It’s Okay It’s Love

 

“Kekasihmu menderita skizofrenia,” begitu kata seniorku saat aku tiba di klinik pribadinya. Selain dirinya, hadir juga seorang wanita lain yang merupakan rekan kerjaku di rumah sakit.

Aku terdiam. Berusaha mencerna kalimat yang baru diterima telingaku. Beberapa menit yang lalu, aku baru saja pulang dari kencanku bersama kekasihku. Telepon dari kedua orang inilah yang akhirnya membawaku ke tempat ini. “Ada hal penting yang ingin kukatakan,” begitu katanya dalam telepon.

“Apa gejala aktifnya,” kataku setelah berdehem, membersihkan kerongkonganku.

“Lihatlah video yang ada di laptopku. Kau akan mengerti.”

Aku berjalan menuju meja yang terletak di salah satu sudut ruangan. Laptop itu menyala dengan sebuah video yang masih belum diputar. Kutekan tombol play yang ada di monitor. Pelan tapi pasti adegan itu pun mulai hadir di hadapanku.

Kekasihku sedang memukul dirinya sendiri. Tidak. Dia sedang berkelahi dengan seseorang. Namun tidak ada siapapun selain dirinya dalam video tersebut. Dia bertingkah seperti orang yang sedang dipukuli meski sebenarnya ia memukuli dirinya sendiri. Dia juga menjatuhkan dirinya sendiri ke tanah. Dia babak belur. Namun oleh tangannya sendiri.

Pikiranku kemudian melayang pada pertemuan kami beberapa waktu sebelumnya. Saat itu kulihat wajahnya memar-memar. Ketika kutanyakan apa yang terjadi, ia hanya tersenyum dan berkata, “Seorang temanku dipukuli ayahnya. Aku tak tahan dan berusaha melindunginya.”

“Apakah kekasihmu memiliki seorang teman yang ingin dilindunginya?” Seniorku bertanya lagi.

Aku berusaha mengingat. Sebuah nama langsung muncul di kepalaku. Kekasihku cukup sering menceritakannya padaku. Dia adalah seorang pemuda yang dikenal kekasihku tiga tahun yang lalu. Usianya enam belas tahun yang kerap dipukuli ayahnya. Persis seperti yang dialami kekasihku di masa remajanya. Sayangnya hingga hari ini aku belum pernah bertemu dengan pemuda tersebut.

Aku menganggukkan kepala.

“Sosok itu tidak nyata. Dia adalah gambaran kekasihmu di masa lalunya.”

Aku berusaha mengatur nafasku. Kepalaku mulai terasa berat dan dadaku semakin sesak. Mungkinkah ini terjadi?

“Tetap saja bukan kita harus melakukan pemeriksaan menyeluruh padanya? Siapa tahu ini berkaitan dengan otaknya. Bisa saja dia terkena tumor otak?” Aku masih berusaha membela kekasihku.

“Kau adalah ahli jiwa. Aku yakin kau pun mengetahui gejala-gejala yang dialaminya. Dia sudah berhalusinasi selama tiga tahun dan dia mulai melukai dirinya sendiri.”

Aku diam. Berusaha tetap pada pendirianku.

“Kau tahu kan puncak dari merusak diri sendiri yang dilakukannya?”

Aku tak menjawab.

“Bunuh diri,” kata seniorku kemudian, menutup pembicaraan kami.

***

Adaptasi bebas dari drama Korea It’s Okay It’s Love.

 

27 thoughts on “It’s Okay It’s Love

  1. Bulan Nararya mb Sinta kisahnya agak mirip jua ka. Tapi psikolog, di it’s okay ini psikiater lo. Psikolog-nya ada gangguan psikologi jua sama tapi ringan drpd pasien2nya.

  2. Mba nonton drama ini juga yaah? Endingnya agak shock krna tyta dia ada teman bayangan ya mb. Tp krna pemainnya ganteng, kesan schizophrenia-nya jg ga terkesan terlalu seram. Aku suka ost drama ini

    • kalau aku sih dari awal emang sudah curiga sama sosok kang woo itu. cuma yang bikin rada ngeri dia itu nggak langsung hilang setelah jae yul tahu dia cuma halusinasi. kayak jadi hantu gitu 😀
      iya aku juga suka sama ost-nya. kereen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *