Konten Dewasa dalam Film Animasi

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan film Sausage Party dari seorang kawan. Berhubung suami suka film animasi, maka saya tawarkan film ini padanya. Suami pun menonton film ini di laptopnya sementara saya mengerjakan hal lain. Selesai menonton, saya pun menanyakan suami tentang film yang baru saja ditontonnya.

“Aku mau muntah nonton filmnya. Ada adegan kekerasan dan seks-nya,” kata suami pada saya.

Saya jelas terkejut mendengar jawabannya.

“Kok bisa, sih? Itu kan film animasi?” tanya saya lagi.

“Ya biar namanya animasi. Coba aja kamu tonton filmnya. Bagian akhirnya yang parah banget,” tambah suami.

Berhubung memang tak terlalu berminat dengan film animasi, saya pun mengikuti saran suami menonton bagian akhir dari film itu. Benarlah apa kata suami saya. Film Sausage Party ini benar-benar bukan tontonan anak-anak. Bahkan kayaknya jika orang dewasa yang menontonnya pun akan merasa jengah saking vulgarnya adegan yang ditampilkan oleh para makanan ini.

Sausage Party sendiri, dari yang saya dapat di Wikipedia, bercerita tentang kehidupan para makanan di supermarket bernama Shopwell. Para makanan ini sedang menanti-nantikan saat diri mereka berpindah tangan kepada pembeli. Namun kemudian baru diketahui kalau setelah dibeli pelanggan, nasib buruk sudah menanti mereka, yakni dimakan oleh pembelinya. Mengetahui hal ini, para makanan ini pun berusaha melarikan diri dan kemudian melakukan pembalasan dendam kepada pembelinya.

Saya tidak tahu ya, sinopsis ini cukup menarik atau tidak. Namun, untuk saya pribadi, dari judulnya juga saya sudah tidak sreg dengan film ini. Sausage Party? Pesta sosis? Pesta apa yang dimaksud? Sebagai orang dewasa, jujur pikiran saya langsung menjurus ke arah yang negatif saat membaca judul film ini. Selain itu posternya juga tidak menarik. Kalau urusan trailer film sih biasanya pasti akan dipilih bagian-bagian menariknya saja kan?

Berkaca dari pengalaman ini, saya pun semakin sadar kalau tidak semua yang namanya film animasi itu aman ditonton. Sebenarnya ini bukan hal yang baru sih. Seperti yang kita tahu, beberapa film animasi masih menyisipkan unsur dewasa dalam ceritanya. Contoh sederhana misalnya adegan pukul-memukul, atau juga adegan berciuman antar tokohnya. Dan sebagai seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi orang tua, tentunya ini akan menjadi tugas saya memilihkan tontonan yang bermutu bagi anak saya nanti.

Secara umum, sebenarnya sudah ada panduan yang sangat standar dalam memilih sebuah tonton. Saya sendiri, biasanya sebelum menonton sebuah film selalu berpatokan pada dua hal, yakni mengecek rating film di situs IMDB dan membaca review-review terkait jalan cerita dari film yang akan ditonton. Sebagai penonton, saya tidak mau dong seperti memilih kucing dalam karung. Datang ke bioskop dengan semangat, trus pulangnya ngomel-ngomel karena filmnya jelek. Dengan mengecek rating dan review sebuah film, setidaknya saya bisa memiliki gambaran akan isi cerita film tersebut. Kalaupun ternyata filmnya tetap jelek di mata saya, ya itu berarti selera saya tidak sama dengan penonton yang lain.

Untuk film animasi sendiri, selain mengecek rating dan review dari penonton, nama-nama besar seperti Disney dan Pixar Insya Allah masih menjadi jaminan akan film animasi yang bermutu. Baik itu dari segi cerita, kualitas gambar, hingga perolehan penghargaan di festival film. Dan berhubung saya bukan penggemar film animasi, maka biasanya saya baru akan tertarik menonton sebuah film animasi kalau film itu menang penghargaan. Hehe.

30 thoughts on “Konten Dewasa dalam Film Animasi

  1. Udh 2x baca reviewnya dan jujur aja bikin aku penasaran pgn nonton :D. Tp pasti mw nonton sendiri bareng suami, ga ngajakin anak2 :). Bagian terakhirnya katanya orgy gt ya mba.. g kebayang ini makanan2 sampe ngelakuin orgy -_-

    • Iya. Parah banget lah kalau menurutku. Sebenarnya bimbang juga mau nulis tentang ini. Soalnya bisa bikin orang tambah penasaran. Tapi kan siapa tahu bisa jadi bahan pertimbangan buat yang mau ngajak anak nonton film animasi

    • Kalau dilihat dari posternya memang rate R mbak filmnya ini. Jadi memang bukan buat anak-anak. Tapi ya kadang kita kan mikirnya film animasi ya buat anak-anak. Makanya harus lebih hati-hati

  2. Ini film emang GA BAGUS BANGETTTTT. Saya aja udah nikah, udah ada anak juga, agak jijik dan ngeskip plus cepet2in adegannya, cuma karena pengen tau akhirnya gimana. Ealah endingnya gaje banget dan errrr adegan2 gituan doank sampe lebih banyak lagi skap skipnya.

    Ditonton pas lagi iseng2 aja cari streaming. Kirain film animasi anak, soalnya kan suka bagus ya animasi buat anak tuh. Ga liat2 trailer, review, apalagi rating. Karena kadang rating pun masalah selera. Hisyyyy ga taunya ini mah udah film dewasa banget banget kalo pemerannya pakai manusia asli -________-. Kekerasan yang amat sadis banget dan frontal, darah dimana-mana, penggunaan narkoba, alkohol, LGBT, dan adegan2 sex baik lawan jenis maupun sesama jenis. Belum lagi dari awal sampe akhir bahasa yg dipakai kasar semua, terutama pemakaian kata f**k syalalala.

    Bener-bener ga rekomen banget deh pokoknya buat orang dewasa juga. Apalagi anak-anak -_____-

  3. udah sempat nonton film ini, tapi akhirnya dihentikan sebelum selesai, langsung beralih ke finding dory… ceritanya emang dewasa dengan ungkapan2 yang menjurus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *