Menuju Tangerang

Sebuah pesan BBM masuk ke ponsel saya di akhir bulan Februari. Pengirimnya adalah adik ipar yang tinggal di Tangerang sana.

“Kak, kemarin pas nikah biaya sewa baju sama make up-nya berapa ya?” tanya adik ipar yang usianya tak jauh berbeda dari adik perempuan saya.

Saya kemudian menyebutkan biaya salon saya saat menikah tahun lalu. Setelah itu, iseng saya tanyakan tanggal berapa adik ipar saya menikah.

“Tanggal 4 Maret, Kak. Walimahnya tanggal 26,” balas adik ipar masih lewat BBM.

Membaca balasan tersebut, saya kaget. Pasalnya baru malam sebelumnya saya bertanya pada suami apakah keluarga sudah memberi kabar perihal tanggal pernikahan adik ipar yang baru saja dilamar. Kala itu suami saya hanya mengatakan kemungkinan nikahnya beberapa bulan lagi.

“Wah, cepat banget ya, Dek. Kirain masih beberapa bulan lagi,” balas saya lagi.

“Iya, Kak. Biar nggak banyak godaannya. Kakak nanti datang kan nanti?”

“Insya Allah. Nanti Kakak ngomong dulu sama Kakakmu bagusnya datang tanggal berapa,” jawab saya menutup pembicaraan.

***

Setelah menikah dengan suami yang kelahiran Jakarta, satu pertanyaan jelasΒ  hadir di kepala saya. Kapankah saya akan mengunjungi rumah mertua? Dalam masa perjalanan pernikahan kami, beberapa kali juga sempat kami membahas perihal pulang kampung ini. Apakah bagusnya setelah lebaran atau akhir tahun saja suami mudik ke rumah orang tuanya? Hal ini kami bicarakan agar kami bisa menyisihkan dana untuk bisa pulang kampung.

Nyatanya Allah menjawab pertanyaan saya dengan lebih cepat. Kabar adik ipar yang sedang proses ta’aruf dan dilamar membuat saya dan suami harus bertolak ke Tangerang di awal Maret kemarin. Alhamdulillah di bulan itu juga Allah memberi rezeki lebih (plus tiket juga murah) sehingga saya, suami dan ibu saya bisa bertolak ke Tangerang.

Untuk pemesanan tiket sendiri, sejak beberapa tahun terakhir saya lebih senang membeli tiket secara online. Ini terkait pengalaman saya beberapa tahun lalu saat akan pergi ke luar kota. Jadi ceritanya sebelum membeli tiket ke travel, sya terlebih dahulu mengecek harga tiket di website online. Anehnya, begitu saya berniat membeli tiket di travel tersebut, tiket yang saya inginkan malah tidak tersedia, plus harganya juga lebih mahal. Akhirnya saya pun membatalkan pembelian tiket di travel tersebut.

Beberapa hari jelang penerbangan, saya mendapat kabar dari maskapai penerbangan yang kami pilih untuk berangkat ke Tangerang. Jadwal penerbangan yang seharusnya pukul sembilan pagi diundur 2 jam. Saat mengabarkan hal ini pada suami, si Mas ini langsung komentar, “Belum juga berangkat sudah diundur aja penerbangannya,” katanya sambil mengingat pengalaman buruknya naik maskapai yang sama setahun sebelumnya.

Nyatanya perubahan jadwal penerbangan membawa keuntungan tersendiri bagi kami bertiga. Karena terlalu asyik dengan persiapan menuju pulau seberang, baik saya, ibu dan suami sama-sama kesiangan bangun. Padahal ibu berencana membawakan kue buatannya sendiri untuk besannya, dan saya juga menyempatkan diri membuat roti untuk bekal kami di pesawat. Bayangkan jika jadwal penerbangan kami tetap pukul sembilan, pastilah kami akan berangkat dengan meninggalkan rumah yang berantakan.

Pukul sembilan lima belas, saya dan ibu berkendara menuju bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru. Berdasarkan perkiraan, selambat-lambatnya kami akan tiba di bandara pukul sepuluh. Suami sendiri sudah berangkat lebih dahulu dengan motornya dan beberapa barang bawaan. Untuk berjaga-jaga keterlambatan yang tidak diinginkan, sebelumnya saya sudah melakukan web check in terlebih dahulu di website maskapai penerbangan yang saya pilih.

Perjalanan menuju bandara sendiri sebenarnya cukup memberi kesan bagi saya. Saat sedang melaju dengan kencangnya, tiba-tiba motor saya kendarai oleng. Saya yang sedang diburu waktu dengan terpaksa melambatkan motor dan menuju sisi kiri jalan.

“Ma, turun sebentar, kayaknya motornya bannya bocor,” kata saya pada ibu setelah berada di sisi kiri jalan.

Ibu saya pun turun dari motor dan mengecek ban motor. Benarlah dugaan saya. Ban belakang Beat merah yang saya kendarai bocor. Kemungkinan ban ini bocor saat saya melewati beberapa kerikil di jalan. Saya perhatikan sekeliling. Saat itu kami sedang berada di jalan utama di mana kemungkinan menemukan tukang tambal ban agak sulit.

“Tuh di seberang kayaknya ada tukang tambal ban, Yan,” kata ibu saya.

Saya alihkan pandangan saya ke arah yang disebutkan ibu saya. Di seberang jalan tampak beberapa bangunan kayu dengan ban-ban besar terpajang. Penjual ban bekas, begitu yang ada di pikiran saya. Tanpa pikir panjang saya membawa motor menuju ke seberang jalan. Saya cek jam di pergelangan tangan kiri. Sudah pukul sepuluh kurang. Duh, salah-salah saya bisa ketinggalan pesawat ini, kata saya dalam hati.

Begitu tiba di depan toko ban tersebut, saya langsung memberondongnya dengan pertanyaan. “Mas, kalau ganti ban dalam kira-kira cepat nggak?” tanya saya.

“Cepat aja. Biayanya lima puluh ribu,” jawab pria tersebut.

“Lima belas menit sampai nggak?” tanya saya lagi

“Nggak sampai.”

“Ya sudah. Saya langsung ganti ban dalam saja,” kata saya lagi.

Tepat pukul sepuluh, ban dalam motor saya sudah selesai diganti. Segera saya pacu kembali motor menuju bandara di mana suami sudah menanti. Alhamdulillah kami tiba tepat waktu. Hanya beberapa menit setelah check in, saya dan keluarga langsung diminta untuk naik ke pesawat.

30 thoughts on “Menuju Tangerang

  1. Ceritanya mengalir banget Mbak, serasa baca cerpen, betul saya setuju dengan komentar pertama di atas :hehe. Syukurlah ya sampai bandara dengan selamat dan tepat waktu. Tapi berhubung Mbak dan suami sama-sama bawa motor, jadi di bandara ada semacam penitipan motor harian begitu ya Mbak? Wah, menyenangkan sekali :hehe.

  2. Coba kalau sekarang ya, bisa sekalian ke pameran buku #eh hehehe. Selamat menempuh hidup baru buat adik iparnya mbak Yana, langgeng selalu. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *