Pengalaman Mengajak Bayi Travelling

Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami mengajak Tyas putri kami untuk mengunjungi kakek neneknya yang tinggal di Tangerang. Di usianya yang memasuki bulan ke tujuh, ini adalah pertama kalinya bagi anak saya melakukan perjalanan jauh dan naik pesawat pula. Sebagai orang tua baru, tentunya kami harus mempersiapkan perjalanan ini dengan baik. Saya sendiri sebelum keberangkatan sudah mencari-cari informasi seputar membawa bayi naik pesawat. Mulai dari perlengkapan apa saja yang harus dibawa, hingga tips agar bayi bisa nyaman dalam perjalanan. Selain itu saya dan suami juga beberapa kali melakukan perjalanan yang cukup sebagai pemanasan sebelum kami benar-benar berangkat nanti.

Satu hari sebelum hari H, saya dan suami berkemas. Suami memasukkan pakaiannya ke dalam ransel kecil sementara pakaian saya dan Tyas diletakkan di satu koper travelling. Dalam koper tersebut, selain berisi pakaian saya dan Tyas, juga saya masukkan beberapa perlengkapan bayi seperti popok, pompa ASI dan beberapa perlengkapan MPASI seperti saringan kawat dan parutan keju. Selain tas koper, saya juga membawa sebuah tas jinjing berisi popok ganti, minyak telon, ASIP dan MPASI untuk anak saya dalam perjalanan nanti. Rencananya kami akan berada di tempat mertua selama 5 hari. Oh, ya selain membawa dua tas tersebut, saya juga menyewa sebuah stroller untuk memudahkan kami membawa Tyas saat berada di tempat kakek neneknya nanti.

Tas dan koper sudah siap, maka tahap selanjutnya adalah berangkat. Pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 4 sore. Untuk perjalanan ini, saya terlebih dahulu melakukan check in online pada maskapai yang sudah saya pilih. Nah, berdasarkan saran yang saya dapat, jika membawa bayi sebaiknya pilihlah kursi bagian depan atau bagian belakang agar memudahkan akses keluar nanti. Saya sendiri awalnya memilih kursi bagian tengah karena saat check in kursi bagian depan sudah terisi. Eh saat check in lagi di bandara kursi saya dipindahkan ke depan oleh petugasnya. Jadi, kesimpulannya, ibu yang bawa bayi tidak boleh duduk di bagian tengah pesawat.

Saat pesawat akan take off, saya pun mulai mempraktikkan tips agar bayi tidak rewel saat pesawat akan terbang. Tips tersebut tak lain adalah menyusui bayi saat pesawat take off. Untuk yang satu ini saya sampai berlatih beberapa kali di rumah karena sejujurnya saya tak terbiasa menyusui di tempat umum dan kalau menyusui pun selalu disangga bantal. Nah, entah karena sudah kenyang atau karena tidak terbiasa menyusu di luar rumah ini, anak saya menolak disusui. Akhirnya sebagai alternatif saya dan suami memberinya buah potong untuk dikunyah saat pesawat mulai take off. Alhamdulillah selama perjalanan tersebut Tyas tidak rewel baik saat pesawat berangkat maupun mendarat.

Nah, setelah tantangan di pesawat terlewati, tantangan selanjutnya yang kami hadapi adalah macet. Heuheu. Jadi perjalanan dari bandara menuju rumah mertua di Pondok Cabe memakan waktu 3 jam lebih. Karena membawa bayi, kami putuskan untuk naik taksi online saja dengan biaya sekitar seratus lima puluh ribu plus biaya parkir dan tol. Alhamdulillah anak saya lumayan anteng di dalam mobil. Mungkin karena hari sudah malam dan anak saya sudah kelelahan, dia jadinya ketiduran di perjalanan.

Jika saat perjalanan berangkat anak saya super anteng, maka hal yang sebaliknya terjadi saat kami pulang ke Banjarmasin. Untuk perjalanan pulang ini, saya memilih penerbangan siang. Kami berangkat pagi-pagi untuk menghindari macet dan ternyata malah tiba di bandara 3 jam sebelum pesawat berangkat. Kombinasi antara bosan dan mengantuk mungkin pada akhirnya membuat Tyas menjadi sedikit cerewet. Dia tidak menangis sih tapi maunya diajak jalan terus. Untungnya saya kemudian menemukan sebuah rest area yang terdapat di lantai 2 terminal 1 C. Sambil menunggu panggilan untuk pesawat saya pun menyusui dan menidurkan Tyas di tempat tersebut.

Berkaca dari perjalanan saya kemarin, ada beberapa hal yang harus saya perhatikan saat mengajak bayi travelling, yakni:

Perhatikan jam tidur bayi

Anak saya termasuk yang rewel saat dia sudah mulai mengantuk. Dari perjalanan kemarin bisa saya simpulkan kalau dia akan lebih nyaman jika perjalanan dilakukan setelah jam tidurnya atau setelah tidurnya cukup. Beberapa artikel juga menyarankan sebaiknya perjalanan dilakukan pada jam tidur bayi agar bayi tidak rewel.

Pilih alat transportasi yang nyaman untuk bayi

Kalau saat travelling sendirian kita bisa dengan santainya memilih naik turun angkutan umum, maka saat membawa bayi saya jelas lebih memilih akomodasi yang lebih nyaman. Dan saya sangat bersyukur dengan keberadaan taksi online yang ada di kota-kota besar sekarang. Dengan menggunakan taksi online ini, saya bisa duduk dengan nyaman dan kalau anak saya lapar dia bisa menyusu dengan nyaman.

Pakai gendongan yang nyaman agar tidak capek

Meskipun sudah membawa stroller, tetap saja gendongan diperlukan saat mengajak bayi travelling. Saya pribadi hingga hari ini lebih nyaman menggunakan gendongan model SSC ketimbang gendongan jarik atau geos. Memang sih agak ribet pemasangannya dan tidak ringkas saat dibawa. Namun gendongan jenis ini membuat pembagian beban di bahu lebih merata sehingga mengurangi rasa pegal saat menggendong bayi.

Demikian pengalaman saya saat mengajak bayi travelling. Semoga bisa bermanfaat bagi semua 🙂

11 thoughts on “Pengalaman Mengajak Bayi Travelling

  1. Wuiiiih Tyas akhirnya naik pesawat. Enak ya berdua, pengalaman pertamaku naik pesawat sama Umaro waktu itu sendiri. Karena suami juga dinas ke pulau yang berbeda kwkwkw

  2. Baru ngeh ada rest area yang nyaman gitu di 1C. Mudah2an di 1B juga ada hehehe. Terakhir kali ke Soetta emang kayaknya lagi bikin beberapa perubahan.

    Jauh banget ya mbak dari bandara ke rumah mertua 3 jam. Aku ngebayangin kalo jadi sopirnya banyak waktu habis terbuang percuma *lha hahaha. Tapi ya, Jakarta oh Jakarta ya.

    • Iya, yan. Semoga aja di semua terminal ada rest area begini. Kalau di jakarta kayaknya udah biasa banget ya di perjalanan 3 jam. Mana kemarin sopirnya rada bikin sport jantung juga

  3. Tipsnya ok banget. Saya yg utama itu memilih gendongan yg nyaman. Saya lebih memilih hipseat. Ga sakit di bahu dan baby juga berasa duduk. Soalnya anakku ga betah berlama2 di stroller.

    • mau nggak mau sih, mbak. hehe. tapi memang pengennya bayinya diajarin travelling dari kecil meski emaknya jarang travelling 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *