[Review] Nil Battey Sannata

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton sebuah film Bollywood bertema keluarga yang sukses menyentuh hati. Film ini bercerita tentang kehidupan seorang ibu dan anak gadisnya yang beranjak remaja. Chanda, nama si ibu, adalah seorang ibu muda yang tinggal hanya berdua dengan putrinya yang bernama Apeksha (Apu). Sehari-hari ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman seorang dokter. Selain itu, Chanda juga mengambil beberapa pekerjaan lainnya di sore hari untuk menambah pemasukan bagi dirinya dan putri semata wayangnya.

Dengan latar belakang dirinya yang tak lulus SMA dan hanya bekerja sebagai pembantu, wajar jika Chanda mengharapkan sang putri bisa lebih sukses darinya. Ironisnya, Apu malah sepertinya tak memiliki keinginan untuk menjadi seorang yang berhasil. Dalam pelajaran sekolahnya, Apu nyaris tak pernah berusaha untuk memperbaiki nilainya, terutama dalam Matematika. Bahkan saat Chanda bertanya apa rencana ke depan Apu, sang putri dengan santai menjawab akan menjadi pembantu sama seperti ibunya.

Merasa khawatir dengan masa depan sang putri, Chanda meminta saran kepada dokter Diwan, majikan tempatnya bekerja. Mulanya Chanda disarankan untuk memasukkan Apu ke tempat kursus. Namun karena keterbatasan biaya, rencana tersebut tidak terlaksana. Dokter Diwan memberikan usulan lain. Chanda diminta bersekolah di sekolah Apu, dengan begitu Chanda bisa mengajari Apu pelajaran Matematika tanpa perlu memikirkan masalah biaya.

Meski terdengar gila, namun pada akhirnya Chanda setuju dengan usul dokter Diwan. Entah bagaimana caranya, Chanda pun diterima bersekolah di sekolah yang sama dengan putrinya. Tentunya tak ada yang mengetahui statusnya sebagai ibu dari Apu. Sama seperti putrinya, Chanda sempat mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran Matematika. Namun tekad yang kuat membuat Chanda tak mau menyerah. Ia kemudian mendekati salah satu siswa terpandai di kelas dan mulai belajar darinya. Perlahan, Chanda pun mulai bisa memahami Matematika bahkan mendapatkan nilai yang cukup baik saat ujian.

Keberhasilan Chanda memperoleh nilai yang baik dalam pelajaran matematika rupanya berhasil membuat Apu “panas”. Ia pun menerima tantangan sang ibu untuk bisa memperoleh nilai yang lebih baik darinya di ujian mendatang. Apu pun mulai belajar keras. Dan nyatanya, di ujian berikutnya Apu benar-benar berhasil memperoleh nilai yang lebih baik dari sang ibu.

Sayangnya, di balik usaha kerasnya, Apu memiliki tujuan lain dari usahanya memperbaiki nilai. Apu ternyata belajar keras agar ibunya berhenti mengikutinya bersekolah, seperti yang dijanjikan Chanda saat menantang Apu. Chanda tentu sangat sedih saat mengetahui kenyataan ini. Apalagi dia sudah bermimpi sang putri akan menjadi seorang pegawai negara dengan nilainya yang semakin membaik. Puncak dari konflik antara ibu dan anak ini terjadi ketika Apu mencuri seluruh tabungan ibunya untuk dibelikan barang-barang mahal. Apakah akhirnya Chanda bisa mengubah pemikiran putri kesayangannya itu?

***

Kalau ditanya bagaimana kesan saya saat menonton Nil Battey Sannata ini maka jawabannya adalah trenyuh. Chanda dalam film ini bisa jadi mewakili sosok ibu-ibu tunggal lainnya yang rela bekerja nyaris tiada henti demi putrinya. Sosok sang putri dalam film ini juga digambarkan dengan sedikit berbeda. Alih-alih menampilkan sosok remaja yang memiliki mimpi, Apu dalam film ini digambarkan tak memiliki mimpi ataupun cita-cita. “Tak ada mimpi bagi orang miskin,” begitu katanya. Jujur ada rasa sebal saat melihat kelakuan Apu dalam film ini.

Judul : Nil Battel Sannata

Produser : Aanand. L. Rai, Ajay G Rai, Alan Mcalex

Sutradara : Ashwini Iyer Tiwari

Skenario : Ashwini Iyer Tiwari, Neeraj Singh, Pranjal Choudhary, Nitesh Tiwari

Pemeran : Swara Bhaskar, Ria Shukla, Ratna Pathak

Durasi : 104 Menit

Produksi : 2016

Rating : 4/5

18 thoughts on “[Review] Nil Battey Sannata

  1. aduh termehek-mehek nonton ini mbaak .. ehh emang saya ding yang suka mewek nonton drama apa aja ahahah… aihh akhirnya ketemu penggemar India juga.. ada satu lagi mbak ttg guru sekolah yg bersahaja, tapi lupa judulnya, pas itu saya nonton di pesawat Qatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *