Perihal Nongkrong

“Duh kangen makan enak, nih,” kata saya pada suami. “Tapi masih bulan tua, jadi nggak bisa belanja,” saya menambahkan kemudian.

Suami diam saja mendengar celotehan saya. Maklum, dia sendiri bukan orang yang sering mengajak istrinya makan di luar. Paling-paling ngajaknya nge-bakso atau sop buntut kalau dia-nya sedang ingin. Sementara saya sendiri pengennya makan di luar itu ke tempat-tempat asyik semacam kafe begitu.

Beberapa hari kemudian saya dan beberapa teman kantor pergi ke Banjarbaru untuk menghadiri akad nikah teman kami yang lain. Perjalanan ini saya jadikan kesempatan untuk bisa menjajal kuliner enak di kota tetangga itu. Saat itu kami berencana mampir ke tempat makan pasta yang lumayan terkenal di Banjarbaru. Sayangnya saat kami tiba di cafe tersebut, tempatnya baru saja buka. Karena tak ingin menunggu lama, akhirnya kami hanya memesan minuman dingin.

“Uh, aku beli minuman gelasnya kecil aja bayarnya hampir tiga puluh ribu,” omel saya begitu tiba di rumah beberapa jam kemudian. Kalimat saya ini merujuk pada minuman yang saya pesan di kafe yang saya singgahi di kota Banjarbaru sebelumnya. Saat itu, saya memesan tanpa mengecek lagi harga minuman yang saya pesan. Saya pun tak curiga ketika minuman yang datang hanya seukuran cangkir anggur. Barulah ketika tagihan dibayarknya saya dibuat terkejut dengan jumlah yang harus saya bayar.

“Kemarin bilangnya pengen makan enak. Sekarang setelah makan enak malah ngomel-ngomel,” kata suami membalas omelan saya.

Saya hanya tertawa mendengar komentar suami. “Memang kayaknya aku nggak cocok nongkrong di tempat makan mahal, Mas.” tambah saya lagi.

***

Bicara soal wisata kuliner atau nongkrong, bisa dibilang saya termasuk yang senang melakukannya. Entah itu sekadar makan siomay di pinggir jalan, mencoba tempat makan siang baru atau mencoba makanan ala kafe. Setelah menikah, kebiasaan berwisata kuliner ini pun pelan-pelan semakin berkurang. Untuk makan siang sekarang saya memilih membawa bekal sendiri dari rumah. Kalau makan di luar pun lebih sering bersama suami. Alasannya tentu saja untuk menghemat pengeluaran (dan agar kami bisa nabung lebih banyak buat naik haji). Bagaimana tidak, untuk satu kali makan di Pizza Hut saja bisa menghabiskan lima puluh ribu rupiah, meski makannya ramai-ramai pun tetap saja keluar uangnya segitu. Heu.

Di kota saya sendiri, saat ini sedang menjamur berbagai tempat makan baru dengan kelebihannya masing-masing. Ada yang menawarkan burger dengan varian warna roti yang berbeda, pizza lipat, sosis bakar, hingga sekadar tempat minum teh atau ngemil es krim. Kerennya lagi, tempat-tempat makan ini rata-rata memiliki desain yang sangat instagramable. Saya sampai kepikiran seharusnya jasa interior desain dan arsitektur laris manis dengan menjamurnya tempat makan kece ini.

Perihal nongkrong ini sendiri, selain pertimbangan ekonomi, sebenarnya ada beberapa hal lain yang membuat saya mikir ulang jika saat akan melakukannya. Hal pertama, saya adalah tipe penyuka makanan berat. Jika diajak makan ke tempat-tempat makan, bisa dipastikan saya akan memesan nasi atau makanan berat lainnya. Kadang pengen juga sih makan cemilan, tapi kok saya ngerasa sayang ya dengan uangnya?

Hal kedua, kadang saya ragu dengan masakan yang ditawarkan. Pernah satu kali saya mengunjungi tempat nongkrong yang lumayan ngehits di kota saya. Dalam menu yang ditawarkan ternyata ada minuman namanya mojito. Iseng saya googling tentang mojito ini. Eh, ternyata aslinya mojito ini adalah minuman beralkohol. Ketika saya tanyakan kepada bartendernya, dia cuma bilang kalau mojito itu minuman sari buah. Jadi nggak yakin deh. He.

Hal ketiga, saya suka sebal dengan harga minuman yang ditawarkan di tempat nongkrong ini kadang lebih mahal dibanding harga cemilannya. Ya wajar aja sih, ya. Soalnya untuk menu minuman ini lebih banyak variannya jadi harganya pun bisa lebih mahal. Tapi ya kadang tetap kesal juga jika harus bayar es teh manis seharga sepuluh ribu rupiah sementara makanan yang saya pesan harganya cuma dua puluh ribu rupiah.

Hal keempat, setelah dipikir-pikir ternyata saya juga lebih senang dengan jajanan lokal pinggir jalan yang harganya relatif murah dan rasanya enak seperti foto di bawah ini 😀

img_20160721_173258.jpg
nunggu jatah memesan di siomay langganan

Anyway, meski suka jajanan lokal, saya sih tetap berharap bisa sesekali nongkrong di tempat makan yang rada mahal. Semoga saja ke depannya saya makin pintar mengatur keuangan sehingga bisa menyiapkan dana untuk makan enak setiap bulannya.

13 thoughts on “Perihal Nongkrong

  1. Saat Ramadan lalu, aku sukses menolak semuaaaaa ajakan buka bersama. Pertama, sebagian besar tempat makannya di mall, cafe-cafe yang harga makanannya bisa bikin istighfar (menurutku es jeruk 20 ribu itu mahal hahaha iya mungkin aku pelit hehehe) kedua, langka momen makan bersama di rumah.

    Temen2 yang ngajakin kumpul juga paham kalo aku lebih sering nongkrong di warung bakso ketimbang kopi tiam misalnya. Selain lebih murah, kayaknya perasaan ikutan lega muahaha

  2. kalo bujangan macam saya, lagi merantau, udah punya duit sendiri, wisata kuliner begini adalah hal yg paling asyik. Tapi kalo aku tipenya, sekali nyoba – cocok – gak mau pindah warung deh hahah 😀

  3. jajanan keliling atau pinggir jalan lebih sering saya nikmati daripada bentuk resto.
    jenis fried chicken aja saya lebih suka yang kw tapi yang bermerk juga seh. bukan yang di gerobak 😀

  4. sama saja ternyata ya.
    Istriku selalu perhitungan kalau mau nongrong.
    harga, rasa dan nyaman.

    Dan tentu saja timing-nya. Pas gajian bisalah pilih pilah. Pas tanggal tua yah, jangan pilih pilah bisa bertahan sampai finish aja syukur.
    >.<

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *