Menengok Mesjid Kubah Emas

img_20160306_105528.jpg

Jelang kepulangan kami ke Banjarmasin, saya dan ibu mengunjungi Mesjid Dian Al Mahri atau yang lebih sering disebut Mesjid Kubah Emas. Kata suami sih mesjid ini terletak tak jauh dari rumah orang tuanya. “Setengah jam sampai aja kayaknya,” kata suami kala itu. Nah, berhubung pesawat yang akan membawa kami berangkat pukul 3 siang, maka sebelum berangkat ke bandara kami putuskan untuk menyempatkan mampir ke mesjid yang ternama ini.

“Kita ke sananya naik Uber lagi, kan?” tanya saya pada pagi hari di hari kepulangan.

“Iya.”

“Trus rutenya gimana?” saya bertanya lagi. Dalam pikiran saya kala itu kami harus memesan Uber dua kali karena rute yang berbeda.

Suami diam sejenak. “Kita pilih tujuan bandara tapi nanti minta yang punya mobil mampir ke Mesjid Kubah Emas dulu,” katanya kemudian yang langsung saya setujui.

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan di internet, Mesjid Kubah Emas dibuka untuk umum pada pukul 10 pagi. Saya pun langsung memesan Uber dengan tujuan bandara seperti yang disarankan suami. Tak lama menunggu, mobil yang kami tunggu tiba. Kali ini kami mendapatkan (kalau tidak salah) Honda Brio dengan seorang wanita paruh baya di belakang kemudinya. Kalau dikira-kira, mungkin usianya tak jauh berbeda dengan ibu saya.

“Bu, boleh nggak sebelum ke bandara kami ke Mesjid Kubah Emas dulu,” tanya suami pada ibu pengemudi saat mobil sedang berjalan.

“Oh bisa aja, Mas,” jawab si ibu yang langsung membuat saya lega.

Sepanjang perjalanan menuju mesjid, kami sempat bercakap-cakap dengan ibu pemilik mobil. Beliau bercerita awal mula keikutsertaan beliau di uber hingga rute yang beliau lalui selama menjadi supir uber. Ketika saya tanya jadwal nguber beliau, si Ibu menjawab, “Saya biasa mulai nguber dari jam 10 pagi dan kadang pulang jam 2 dini hari.” Jawaban yang cukup membuat kami semua terpana.

Seperti yang dikatakan suami saya, perjalanan menuju Mesjid Kubah Emas tak memakan waktu lama. Kurang lebih 30 menit perjalanan, kami sudah tiba di pintu masuk mesjid. Untuk bisa masuk, kami membayar uang masuk sebesar (seingat saya) sepuluh ribu rupiah untuk satu mobil. Setelah membayar, mobil pun melaju ke area parkir.

Berhubung ini pertama kalinya kami berkunjung ke Mesjid Kubah Emas, saya pun sukses dibuat terkagum-kagum dengan megah dan luasnya area mesjid yang satu ini. Ada cukup banyak pengunjung hari itu. Ada yang datang bersama rombongan, ada juga yang datang bersama pasangan. Di sepanjang jalan, saya lihat beberapa orang menawarkan jasa foto dengan latar menara mesjid. Tak mau kalah dengan pengunjung lain, saya dan ibu saya pun turut serta mengambil foto, namun tentunya dengan kamera kami sendiri.

Karena waktu yang terbilang sempit, saya dan ibu tidak sempat memasuki bagian dalam mesjid. Setelah dirasa cukup puas memandangi area luar mesjid, kami pun kembali ke tempat parkir. Di sana suami sudah menunggu bersama ibu pemilik mobil. Saya lihat jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 11 siang. Kami pun masuk ke mobil. Perjalanan selama tiga hari di Tangerang pun selesai bersama mobil yang mengantar kami ke bandara.

0 thoughts on “Menengok Mesjid Kubah Emas

  1. Teringat kemacetan parah pada keberangkatan dan kepulangan dari Masjid Kubah Emas. Ditambah dengan jalan sempit berlubang di beberapa tempat serta ketemu bus2 besar sepanjang perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *