Pada Sebuah Pernikahan

Berita itu saya dapatkan dari murobbi. Seorang akhwat akan menikah dengan seorang jejaka pembuat antivirus -yang cukup ternama di kalangan pengguna komputer- dengan penghasilan sekian puluh juta per bulan. Saat itu, meski tanpa menyebut nama, entah mengapa saya langsung bisa menebak akhwat yang dimaksud murobbi saya kala itu.

Kepastian kemudian saya dapatkan saat berada di mahad tempat saya belajar menghafal qur’an. Salah seorang santri, (sebut saja Saras) yang dulunya rekan kerja saya dan juga merupakan sahabat dari akhwat yang dimaksud bercerita sedikit tentang proses kedua orang tersebut.

“Suami teman kami yang mengenalkan mereka. Teman kami itu pas ditanya juga sudah siap nikah. Jadi ya mereka ta’aruf. Nikahnya minggu ini.”

“Kenapa dikenalinnya sama si A, bukan sama kamu atau yang lain?” tanya saya lagi. Kebetulan di antara geng Saras masih ada tiga orang lagi yang belum menikah.

“Katanya karena suaminya cuma kenal sama A. Sama kami yang lain kurang kenal. Tapi ya intinya memang jodohnya, Kak,” jawab Saras pada saya

Mendengar cerita itu, saya hanya manggut-manggut sambil berharap akan mendapat undangan dari walimahan kedua mempelai. Pernikahan ini jelas bukan hal yang ingin saya lewatkan.

Sesuai harapan, saya kemudian mendapat undangan untuk menghadiri walimahan dari adik akhwat ini. Bertempat di aula Masjid Raya Sabilal Muhtadin, bisa saya lihat bagaimana banyaknya undangan yang datang pada hari itu. Bukan hal yang aneh, mengingat ayah dari adik akhwat itu juga merupakan seorang pengusaha di kota Banjarmasin. Si akhwat juga cukup aktif dalam organisasi.

Usai menghabiskan makan, segera saya menuju pelaminan tempat kedua mempelai bersanding. Seperti biasa, saya mengambil amplop berisi uang yang sudah saya siapkan beberapa waktu sebelumnya. Anehnya, ketika akan naik ke pelaminan, saya tak menemukan tempat untuk memasukkan amplop yang sudah saya siapkan. Apa tempat amplopnya di depan, ya? Tanya saya dalam hati.

Masih dengan kebingungan, saya berjalan menuju kedua mempelai. Tak disangka di atas pelaminan saya bertemu dengan Saras, yang hari itu terlihat cantik dengan gaun berwarna coklat mudanya. Iseng saya kemudian bertanya pada Saras. “Di mana tempat amplopnya?” tanya saya.

Saras kemudian menjawab, “Nggak ada, Kak. Mempelai minta doa restunya aja.”

Saya terperangah. Acara pernikahan sebesar ini tapi tidak menerima amplop? Wow! Begitu kata saya dalam hati. Yah, memang sih bisa dibilang dengan penghasilan sang suami hal itu mungkin saja dilakukan. Tapi ya, tetap saja…

“Waduh. Padahal aku nggak nyiapin kado nih. Jadi nggak enak dong,” kata saya lagi.

“Nggak apa-apa, Kak. Ayo kita ke mempelai. Mau foto dulu? Biar ulun (saya) temani.”

Saya pun akhirnya mendatangi kedua mempelai, memberi ucapan selamat dan (seperti kata Saras) berfoto dengan kedua mempelai.

Pulangnya, kepala saya masih dipenuhi dengan kejadian tersebut. Jarang sekali saya menemukan acara walimahan yang tidak menerima amplop. Mendengar sih pernah, tapi rasanya baru kali ini menemuinya sendiri. Doa saya buat kedua mempelai, semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.

0 thoughts on “Pada Sebuah Pernikahan

  1. Dulu pernah ke pesta sunatan (tetangga) pestanya mewah banget ngelebihin pesta nikahan yg aku pernah datangin, dan ga nyediain tempat amplop. Rasanya terharu dan bahagia

  2. Kalo didaerahku, beberapa orang yang udah ngaji biasanya emang nggak menyertakan tempat utk amplop di walimahan mereka mbak. Sepertinya emang bener-bener niat untuk sedekah ke tamu-tamu yg datang, dan minta didoain aja 🙂

  3. Ulun pernah jua ka… di kawinan kawan ulun. Maka datang baimbai buhan kakawanan.. buhannya pakai kado. Ulun kada, pakai amplop aja, sakalinya jar mamanya kami kd menerima amplop. Banyak org bingung sampai bakarasan lwn mamanya handak manjulung amplop. Hihihi.,.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *