Kenangan tentang Bisu

“Antung, nanti kalau mau minum teh atau kopi bisa minta tolong sama Bapak ini, ya,” kata salah satu rekan kerja ketika saya baru saja menjejakkan kaki di kantor yang sekarang. Saya pandangi sosok yang dimaksud. Beliau adalah sesosok pria berusia empat puluhan dengan tinggi sedang, berkumis, dan mengenakan topi. Satu hal yang saya ketahui kemudian, beliau ternyata tuna rungu dan kerap dipanggil Bisu.

Menurut cerita yang saya dengar dari teman-teman, Bisu sudah cukup lama berada di kantor tempat saya bekerja. Sehari-harinya beliau menyediakan jasa mencucikan mobil dan motor para karyawan di kantor. Selain itu, beliau juga membuatkan minuman pagi bagi kami semua. Kadang beliau juga membersihkan WC di ruangan kami meski sebenarnya sudah ada petugas cleaning service yang ditugaskan untuk itu. Sebagai penghargaan, karyawan di departemen kemudian sepakat memberikan gaji bulanan pada beliau.

Karena kondisi beliau yang tuna rungu, maka tentu bukan hal yang mudah untuk bisa berkomunikasi dengan Bisu. Hanya ada beberapa orang di kantor yang bisa benar-benar mengerti apa yang ingin dikatakan Bisu lewat bahasa isyaratnya. Pagi itu misalnya, Bisu datang sedikit terlambat ke kantor. Setiba di kantor, dengan semangat beliau menggerak-gerakkan tangannya seolah menggambarkan sesuatu. Saya yang melihat hal tersebut hanya bisa terbengong-bengong. Oleh salah seorang teman, saya kemudian diberitahu kalau Bisu baru saja bercerita kalau ban motor yang dipakainya bocor di jalan. Karena itulah beliau terlambat tiba di kantor.

Awal tahun ini, perubahan mulai terjadi pada sosok Bisu. Beliau mulai sering terlambat ke kantor bahkan kadang tidak masuk. Beberapa bahkan sempat mengatakan kalau Bisu mulai malas. Belakangan kami pun mengetahui kalau ternyata Bisu sedang sakit. “Kena usus buntu,” begitu kata seorang rekan kerja.

Mengetahui hal tersebut kami pun berinisiatif memberikan bantuan untuk pengobatan Bisu. Selain berobat ke dokter, Bisu juga sempat mencoba pengobatan alternatif. Setelah beberapa waktu tak masuk, Bisu kemudian muncul lagi di kantor. Yang cukup mengejutkan beliau terlihat sangat kurus dengan perut yang membesar. Dari cerita beliau, obat-obatan yang diberikan membuat beliau susah makan dan sering muntah. Karena itulah beliau menjadi semakin kurus. Sayangnya hanya beberapa hari beliau sempat masuk kembali untuk kemudian menghilang kembali.

Berhubung tak ada satu pun dari kami yang mengetahui tempat tinggal Bisu, maka tak ada yang mengetahui perkembangan kesehatan Bisu setelah beliau menghilang kembali. Seorang petugas cleaning service sebenarnya sempat mengatakan kalau penyakit Bisu semakin parah, namun entah mengapa tak satu pun dari kami yang berinisiatif menjenguk beliau.

Sampai kemudian sebuah kabar sampai ke telinga kami. Bisu sedang menderita liver dan tergeletak lemah di rumahnya. Beberapa rekan akhirnya berhasil menemukan rumah beliau dan membesuk serta mengambil foto beliau. Ah, begitu melihat foto yang dicetak tersebut rasanya sungguh tak menyangka bahwa ini adalah sosok Bisu yang selalu aktif bekerja. Sosoknya terlihat begitu lemah dan ringkih, dengan perut yang membuncit.

Belum lagi saya dan teman-teman satu divisi sempat membesuk, sebuah kabar baru datang lagi. Bisu meninggal dunia. Rupanya setelah teman-teman membesuk, kondisi beliau drop dan harus dilarikan ke rumah sakit. Pada akhirnya, saya dan teman-teman pun hanya bisa menitipkan doa semoga amal ibadah Bisu diterima Allah SWT dan segala dosa-dosanya digugurkan selama bulan Ramadhan ini. Aamiin.

22 thoughts on “Kenangan tentang Bisu

  1. Amin.
    Tapi emang kalau tuna rungu dari kecil biasanya dia akan busi.
    butuh sekolah khusus dan sangat mahal.
    aku salut dengan kamu dan kawan kawan 1 team yg memperkerjakan beliau.

  2. terharu bacanya…
    mudah2an Bisu diterima di sisiNya.
    Btw, agak sedih lagi sih kalo buat saya karena dia dipanggil Bisu. emangnya ga ada namanya ya? kan kesian, dia emang bisu, tapi ga perlu juga manggil dia dengan sebutan yang, ya, keterbatasannya itu. sayang aja gitu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *