Piknik Itu Penting

wpid-dsc_2814.jpg

“Kapan nih kita piknik? Masa divisi lain udah kemana-mana kita di sini-sini aja?” begitu tanya salah satu senior di kantor saat kami sedang berkumpul untuk rapat internal divisi.

Layaknya bom waktu, pertanyaan ini langsung mendapat sambutan dari semua orang yang berada di ruangan tersebut. Maklumlah, setelah setahun penuh bekerja tanpa henti, belum pernah sekalipun kami semua piknik bersama. Padahal piknik itu penting untuk bisa merelaksasi kembali otak yang jenuh karena bekerja.

“Enaknya ke mana? Taman Labirin? Atau ke pantai aja?” tanya salah satu rekan saya. Berhubung rencananya dadakan, maka otomatis tempat piknik yang dipilih hanya seputaran Banjarmasin dan kabupaten sekitarnya.

“Ke pantai aja. Batakan kayaknya asyik,” balas senior yang lain.

“Iya. Sudah lama juga tidak ke pantai,” saya menambahkan.

Setelah berdiskusi, akhirnya diputuskan Pantai Batakan yang akan menjadi tujuan kami berpiknik.

Pada hari H, berangkatlah kami menuju Pantai Batakan yang terletak di Kabupaten Tanah Laut. RombonganΒ  hari itu terdiri dari 5 keluarga yang terbagi pada 4 buah mobil. Saya beserta suami sendiri ikut menumpang pada mobil salah satu rekan kerja saya. Sayangnya karena kurangnya komunikasi antar mobil, kami pun terpisah dari rombongan.

“Belok atau terus nih?” tanya suami saya ketika kami sudah memasuki kota Pleihari. Maklum dia belum pernah menginjakkan kakinya ke Pantai Batakan. Saya sendiri meski sudah pernah ke Pantai Batakan, tak pernah sekalipun memperhatikan arah menuju pantai tersebut.

“Terus aja deh,” suami saya berkata lagi tanpa menunggu jawaban dari kami semua.

Satu jam nyaris berlalu. Namun bukannya tiba di pantai, kami malah mendapati jalanan yang semakin sunyi. Setelah yakin kalau tersasar, akhirnya kami putuskan untuk bertanya pada salah seorang penduduk.

“Wah, kalian kelewatan! Pantainya ada di sebelah sana. Pas di simpangan itu belok kanan,” kata Bapak tersebut sambil menunjuk ke arah kami datang. Mengetahui hal ini, mau tak mau kami pun putar balik ke arah yang dimaksud.

Setelah menempuh perjalanan yang entah sudah berapa puluh menit, akhirnya tibalah kami berempat di Pantai Batakan. Tak lama salah satu dari rombongan menghubungi. Mereka mengabarkan kalau mereka juga sudah tiba di Pantai Batakan. Kami hanya bisa meringis mendengar kabar ini. Kami yang asalnya berada di depan eh malah kami yang paling belakangan tiba.

Tikar pun digelar. Bekal yang dibawa disiapkan di atas tikar. Ada ayam goreng, tempe, lalapan dan tentunya sambal. Kami semua pun segera melahap makanan yang sudah disediakan tersebut. Di tengah-tengah piknik, salah satu dari istri dari senior saya menyelutuk, “Duh romantis banget pasangan pengantin baru. Makan sepiring berdua. Jalan gandengan tangan. Perasaan kita dulu nggak gitu deh ya, Pah.”

Saya hanya mesem-mesem mendengar celetukan beliau. Yah, namanya pengantin baru. Harap maklum kali yaa.. πŸ˜€

Piknik hari itu sendiri merupakan piknik kali saya bersama suami setelah menikah. Kata orang perjalanan adalah salah satu cara untuk mengetahui kepribadian seseorang. Pun demikian dengan saya dan suami. Misalnya ketika saya mengeluh kesakitan karena kaki yang tiba-tiba kram, suami dengan suka rela memijit kaki saya. Suami juga rela tidak berenang ke pantai untuk menemani saya yang hanya bisa duduk menahan sakit di kaki. Tentunya saya berharap perlakuan seperti ini tak hanya berlaku di awal-awal pernikahan kami πŸ™‚

Tentang liburan di Bogor sendiri, sebenarnya saya sudah pernah melakoninya beberapa tahun yang lalu. Kala itu saya berkesempatan bertemu dengan sesama teman-teman blogger di Kota Hujan tersebut. Sayangnya karena keterbatasan waktu, tak banyak tempat yang bisa saya kunjungi. Padahal saya ingin sekali mengunjungi Kebun Raya Bogor dan tempat-tempat wisata menarik di Kota Bogor. Apalagi jika berkesempatan menginap di Padjajaran Hotel bersama suami, pastilah sangat menyenangkan! πŸ™‚

Tulisan ini diikutsertakan dalam “Lomba Blog Piknik itu Penting.”

0 thoughts on “Piknik Itu Penting

  1. semoga menang, mbak.

    hmm…. jadi inget waktu ke kebun binatang sama syaikhan ketika dirinya semangat melihat binatang, naik tangga, bahkan keringetan πŸ˜€

    hari ini terakhir yah πŸ™

  2. Dulu saya sering melewati Pelaihari karena ada kerjaan sampai ke Serongga, bahkan lewat lagi Serongga sampai batas Tanah Grogot. Kalo di Pelaihari ada kerjaan di gunung Keramaian.
    Kalo jalan ke daerah itu semua saya rasakan sebagai piknik. Memang kerja saya waktu itu banyak piknik, hehe…
    Cuma kalo berangkat sore/malam dari Banjarmasin ke arah Batu Licin jalan berdebu, banyak truk batubara dari Satui Sungai Danau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *