Minimarket Waralaba

Satu hari, saat sedang berkendara menuju kantor suami, tanpa sengaja saya menemukan sebuah tanah yang akan dibangun. Pada sebuah papan yang diletakkan di depan tanah tersebut, disebutkan kalau pada tanah itu akan dibangun sebuah waralaba supermarket. Membaca tulisan tersebut saya spontan berkomentar. “Wow, sampai bikin bangunan sendiri buat supermarket,” begitu kata saya.

Di kota saya saat ini memang sedang menjamur supermarket waralaba yang berasal dari ibukota. Rasanya di setiap sudut kota bisa saya temukan waralaba supermarket ini. Keberadaannya kini jelas bersaing (atau lebih tepatnya mengancam) pasar minimarket domestik.

Untuk menarik pembeli, minimarket waralaba ini kerap memberikan harga promo pada barang-barang yang dijualnya. Katalognya bahkan dikirimkan ke rumah-rumah. Selain itu, untuk menunjang promosi, kadang pihak minimarket juga menghadirkan berbagai hiburan di depan toko mereka.

Sayangnya, meski menggiurkan, saya merasa ada ironi di balik harga promo yang diberikan minimarket ini. Pertama, barang-barang di supermarket waralaba ini kadang tak jauh lebih lengkap ketimbang supermarket lokal. Pernah saya mampir ke sebuah supermarket waralaba untuk mencari coklat bubuk dan ternyata barang tersebut tidak ada di supermarket ini.

Ironi yang kedua adalah adanya harga promo. Untuk menarik pembeli, pihak supermarket menawarkan harga promo untuk beberapa barang tertentu. Sayangnya, meski memberikan harga promo, pihak supermarket ini kadang tak memiliki uang kembalian untuk harga promo yang diberikan. Sebagai solusi, maka pembeli biasanya ditanyai apakah mau mendonasikan uang kembalian dari belanjaan tersebut. Ini jauh berbeda jika saya berbelanja di minimarket biasa, di mana pihak minimarket tetap mengusahakan kembalian yang pas untuk setiap belanjaan.

Terkait tentang donasi ini sendiri, ada juga pro dan kontranya. Beberapa orang ada yang tidak mempermasalahkan uangnya didonasikan. Ada juga yang keberatan karena tidak jelas uangnya akan didonasikan ke mana. Ini mungkin mirip kasusnya dengan kembalian dalam bentuk permen. Saya sendiri setelah baca sana sini memilih menolak mendonasikan uang kembalian tersebut.

Selain masalah donasi, ada juga hal menarik yang saya temui di waralaba supermarket ini. Jadi ceritanya saya dan ibu pergi berbelanja ke sebuah supermarket besar milik Korea. Mungkin karena segmennya yang ditujukan pada pedagang besar (atau bisa juga supermarket ini mendukung kampanye Go Green), supermarket ini tidak menyediakan kantong plastik untuk pembelinya. Padahal tidak semua pembeli yang datang mengendarai mobil, bukan? Untungnya di depan supermarket itu disediakan kardus-kardus bekas, jadi masih bisa digunakan untuk membungkus barang belanjaan.

Masalah kantong plastik ini, meski kecil namun tentunya juga berpengaruh pada jumlah pengunjung di supermarket ini. Jika dibandingkan, supermarket asal Korea ini terlihat lebih sepi ketimbang dua supermarket besar lain yang ada di kota saya. Bisa jadi karena tempatnya yang seperti gudang (plus tidak disediakan kantong plastik), sementara supermarket lain sudah satu paket dengan mall/pusat perbelanjaan. Kalau kata saya, supermarket asal Korea ini menjadi pilihan bagi mereka yang malas mengantri di mall.

Kembali ke dunia domestik, dengan semakin banyaknya bermunculan minimarket waralaba ini sepertinya menimbulkan geliat baru di dunia minimarket di kota saya. Beberapa minimarket baru bermunculan dengan konsepnya masing-masing. Pembeli bebas memilih mau belanja ke mana minimarket mana. Namun satu hal yang mungkin harus diingat. Jangan sampai keberadaan minimarket membuat kita lupa dengan pasar tradisional.

0 thoughts on “Minimarket Waralaba

  1. Di dekat rumah saya ada warung biasa yang berada persis di depan minimarket, alhamdulillah rezeki tidak tertukar, tetap saja pembelinya ramai di warung. Tapi memang harusnya ada aturan mengenai keberadaan minimarket ini

  2. soal donasi, biasanya kalo ditawari, aku selalu nanya, didonasikan ke mana?? ya, bukannya pelit sih, meskipun nominalnya itu 100 rupiah. tapi khawatirnya didonasikan buat yg non muslim gitu mbaa.. pernah kejadian soalnya

    trus soal minimarket itu, di surabaya dong, udah kaya amplop dan perangko. letaknya dempetaaan.. kaya tak terpisahkan :))

    • iya, mbak. saya juga pernah baca soal donasi itu. makanya akhirnya nggak donasi lewat kembalian lagi
      persaingan minimarket memang luar biasa banget kayaknya. hehe

  3. Dan minimarket waralaba ini kayaknya suka “jahat” deh. Tdi mereka kurang 10 rb buat kembaliin duit aku. Kalau gak ditanya cuek. Begitu dibilang kayaknya kurang ehhhh dia langsung tau kurang 10 rb. Harusnya kalau beneran khilaf pasti cek dulu kan ya tadinya kasih kembalian berapa.

  4. Kepala daerah berhak melarang pendirian minimarket waralaba atau paling tidak membuat aturan yang melindungi pengusaha lokal. Di sinilah biasanya terjadi permainan. Minimarket ini sudah tidak mengenal etika lagi dalam pendiriannya. Dan lagi2 yang bermain adalah uang…dan uang… Tinggal sekarang benteng terakhir adalah masyarakat sendiri. mau atau tidak belanja di minimarket waralaba tersebut. Sayangnya, warga Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang doyan belanja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *