[Percikan] Bendahara Kelas

percikan

BENDAHARA KELAS

“Eh, eh, Ibu debt collector datang,” kata Bima pada Arya ketika Putri mendekati mereka. Keduanya kemudian sama-sama mengecek dompet mereka.

“Yah, aku nggak bawa uang lebih hari ini, Put. Besok aja ya,” kata Bima sambil memperlihatkan bagian dalam dompetnya yang kosong melompong.

“Aku juga, Put,” kali ini Arya yang berbicara.

Putri hanya tersenyum mendengar alasan yang diberikan kedua temannya itu. “Ya sudah besok siapin uangnya ya. Kalau nggak aku tagih tiap hari, lho,” kata Putri kemudian sebelum ia beranjak pergi.

***

Tak terasa enam bulan sudah Putri memegang posisi bendahara di kelasnya. Sesuai kesepakatan, setiap bulannya setiap siswa akan dimintai uang iuran sebesar sepuluh ribu rupiah. Uang yang terkumpul akan digunakan untuk kepentingan bersama. Bisa untuk membeli keperluan kelas, hingga menyumbang teman yang terkena musibah.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Putri tak terlalu senang menjadi bendahara kelas. Bertanggung jawab atas uang orang lain jelas bukan hal yang menyenangkan. Bagaimana jika uang tersebut kurang, tentu Putri kan yang harus menggantinya? Namun tentu saja ada alasan khusus mengapa Putri mau memegang posisi sebagai bendahara kelas.

“Putri, uang kas kita sisa berapa?” tanya Vicky siang ini pada Putri. Vicky adalah Ketua Kelas di kelas mereka. Kulitnya putih bersih dengan hidung mancung dan senyum yang menawan. Sejak pertama kali melihat sosoknya di awal tahun ajaran baru, Putri sudah terpesona.

“Ada lima ratus ribu, Vik,” jawab Putri setelah mengecek buku catatan kas yang selalu tersimpan rapi dalam tas ransel kesayangannya.

“Ya sudah kalau begitu aku pinjam dulu ya lima puluh ribu. Nanti kuganti,” kata Vicky lagi.

Putri terdiam sejenak. Ini sudah ketiga kalinya Vicky meminjam uang kas. Entah untuk keperluan apa, Vicky tak pernah memberi tahu Putri. Meski begitu, Putri tetap mengambil uang dari dompet kas miliknya dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan pada Vicky.

***

“Harusnya nggak kamu kasih uangnya, Put. Itu kan uang kas. Buat keperluan kelas kita, bukan buat dipinjam-pinjam seenaknya,” kata Raina ketika Putri menceritakan kejadian pagi ini padanya. Di antara teman-teman sekelasnya yang lain, hanya Raina yang tahu kalau Vicky sering meminjam uang kas untuk keperluan pribadi.

“Mungkin dia memang lagi perlu uang mendesak, Rai. Lagipula dia selalu balikin uangnya kok,” Putri berusaha membela Vicky.

“Ah, kamu mah gitu. Selalu nggak enakan. Apalagi sama Vicky yang memang sudah lama kamu taksir itu. Heran deh aku. Ganteng-ganteng kok hobinya minjam duit,” balas Raina lagi yang sukses membuat Putri terdiam.

***

Putri menyusun kembali lembaran uang sepuluh ribuan yang ia keluarkan dari dompet kecilnya. Total uang kas yang terhitung untuk bulan ini adalah empat ratus lima puluh rupiah. Kurang lima puluh ribu rupiah dari yang seharusnya.

“Ah, iya. Kemarin Vicky meminjam lagi lima puluh ribu,” Putri menepuk jidatnya.

Putri kemudian meraih dompet miliknya sendiri dan mengambil beberapa lembar uang di dalamnya. Uang itu kemudian ia masukkan ke dalam dompet yang berisi uang kas kelas.

“Kalau terus-terusan begini, malah aku yang rugi,” kata Putri kemudian.

***

“Pagi, Vicky,” sapa Putri pada Vicky

“Pagi, Putri. Ada apa ya?” jawab Vicky sambil memamerkan senyum menawannya.

“Ini… aku mau menagih uang kas yang kamu pinjam. Semuanya seratus lima puluh ribu. Trus juga kamu juga belum bayar uang kas selama lima bulan.”

Senyum Vicky langsung memudar mendengar kata-kata Putri.

“Wah, banyak juga, ya,” katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Iya. Maaf ya, Vicky. Biar kamu ketua kelas tapi kamu tetap harus membayar uang kas kita,” balas Putri kemudian.

***

 

 

12 thoughts on “[Percikan] Bendahara Kelas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *