Nama yang Membuatku Terkesan

Awal mula mengisi ekskul Penulis Cilik dulu, saya menanyai anak-anak seputar nama. Dengan semangat anak-anak ini menyebutkan nama-nama mereka.

“Alfia Rasyidah.”

“Farisa Gina Aulia.”

“Mahfudza Ruwaida.”

“Nursyahla Savitry.”

“Raina Adzkia.”

“Afifah Nur Syahidah.”

“Neyza Hana.”

Saya sempat berdecak kagum begitu mengetahui nama anak-anak ini. Pun ketika saya tanya apakah mereka tahu arti dari nama mereka, tanpa perlu menunggu lama saya sudah mendapatkan jawabannya. Ini artinya anak-anak ini sudah diberi tahu orang tuanya perihal arti nama mereka. Atau bisa juga mereka cukup kritis bertanya perihal arti dari nama mereka yang bagus itu.

Bagi saya (dan orang tua lainnya tentunya), perihal memberi nama bayi memang bukan perkara sepele. Seperti yang kita ketahui, nama merupakan perwujudan doa dan harapan dari orang tua kepada anak-anaknya. Doa yang disematkan bisa dalam pemilihan nama dari tokoh yang dikagumi, atau juga simbol-simbol yang memiliki arti positif, hingga nama dari bahasa tertentu yang memiliki arti yang bagus.

Seiring perkembangan jaman, pemilihan nama untuk bayi bisa dibilang semakin kreatif. Generasi orang tua saya dulu rata-rata memiliki nama yang diambil dari nama istri-istri  dan kerabat Rasulullah atau para sahabat dan shahabiyah (Aisyah, Zainab, Aminah).  Adapun generasi saya, nama-namanya juga masih terbilang sederhana dan berbau Indonesia (seperti nama saya yang gabungan dari gelar dan bulan lahir). Adapun sekarang, nama bayi bisa diambil dari beberapa bahasa yang digabungkan.

Bagi saya sendiri, nama yang menarik adalah ketika orang tua memberikan semacam tema untuk anak-anaknya. Misal, ada orang tua yang menamai anak-anaknya dengan nama bunga atau jenis kayu. Ada juga orang tua yang memberi nama anak-anaknya dengan huruf depan yang sama. Seperti Zaskia Adya Mecca yang memberi nama anaknya dengan huruf depan K (Kana Sybila dan Kala Madali), atau yang paling populer, Aa Gym dengan generasi G-nya. Bisa juga anak-anak diberikan nama dengan inisial yang sama. Seperti sahabat saya yang dirinya dan adik-adiknya diberi nama dengan inisial IAL. Wuih, pasti perlu waktu yang cukup lama tuh untuk memilih nama dengan tema seperti ini.

Selain nama yang bertema, saya juga menyukai nama-nama berbau India. Mungkin karena dari dulu saya menggemari film Bollywood. Jadilah nama-nama seperti Khushi, Hasna, Ranjhana, hingga Haider sempat terpikir untuk saya jadikan sebagai nama anak saya nantinya. Yah, mungkin bisa dijadikan sebagai nama tengah mereka. Hehe.

Nah, kalau bicara nama yang paling berkesan sendiri, mendadak saya teringat pada sebuah kumpulan cerpen Asma Nadia yang saya baca saat masih kuliah dahulu. Judulnya Meminang Bidadari. Cerpen ini bercerita tentang kisah cinta antara Ayyash dan Ayesha, dua pemuda-pemudi yang hidup di tanah Palestina. Saking terkesannya dengan cerpen ini, saya sampai sempat menuliskan nama Ayyash dan Ayesha dalam buku diary saya sebagai kandidat nama anak saya nanti. Belakangan setelah dicari-cari saya pun mengetahui kalau Ayyash sendiri artinya adalah Lelaki Pekerja Keras. Wah, sepertinya bakal jadi kandidat kuat nih 🙂

#GAarmitafibri

29 thoughts on “Nama yang Membuatku Terkesan

  1. kalau baca nama anak sekarang jadi minder… sebab nama saya cuma satu kata 😀

    *GA tentang awal yang baru kelewat, saya salah lihat deadline*

  2. Orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, sehingga nama pun akan jadi yang terbaik pula ya Mbak :hehe. Semoga berhasil dengan giveaway-nya :)).

  3. Aku ngasih nama anak selalu abis brojolan seminggu jg blom fix. Bapake kalo disuruh nyari nama sblm lahiran gk mau mulu hihi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *