Medical Check Up

Sekitar akhir tahun 2015 yang lalu, saya dan karyawan perusahaan melakukan medical check up di salah satu Rumah Sakit Banjarmasin. Ini adalahmedical check up kedua yang saya jalani. Medical check up saya yang pertama dilakukan dua tahun sebelumnya, saat saya harus mengikuti pemeriksaan kesehatan untuk bisa bekerja di perusahaan sekarang.

Medical Check up ini yang kami ikuti sendiri terbagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama untuk mereka yang berusia di bawah 31 tahun yang saya sebut dengan Paket Hemat. Medical check up ini hanya memeriksa air seni, darah, jantung, paru-paru. Untuk medical check up golongan kedua, selain pemeriksaan air seni, darah, dan yang lain, juga dilakukan pemeriksaan kolesterol dan pemeriksaan pap smear untuk para wanitanya. Golongan terakhir, merupakan medical check up yang diperuntukkan bagi mereka yang berusia di atas empat puluh lima tahun. Medical check up ini bisa dibilang paket lengkap karena ada tambahan pemeriksaan mata dan gigi.

Hari itu, saya dan rekan kantor yang lain datang ke RS Bhayangkara tempat medical check up dilaksanakan. Sudah beberapa karyawan lain di rumah sakit tersebut. Saya pun segera absen dan mengantri bersama karyawan yang lain. Saya lihat beberapa rekan ada yang sudah mulai melakukan pemeriksaan. Mulai dari pemeriksaan tekanan darah, air seni, jantung, hingga pap smear.

Hal yang paling saya tunggu dalam medical check up hari itu tentu saja pap smear. Sebagai wanita yang sudah menikah, memang dianjurkan untuk mengikuti tes ini agar bisa mengetahui adanya virus HPV di mulut rahim kita. Saya bersyukur pihak perusahaan mengadakan tes ini bagi karyawan wanitanya. Meski jujur agak takut juga dengan proses pengambilan sampelnya yang kayaknya menakutkan itu.

Untuk melakukan uji pap smear sendiri, dilakukan dengan cara memasukan sebuah alat bernama spekulum ke dalam vagina. Alat ini berfungsi untuk membuka bagian vagina. Setelah spekulum dimasukkan, perawat/bidan akan mengambil sampel jaringan pada mulut luar vagina. Setelah sampel jaringan diambil, spekulum bisa dikeluarkan dan proses pemeriksaan awal selesai.

Sekitar dua bulan kemudian, hasil dari medical check up yang saya jalani sudah keluar. Beberapa hasil yang harus saya perhatikan antara lain berat badan yang kelebihan, lalu jumlah trombosit yang berlebih, juga kolesterol yang menyentuh ambang batas. Adapun untuk hasil pemeriksaan pap smear, saya mendapat hasil radang serviks kronis. Saat saya menghadap dokter untuk mendapat penjelasan, dokter menanyai saya, “Apakah Ibu sering gatal-gatal di sekitar vagina? Keputihan berlebih? Sakit saat berhubungan?” tanya dokter pada saya. Saya pun mengangguk.

Belakangan, karena penasaran saya coba menanyakan ulang perihal hasil pap smear ini pada dokter kandungan yang saya kunjungi. Jawabannya ternyata malah lebih enteng lagi. “Ah, 95 persen hasil  tes pap smear itu ya radang serviks kronis. Itu cuma infeksi yang harus diobati,” begitu kata dokter. Mendengar jawaban dokter tersebut, saya kembali lega. Setidaknya untuk saat ini tidak ada yang mengkhawatirkan dari kondisi rahim saya. Sayang dokter tidak menyebutkan dengan jelas infeksi apa dan bagaimana pengobatannya. Mungkin memang benar si radang serviks kronis ini berhubungan dengan keputihan. Semoga saja jika saya melakukan tes pap smear lagi hasilnya bisa lebih baik dari yang kemarin.

0 thoughts on “Medical Check Up

  1. Lekas sehat mbak Yana. MCU itu mahalnya ampun. Dulu pas kerja dan ngurusin calon pegawai buat MCU, aku terbelalak pas tahu biaya satu orang bisa 1,5 juta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *