[Review] Talak 3

Beberapa waktu lalu, saya menonton film Talak 3 yang dibintangi Laudya Cynthia Bella, Vino G. Bastian dan Reza Rahadian. Mulanya saya tak memiliki ekspektasi tinggi terhadap film garapan Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth ini. Nyatanya, sejak awal film saya sudah dibuat terpingkal-pingkal dengan unsur komedi yang diselipkan dalam film ini. Akting dari ketiga pemeran utamanya juga terbilang sangat baik.

Kisah dari film ini sendiri bermula dari perceraian yang terjadi antara Bagas dan Risa. Sebelum bercerai, Bagas dan Risa adalah sepasang suami istri yang berprofesi sebagai wedding organizer. Gara-gara Bagas terlibat perselingkuhan dengan seorang artis dangdut, keduanya memutuskan bercerai. Permasalahan timbul ketika rumah yang mereka beli akan disita karena keduanya tak mampu melunasinya. Tak ingin kehilangan rumah tersebut, Bagas dan Risa pun memutuskan untuk rujuk kembali. Toh sebenarnya di antara keduanya masih ada api cinta yang bersemayam.

Sayangnya ada satu masalah yang membuat Bagas dan Risa tidak bisa langsung rujuk. Saat proses perceraian, Bagas ngotot menjatuhkan talak 3 pada Risa. Berdasarkan hukum Islam, seorang wanita yang sudah ditalak tiga tidak bisa langsung dinikahi kembali oleh mantan suaminya. Harus ada pernikahan kembali si mantan istri dengan pria lain dan kemudian bercerai. Itu pun prosesnya harus alami dan bukan rekayasa.

Karena tak ingin repot, Bagas pun melakukan berbagai cara agar dirinya dan Risa bisa berstatus suami istri kembali. Mulai dari membuat surat nikah palsu, hingga mengubah identitas keduanya dan menikah kembali di KUA. Sayangnya kedua rencana tersebut gagal total karena ada seorang petugas KUA yang sangat jujur dan menolak aneka bentuk penyuapan. Bagian di KUA inilah yang kemudian sukses membuat saya ngakak. Hehehe.

Habis akal, Bagas akhirnya menyarankan agar mereka mencari pria yang bersedia menikahi Risa kembali. Setelah mencari ke sana ke mari, pilihan terakhir akhirnya jatuh pada Bimo. Bimo sendiri adalah sahabat Risa sejak kecil. Sehari-harinya, ia bekerja membantu bisnis wedding organizer milik Bagas dan Risa.

Bimo yang awalnya menolak rencana tersebut, akhirnya setuju untuk menikahi Risa. Berdua Risa, ia pun mulai menjalankan rencana memulai pernikahan. Belakangan Risa mengetahui kalau ternyata Bimo sudah mencintainya sejak lama. Risa yang tak nyaman meminta Bimo membatalkan ketersediaannya. Hal ini kemudian menyulut api pertengkaran antara Bagas, Risa dan Bimo. Di pihak Risa sendiri, pertengkarannya dengan Bagas semakin membuatnya ragu untuk bisa kembali bersama mantan suaminya itu.

***

Saat membaca premis film ini, jujur saya langsung teringat dengan sebuah film India yang saya tonton puluhan tahun lalu. Ceritanya tentang seorang wanita dicerai talak tiga, namun sang suami ingin rujuk dengannya. Bedanya, jika di Talak 3 Bagas dan Risa harus berusaha mencari suami untuk Risa, dalam film India ini, wanita yang dicerai itu setelah bercerai langsung menikah dengan seorang teman kuliahnya. Setelah saya cari-cari di internet, saya ketahui kalau judul film India tersebut adalah Nikaah, produksi 1982.

Terlepas dari kemiripan premis dari kedua film ini, saya tetap merasa terhibur dengan kehadiran film Talak 3 ini. Naskah yang ditulis Salman Aristo terasa rapi, berimbang antara komedi dan dramanya. Setting Yogyakarta yang digunakan juga membuat film ini memiliki nuansa yang berbeda. Hal lainnya yang saya acungi jempol, sepanjang film ini, saya kesulitan mencari Product Placement yang biasanya suka tiba-tiba nongol di adegan itu. Salut deh sama yang bikin filmnya. Pada akhirnya, selain ingin mengusung pesan Islami dalam ceritanya, film Talak 3 ini juga berusaha menyampaikan makna keikhlasan pada kita.

Judul Film : Talak 3

Produser : Manoj Punjabi, Hanung Bramantyo

Sutradara : Hanung Bramantyo, Ismail Basbeth

Skenario : Salman Aristo

Pemeran : Laudya Cynthia Bella, Vino G. Bastian, Reza Rahadian

Durasi : 157 menit

Rating : 4/5

19 thoughts on “[Review] Talak 3

  1. aku liat trailernya waktu nonton film-entah-judulnya-apa
    aku sempet ragu sama sutradaranya yang terkenal rada nyeleneh.
    ternyata bagus juga ya ceritanya.
    alhamdulillah, film2 Indonesia makin banyak yang berbobot. yey!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *