendengar nama ini. Kalau saya sih ya pasti belum. Heu.

Ceritanya sendiri langsung dimulai dari Ramanujan yang sudah dewasa. Jujur ini membuat saya sedikit bingung karena saya benar-benar buta dengan sosok Ramanujan. Beruntung ada Wikipedia yang cukup membantu saya mengetahui biografi dari tokoh ini.  Hal lain yang membuat film ini terasa janggal bagi saya adalah beberapa dialog yang (mungkin) berbahasa Tamil tapi didialogkan berbahasa Inggris. Mungkin memang benar sih Ramanujan berbicara bahasa Inggris kepada istri dan ibunya, tapi ya tetap berasa janggal aja melihatnya. Untuk porsi yang tak banyak, seharusnya tak apa ya menggunakan bahasa asli dari tanah kelahiran Ramanujan.

Terlepas dari beberapa hal yang mengganjal ini, saya tetap merasa mendapat tambahan wawasan baru dari film The Man Who Knew Infinity. Melalui sosok Ramanujan, kita bisa melihat bagaimana seorang jenius tetap harus berusaha keras untuk membuktikan keberadaannya.

Judul film : The Man Who Knew Infinity

Produser : Edward R. Pressman, Jim Young, Joe Thomas, Mark Montgomery (Executive Producer)

Sutradara : Matthew Brown

Naskah : Matthew Brown, diadaptasi dari buku The Man Who Knew Infinity karangan Robert Kanigel

Pemeran : Dev Patel, Jeremy Iron, Devika Bhise, Toby Jones, Stephen Fry

Durasi : 108 menit

Produksi : 2015

Rating : 3,5/5

14 thoughts on “[Review] The Man Who Knew Infinity

  1. waktu saya baca beberapa frasa awal tadi.. saya langsung mikir,
    “Kok ini film rasanya kayak cerita si jenius matematika (lupa namanya) dari India itu ya??”
    Ternyata benar ini film kisah nyata itu. memang sempat booming beberapa tahun lalu berita soal Ramanujan, pria India yang super jenius dalam hal matematika dan sempat “konflik” dengan Cambridge.
    Katanya nilai ujiannya dia yang lain nggak bagus, cuma nilai matematikanya sempurna.

    Apa penggambaran rumus-rumusnya nggak bikin monoton Mbak?? Semoga aja diimbangi dengan latar suasana-emosional yang mendukung! 🙂
    Good revieww.. sayang saya sukanya horror :p wekekek

    • penggambaran rumusnya nggak terlalu banyak kok. yang dibahas itu cuma soal partisi dan itu juga penjelasannya sederhana. kalau yang rumit cuma dilihatkan rumusnya. selebihnya kayak film drama umumnya aja
      wah, saya malah paling malas nonton horor. heu

  2. Waaa… idem. Saya suka film yang mengangkat orang-orang hebat di masa lalu. Sepertinyamasuk radar buat kutonton ini.

    Kebetulan saya lagi baca A Beautiful Mind.

  3. drama tentang ilmuwan itu menarik, mereka kebanyakan nyentrik, harus sedikit berkerut saat menonton, spt theory of everything…moga2 sempat nonton film ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *