Power of Writing

Song, seorang atlet gulat harus pensiun dari profesinya dan mengambil pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah apung. Muridnya kurang dari sepuluh, dengan tingkatan kelas yang berbeda-beda. Mulanya Song merasa pesimis akan bisa menjalani profesi barunya ini. Hingga kemudian dia menemukan buku harian dari guru yang mengajar di tempat itu sebelumnya. Guru tersebut bernama nona Ann. Lewat buku harian ini Song merasakan dirinya menemukan seorang teman senasib sepenanggungan.

Nona Ann mulanya mengajar di sebuah sekolah negeri di kota. Gara-gara tato di tangannya, Ann harus rela dipindahkan untuk mengajar di sekolah apung. Untuk mengisi kesepian yang harus dijalani selama tinggal di sekolah apung itu, Ann akhirnya menuliskan pengalaman dan isi hatinya dalam sebuah buku harian. Siapa sangka ternyata buku harian itu kelak menjadi penghubung dirinya dengan Song.

I feel like my heart is breaking, and I also lost my best friend at the same time. When I heard the news about Ms. Ann from the principal, I felt like I was body slammed and was counted out. We are both members of the school, School of Broken-Hearts.

Ms. Ann, you don’t know me. But when I got my heart broken. I jumped in the water just like you.For the past 6 months, my life was all about the students, the school, the river, and…and…thinking of Ms. Ann

Today is Loy Krathong Day. I went and floated my Krathong basket for you too. I also made a wish. I hope you are happy. From an alumnus of S.O.B. Class 2

I’ve never thought of being a teacher. From the start, it’s been full of hardship. Luckily I found your diary. It has been a very helpful guide. It helped me to understand that to live here. We must be more than teachers. We must also be like their parents.

We are in the cold season. I learned for the first time that picking out winter clothing isn’t as easy as I thought.

(Surat untuk Ann dari Song lewat buku harian)

***

Film The Teacher’s Diary ini merupakan film Thailand terbaru yang saya tonton. Ceritanya manis dan cukup romantis. Dan dari informasi yang saya dapat dari Mr, Google, The Teacher’s Diary merupakan film yang terpilih untuk mewakili Thailand di Academy Award.

Cerita tentang cinta yang terhubung lewat tulisan sendiri bukan hal yang baru. Sebelum The Teacher’s Diary, saya juga pernah menonton film Korea berjudul Il Mare. Film yang dibintangi Jun Ji Hyun ini bercerita tentang seorang gadis bernama Eun Joo yang tinggal di sebuah rumah dan mendapati sebuah surat di kotak surat rumah tersebut. Anehnya, surat bertanggal 2 tahun ke depan dari kehidupannya yang sekarang. Eun Joo kemudian membalas surat dari pria yang tinggal di masa depan tersebut. Dan lewat surat-surat itulah sebuah kisah cinta hadir antara keduanya.

Kata orang tulisan merupakan bukti otentik dari sejarah. Dan jika itu dihubungkan dalam hubungan percintaan, tulisan (surat) bisa jadi merupakan salah satu media yang paling romantis. Kevin Alan Milne, seorang penulis Amerika yang sedang saya gandrungi karya-karyanya juga kerap memasukkan elemen menulis surat ini dalam novelnya. Sweet Misfortune, misalnya, proses menulis tersebut digambarkan dalam kebahagiaan yang dicari oleh Sophie. Lalu ada juga Nine Lessons di mana London Witte kerap menuliskan kejadian dalam hidupnya di kartu golf. Lalu yang terbaru yang saya baca, The Final Note, diceritakan Anna yang selalu menulis surat untuk Ethan setiap kali sang suami memainkan gitar untuknya.

Saya sendiri mulai kembali menulis (dengan tangan) sejak beberapa bulan terakhir. Selain diary, saya juga mulai rajin menuliskan review-review dan ide tulisan saya di sebuah buku agenda. Sayangnya mungkin karena sudah ditulis di buku, saya malah jadi malas menuliskan review-review tersebut di blog :D. Terakhir, saya menulis sebuah surat untuk sepasang orang tua di pulau Jawa sana. Entah bagaimana tanggapan mereka atas surat yang saya tulis tersebut. Harapan saya, semoga surat tersebut cukup baik untuk bisa mengambil hati mereka 🙂

0 thoughts on “Power of Writing

  1. Mmm, ada juga film yg serupa. Film barat. Aduuh lupa judulnya. Mereka terhubung melalui surat dari tahun ke tahun. Duuh, lupa judulnya.

    dapat bintang berapa niih ratingnya dari ka yana?

    jadi penasaraaan film teachers diaryny 😀

  2. Baru mau bilang mirip Lake House (gak tahu judul Koreanya). Tapi endingnya gak sama kan Mbak?

    Entah napa film Thailand banyak juga yang bagus ya.

  3. Yap, menulis adalah cara meninggalkan jejak yang paling afdol dan tahan lama, kalau boleh saya bilang :hehe. Medium menulis tidak masalah, yang penting kita menghasilkan sesuatu yang bisa membuat kita tahu bahwa waktu yang kita habiskan di dunia ini tidaklah sia-sia.
    Terus menulis ya, Mbak… :hehe.

  4. Reblogged this on jojomarkojo and commented:
    Ada dua Thai movie yang melekat di kepala saya. Pertama, Shutter, bergenre horor. Kedua, Hello Stranger, bergenre komedi romantis. Apakah yang satu ini akan melekat juga di kepala saya? Review-nya sih oke. Well, harus ditonton dulu tentunya 🙂

  5. Saya juga suka filmnya mbak… awalnya saya berharap sutradaranya agak2 nyorotin kisah romancenya, tapi ternyata pointnya lebih ke pendidikan anak sekolah kapal yang sedang mereka ajarin. Tapi, meski hanya disisipkan, romancenya terasa juga kok, apalagi kedua guru itu dipertemukan di akhir cerita … suka bangettt.. 🙂

  6. Filem laris kayaknya ya, ane juga kasih rate 8.2 pas bikin review. Tak hanya romantis tapi pesan filmnya juga dalem… sedalem danau di sekolah apungnya itu. Nice words mba!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *