Lesehan H. Djari

Hujan menyapa Ahad pagi di kota Banjarmasin. Lima orang wanita, di kediaman mereka masing-masing saling bertukar pesan melalui ponsel mereka.

“Jadi nggak kita berangkat? Hujan lebat, nih,” kata wanita pertama.

“Jadi aja. Kita tunggu sampai hujan reda,” jawab wanita yang lain.

“Ada yang berpikiran dibatalkan saja rencananya?” tanya wanita yang satu lagi.

“Nggak. Kita tetap berangkat. Insya Allah hujannya tidak lama,” wanita kedua bersikeras meski sebenarnya hujan masih turun dengan lebatnya

Wanita ketiga pun akhirnya mengalah, dan setuju untuk menunggu hujan reda. “Ok,” begitu balasnya melalui ponselnya.

Sekitar pukul delapan, hujan reda. Keempat wanita berkumpul di depan perpustakaan daerah kota Banjarmasin, untuk kemudian berangkat bersama-sama menuju kota tetangga, Banjarbaru. Seorang lagi teman mereka sudah mendahului bersama temannya. “Kita langsung bertemu di Murjani saja,” begitu katanya lewat pesan BBM.

Perjalanan menuju kota Banjarbaru umumnya ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam. Sayang, hanya beberapa kilometer dari lokasi pertemuan, hujan kembali menyapa dengan lebatnya. Keempat wanita pun berteduh di sebuah minimarket, sekalian membeli beberapa camilan.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tiga puluh ketika akhirnya mereka bisa melanjutkan perjalanan. Meski masih sedikit gerimis, keempat wanita meluncur menuju kawasan Taman Van der Pijl, atau yang lebih dikenal dengan nama kawasan Murjani.

Setelah terkumpul, enam wanita dengan empat motor memacu motor menuju arah hutan Pinus. Di pertigaan menuju Mentaos, motor memasuki sebuah jalan kecil. Pada salah satu sisi, terdapat papan nama kecil. Lesehan H. Djari, begitu yang tertulis pada papan nama tersebut. Motor pun berbelok menuju area parkir yang tersembunyi di balik semak-semak.

Nuansa hutan langsung menyambut ketika tiba di depan lesehan. Tujuh buah saung masih kosong melompong. Maklum saja, saat itu belum lagi jam makan siang. Keenam wanita pun langsung memilih saung yang paling besar untuk tempat makan mereka. Lantainya ditutupi kain perlak, dengan bunyi air yang menentramkan suasana.

Beberapa saat menunggu, akhirnya salah seorang dari mereka berjalan menuju sebuah rumah yang ada di bagian belakang. Di sana beberapa orang wanita tampak bersiap-siap dengan pekerjaan mereka. Pesanan pun ditulis. Dua ayam bakar, dua nila bakar, dan dua patin bakar. Pelengkapnya berupa urap dan lalapan. Sembari menunggu pesanan dimasak dan diantar, keenam wanita sibuk mengabadikan momen di tempat makan yang sangat asri tersebut.

Tak berapa lama, pesanan pun tiba. Ikan-ikan segar yang langsung ditangkap dari kolam sudah tersaji di atas piring. Secobek sambal tomat nan segar juga tak lupa disajikan. Menambah selera makan keenam wanita. Segera saja mereka berenam menyerbu ikan pesanan mereka masing-masing. Sambil menghabiskan makanan, tak lupa mereka memuji kelezatan masakan yang mereka santap saat itu.

Makan siang pun usai. Sudah saatnya keenam wanita berpisah. Ada yang langsung pulang ke Banjarmasin, ada pula yang mampir dulu ke tujuan berikutnya. Sebelum pulang, keenam wanita menyempatkan diri singgah di sebuah taman anggrek yang terletak tak jauh dari lesehan. Tujuannya apa lagi kalau bukan berfoto ria 😀

 

 

0 thoughts on “Lesehan H. Djari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *