Ponakan Baru

Aku hamil lagi, begitu isi pesan yang saya terima beberapa hari jelang resepsi pernikahan. Pengirimnya adalah adik saya yang menikah lebih

Kok bisa? tanya saya kemudian. Bukannya apa-apa. Adik saya kala itu masih mengasuh putra sulungnya berusia kurang lebih sepuluh bulan. Rasanya tidak mungkin kalau dia berencana memiliki anak lagi sementara dia masih kerepotan

Nggak tahu juga. Kayaknya aku kecolongan pas mau ganti KB suntik.

Saya hanya ber-oo ria membaca jawaban yang adik saya berikan. Maklumlah, saya tak terlalu mengerti soal per-KB-an ini karena belum menggunakannya.

Udah kasih tahu mertua? tanya saya lagi. Setelah menikah, adik saya tinggal bersama mertuanya yang rumahnya tak terlalu jauh dari kami.

Belum. Nanti dulu, deh. Jawabnya lagi.

Begitulah percakapan itu berakhir.

***

Sembilan bulan berlalu.

Jum’at,  8 Januari lalu adik saya mengabarkan kalau dia sudah mengalami pembukaan dua. Kemudian sore harinya ia memutuskan masuk Rumah Sakit. Ibu saya pun langsung berkemas untuk menemaninya di Rumah Sakit. Ketika kami tiba di kamarnya, tampak adik saya sedang berbaring. “Masih lama kayaknya nunggunya,” begitu katanya.

Saya pun pulang. Keesokan harinya, pukul 3 sore ibu mengabarkan kalau adik saya sudah masuk ruang bersalin. Karena saya pikir lahirannya masih lama jadi saya tunda keberangkatan ke Rumah Sakit. Ternyata, 20 menit kemudian saya mendapat kabar lagi kalau ponakan kedua saya sudah lahir. Beratnya 2,8 kg dengan panjang 48 cm, sedikit lebih besar dari sang kakak yang lahir prematur.

Welcome to the world ya, Nak. Semoga kelak menjadi anak yang saleh dan membanggakan orang tuanya.

 

dsc_3297.jpg

7 thoughts on “Ponakan Baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *