Menghabiskan Gaji

Alhamdulillah per 1 Juli 2014 lalu, saya dan ketujuh belas teman yang lain sudah resmi diangkat menjadi Calon Pegawai di kantor kami. Pengangkatan status ini didasarkan pada penilaian yang diberikan supervisor kami masing-masing. Seingat saya, penilaian diberikan pada kemampuan kualifikasi, kepribadian, komunikasi dan interaksi. Dengan status yang baru ini, berarti kami sudah berhak menerima 80% dari gaji pokok dan tunjangan plus sudah dapat NIK baru.

Ada banyak rencana tentunya setelah resmi menjadi Capeg ini. Namun bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana agar saya bisa mengelola keuangan saya dengan lebih baik lagi. Sembilan bulan bekerja di perusahaan baru, saya merasa keuangan saya lebih parah ketimbang saat bekerja di perusahaan yang lama dahulu.

Boros. Mungkin itu adalah satu-satunya alasan mengapa keuangan saya selama sembilan bulan ini benar-benar payah. Perubahan lingkungan kerja secara tidak langsung mengubah gaya hidup saya, terutama dalam hal makan. Beberapa pengeluaran juga tak terkontrol dan membuat saya harus mengerutkan kening setiap kali melihat saldo di dompet. Dan meski teman-teman yang lain juga mengungkapkan hal yang sama, namun saya menemukan ada perbedaan besar antara borosnya saya dengan borosnya mereka.

Beberapa teman di kantor, memiliki tagihan hutang setiap bulannya sehingga mau tidak mau gaji mereka terkuras ke pembayaran hutang tersebut. Sedangkan saya, satu-satunya tagihan yang harus saya bayarkan setiap bulannya hanyalah tagihan listrik, telepon dan air minum, yang mana jumlahnya mungkin tak seberapa jika dibandingkan tagihan hutang teman-teman saya yang lain. Itulah sebabnya mengapa saya selalu merasa borosnya saya lebih parah dari borosnya mereka.

Pernah saya bercerita tentang borosnya saya kepada seorang teman. Jawabnya, “Selama kita masih bujangan, kayaknya gaji nggak bakalan pernah cukup deh.” Waktu itu, saya sedikit setuju dengan pendapatnya. Namun belakangan, saya rasa pendapatnya itu tak sepenuhnya benar. Mau bujangan atau sudah nikah, yang namanya keuangan itu tetap harus diatur, bukan? Memang sih saat belum nikah dan belum ada tanggungan gaji bisa digunakan semaunya. Namun jelas akan lebih baik jika penggunaan itu untuk investasi masa depan.

Saya sendiri jujur merasa sangat terlambat berpikir soal investasi ini. Soal rumah, misalnya. Saya mikirnya beli rumahnya nanti aja kalau sudah nikah. Tapi kemudian, ternyata hingga usia kepala tiga begini saya belum nikah juga. Mau nungguin calon suami kok rasanya lama betul, yak? Coba aja kalau misalnya saya nekat nyicil rumah dari beberapa tahun yang lalu, mungkin sekarang saya bisa menikmati tinggal di rumah saya sendiri. Lagipula katanya kalau mau berhutang lebih bagus untuk barang-barang yang produktif, bukan?

Meski begitu, mungkin lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Mulai bulan ini, saya akan berusaha mengelola ulang keuangan saya. Mulai dari mendahulukan menabung (biar bisa nyicil sesuatu), bayar zakat/infaq, mencatat pengeluaran di luar pengeluaran rutin, juga tentunya lebih mengontrol nafsu belanja. Semoga saja saya bisa cukup konsisten dengan rencana saya ini.

0 thoughts on “Menghabiskan Gaji

  1. tema yang sebenarnya udah lama pingin kutulis, tapi kaitannya dengan borosnya aku dulu dengan buku, sampai gaji semua berwujud buku

    Tapi, bener kok, banyaklah menabung saat masih single, percaya deh, walaupun ‘bersenang-senang’ sedikit tak apalah

    • tapi sekarang bukunya udah menghasilkan uang dong, sin. hehehe
      iya. ngerasa aneh aja waktu di kantor dulu masih bisa nabung. tapi pas di kantor sekarang malah susah banget 🙁

  2. Iya, betul mbak Yana, tulisannya jadi sulit kebaca karena campur sama daun. Maklum mata stw. Kalau ada boxnya yg warnanya blok solid mungkin lebih nyaman.
    Kalau menurut pakar keuangan, menabung atau investasi itu besarnya 30% gaji, dan dikeluarkan di depan. Artinya, nabung itu bukan uang sisa akhir bukan, tapi dianggarkan

  3. Soal makan kalau di mall, cafe atau rumah makan emang menguras kantong ka lah. Nyamannya nasi padang ja. Hihihi… Sudah banyak porsinya, murmer jua *tapi banyak banar lamaknya*

  4. waa.. selamat ya dah jd capeg.. moga cpt jadi peg tetap 😀 btw duitnya buat inves barang aja, klo merasa nabung susah, minimal klo jadi barang kan kliatan wujudnya 😀

  5. Aku juga boros tapi boros untuk keperluan mendadak apalagi kalau udah nikah ada aja pengeluaran yang tak terduga walau di nalar gaji dobel tapi pengeluaran juga dobel…

  6. Ulun malah banyakan bisa nabung pas bujangan daripada sekarang.. 😀
    Semangat nabung ka antung! nabung pake emas kalo utk jangka panjang mungkin lebih untung ka. 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *