Jelajah Pasar Tradisional

Setelah resmi menyandang status sebagai seorang istri, salah satu kegiatan yang saya jalankan adalah menyiapkan makan untuk suami tercinta. Mungkin ada yang mengatakan kalau menyiapkan makan itu sebenarnya bukan tugas istri. Namun di mata saya, ini adalah salah satu cara untuk meraih ridho suami plus juga menghemat pengeluaran 😀

Berhubung masih tinggal bersama di rumah ibu saya, maka bahan-bahan keperluan memasak dibeli oleh ibu saya. Namun ada kalanya juga saya sendiri yang harus turun ke pasar untuk membeli lauk pauk sehari-hari. Misalnya saat ibu menginap di rumah nenek selama beberapa hari. Salah satu keuntungan dari ditinggal selama beberapa hari ini adalah kami bisa lebih leluasa mengeksplorasi dapur.

Untuk agenda ke pasar sendiri biasanya saya lakukan pada jam istirahat kantor. Kebetulan dekat kantor saya ada pasar tradisional. Namanya Pasar Kuripan. Sebuah pasar bertingkat yang tak hanya menjual sayur mayur namun juga aneka pakaian dan perhiasan.

Awalnya saya kira untuk membeli ikan dan sayur-mayur hanya bisa dilakukan pada lantai dua pasar. Namun seiring dengan frekuensi kunjungan yang meningkat, saya pun mengetahui kalau di lantai bawah juga ada penjual sayur dan ikan. Bahkan bisa dibilang ikan di lantai dasar ini cukup beragam. Mulai dari ikan nila, gabus, cumi, hingga ikan hiu bisa ditemukan di lantai dasar. Hal ini tentunya membuat saya sangat bersemangat dan (kadang) jadi kalap saat berbelanja.

Selain Pasar Kuripan, pasar lain yang kerap saya sambangi adalah Pasar Teluk dalam yang berlokasi di jalan Sutoyo S. Nah, kalau di Pasar Kuripan saya kerap membeli sayur-mayur dan ikan, maka Pasar Teluk Dalam menjadi tujuan saya jika ingin membeli gamis murah meriah. Dulunya, saya selalu ke Pasar Sudimampir jika ingin membeli gamis. Namun karena di Pasar Sudimampir rata-rata menjual gamis dengan bahan jersey, saya pun jadi malas ke sana.

Tak lama kemudian adik saya mengabarkan kalau di Pasar Teluk Dalam ada gamis harga 150 ribu. Melesatlah saya menuju Pasar yang letaknya kurang lebih satu kilometer dari rumah orang tua saya tersebut. Benar saja, di pasar ini gamisnya murah-murah dengan lingkar rok bawah yang lebar dan bukan berbahan jersey. Sejak saat itu, setiap kali mampir ke pasar ini saya harus siap-siap kehilangan uang di dompet gara-gara ngiler melihat gamis yang murah-murah ini.

Adapun jika ingin berburu kerudung dan jilbab, maka Pasar Kalindo bisa menjadi pilihan. Pasar ini terletak di jalan Belitung Darat yang dulunya terkenal dengan Pasar Tungging-nya. Dulunya Pasar Tungging merupakan pasar kaget di sepanjang jalan Belitung Darat yang menjual pakaian-pakaian bekas dari luar negeri. Pasar ini buka dari sore hingga malam hingga berhasil menjadikan jalan Belitung Darat macet setiap harinya.

Berkali-kali penertiban dilakukan namun hal tersebut sepertinya tidak membuat kapok para pedagang ini. Bahkan setelah dipindahkan ke lokasi yang sekarang (Pasar Kalindo), tidak mengurangi jumlah pedagang di sepanjang jalan Belitung. Malah mungkin semakin banyak jika dihitung dengan rumah makannya. Bedanya, pedagang-pedagang itu sekarang lebih rapi karena memiliki tokonya sendiri. Mungkin bisa dibilang daerah Jalan Belitung ini daerah yang sangat strategis untuk berjualan makanya para pedagang berbondong-bondong membuka lapaknya di sana.

Tentang Pasar Kalindo sendiri, sebenarnya pakaian yang dijual di sana tak jauh berbeda dengan pasar lainnya. Bahkan untuk kerudung dan jilbab sendiri, mungkin koleksinya masih kalah jauh dengan pedagang di pasar besar seperti Pasar Sudimampir. Yang membuat pasar Kalindo selalu penuh setiap harinya mungkin karena faktor buka malamnya itu plus kalau beli kerudung dan jilbab di pasar ini harganya pas jadi nggak ribet nawar lagi.

NB : Sayang banget saya nggak ada foto dari pasar-pasar yang disebutkan di atas 🙁

11 thoughts on “Jelajah Pasar Tradisional

  1. Belanja di pasar tradisional itu ada “rasa” yang tidak didapatkan di pasar modern. Saya beberapa kali ke pasar Sudimampir untuk beli ikan kering dan kue buat oleh-oleh.

  2. Asyik, banyak pasar dan semuanya unik-unik :hehe. Saya suka dengan pasar tradisional soalnya ibu saya berjualan di satu antaranya. Ada kesan yang kuat, kesan yang menandakan kalau saya ada di rumah ketika saya membantu ibu berjualan di pasar dan bertemu dengan rekan sesama pedagang, supplier barang, atau langganan :hehe. Saya membayangkan, suasana pasar di kota tempat Mbak tinggal ini pasti asyik banget buat dijelajahi :hehe.

  3. Aku sampe segede gini masih suka nemenin ibuk belanja sayur di pasar tradisional loh mbak Yana 😀 aku suka kalo udah masuk ke pasar. Kalau dulu biasanya dibonusin bubur sumsum atau gado-gado karena sudah ngebantuin angkut belanjaan #modus hehehe

    • iya nih, mbak. di pasar itu suka ada printilan yang lucu-lucu jadinya pengen beli deh :D. kalau ke mal kan pasti mikir karena harganya sedikit lebih mahal 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *