Resepsi Pernikahan

Setelah resmi menjadi suami istri pada 20 Mei lalu, akhirnya resepsi pernikahan saya dilangsungkan pada 7 Juni 2015. Meski masih dalam suasana berduka setelah kepergian abah beberapa hari sebelumnya, alhamdulillah acara tetap bisa berlangsung dengan lancar.

Sejak awal, mama memang bersikeras agar resepsi pernikahan saya diselenggarakan di rumah saja. Selain karena pertimbangan biaya, juga kondisi abah (yang kala itu masih sakit), mama juga sepertinya agak kapok dengan pernikahan yang diselenggarakan di gedung saat adik saya dulu menikah.

Pemilihan tanggal 7 Juni sebagai hari resepsi pernikahan sendiri sebenarnya lebih karena alasan teknis. Salon yang diinginkan Mama untuk merias saya sudah kepenuhan job di bulan Mei. Akhirnya resepsi yang mulanya akan digelar tanggal 24 Mei harus dimundurkan ke tanggal 7 Juni. Itu artinya mertua saya tidak bisa menghadiri pernikahan kami dan hanya datang di hari resepsi.

Persiapan acara resepsi sendiri dimulai tiga hari jelang acara. Hari Kamis pihak salon datang ke rumah untuk menghiasi kamar saya juga pelaminan di ruangan tengah. Besok harinya beberapa anggota keluarga datang untuk membantu persiapan acara. Hari Jum’at itu juga kedua mertua plus adik bungsu suami tiba di Banjarmasin. Sayang karena harus mempersiapkan acara di rumah saya tak bisa turut menjemput mereka di bandara.

Hari Sabtu, persiapan resepsi pernikahan mencapai puncaknya. Tenda dipasang di jalan menuju rumah orang tua saya. Tak lupa juga tentunya pelaminan di depan rumah. Di rumah tetangga, beberapa ibu-ibu sibuk memasak untuk konsumsi acara keesokan harinya. Di dalam rumah sendiri tentu tak kalah sibuknya dengan berbagai macam hal yang harus disiapkan.

Untuk resepsi pernikahan ini sendiri, saya memilih mengenakan pakaian adat Banjar dan gaun modern. Sejak dulu saya memang berniat untuk mengenakan pakaian adat Banjar jika menikah. Saya ingin tahu bagaimana rasanya mengenakan hiasan kepala yang katanya berat itu. Dan ternyata memang benar! Hiasan kepalanya sukses membuat saya mual-mual 😀

Untuk mengenakan hiasan kepala ini sendiri, pertama-tama rambut saya dipasangi gadang pisang. Kemudian rambut saya ditutupi kerudung, baru kemudian dipasang lagi hiasan melatinya. Karena beratnya hiasan kepala tersebut, saya hanya bisa bertahan mengenakannya selama 3 jam saja.

0 thoughts on “Resepsi Pernikahan

  1. Kebersamaan keluarga memang terasa betul saat persiapan hajatan besar. Bagaimana semua keluarga saling membantu dengan semua dinamikanya menjadi hal yang menarik sekali buat diselami, apalagi dengan kebahagiaan ketika seluruh rangkaian acara berjalan dengan lancar :)).

    Saya suka riasannya, membuat pangling! Dan khas Banjar ini ya, Mbak, sesuatu yang tumben saya lihat. Saya akan sangat berterima kasih kalau ada sedikit ulasan tentang ritual pernikahan adat Banjar :)). Tapi pertama-tama, selamat atas pernikahannya yang sukses, turut berduka cita juga atas kepergian ayah Mbak, semoga beliau mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.

  2. Maaf, Ka. Kada bisa datang. Ulun sudah bulik ke kaltim akhie mei. Btw.. Sama, Ka. Ulun penasaran jua lawan pakaian banjar. Tadinya handak seharian pakaian banjar, jar tukang riasnya kada sanggup kam. Hahaha… Dasar bujur asa dicucuk cucuk kapala 😀

    • Hiih yan. Kagum aku lawan yang kawa makai pakaian banjar seharian 😀
      Tapi jar ada yang hiasan kepalanya tu kada pakai gadang pisang jadi kada tapi barat

    • Nah ini salah satu yang rada kusesalin pas resepsi kemarin. Baju nikahnya kebaya menerawang gitu. Jadi harus pakai baju manset. Kalau baju banjar asli sih rasanya baju kurung gitu. Nggak tahu nih knp ibu salonnya milihin baju itu. Mgkn krn cuma baju itu yang muat di badanku heu
      Soal hbs nikah boleh langsung kumpul atau nggak tergantung keluarga masing2 aja. Ada yang ngebolehin langsung kumpul tapi ada jg yang dilarang kumpul sampai resepsi

  3. Kalo pesta dirumah langsung kebayang betapa riweuhnya tapi seru kan mbak, berasa kekeluargaannya karena semua orang gotong royong. Btw, cantiiik bgt baju adatnya mbak Yana., agak mirip kebaya ya. Dan hiasan kepala yg berat memang bikin mual ya mbak Yana. Kemaren waktu aku nikahan pake baju adat minang, hiasan kepalanya “suntiang”, ya Allah serasa mau pingsan mbak, mual dan lemes ga jelas gitu… Padahal itu katanya suntiang palsu bukan yg asli. Ga mau lama-lama makenyaaa :'(

  4. turut berduka cita atas wafatnya ayahanda. semoga beliau tersenyum di alamnya yang baru. Btw, semoga acara resepsi di rumahnya mbak Yana tidak sampai mengganggu lalu lintas ya. Barakallah, mbak

    • kalau lalu lintas umum insya Allah tidak, dokter, karena rumah orang tua saya di dalam gang. kalau lalu lintas dalam gang alhamdulillah masih ada jalan memutar. heu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *