Ikhtiar Hamil

Selang satu bulan setelah pernikahannya, adik saya mengirimkan gambar testpack bergaris dua. Aku hamil, begitu tulisnya dalam pesan. Saat itu masih subuh hari, saat saya dan ibu masih sibuk berkutat di dapur dengan kue olahan kami.

Berkaca dari pengalaman adik itu, saya pun yakin setelah menikah akan langsung berbadan dua. Namun meski lahir dari rahim yang sama, urusan nasib tentulah berbeda. Hingga bulan keempat pernikahan, saya tak kunjung hamil. Yah, namanya nikah usia 30, jadinya pengen cepat punya anak aja. Kalau telat sih sempat beberapa kali. Tapi pas dites hasilnya negatif selalu.

“Gimana kalau aku ke tukang urut, Mas?” kata saya pada suami setelah lagi-lagi tamu bulanan datang. Kebetulan di kantor saya ada seorang kakak yang berhasil hamil setelah perutnya diurut oleh seorang tukang urut.

“Ya, terserah kamu aja,” kata suami saya pendek.

Maka dengan ditemani seorang rekan, saya pun mendatangi ibu tukang urut yang ternyata rumahnya tak jauh dari tempat saya dan suami tinggal.

“Wah, kamu ini rahimnya miring. Makanya tumpah terus kan setelah hubungan?” begitu kata Bulek (panggilan ibu tukang urut) saat mengurut bagian perut saya. Saya hanya mengangguk mendengar kata-kata Bulek. Setelah selesai urut-mengurut, Bulek juga menyarankan hari yang pas untuk kami berhubungan. Sayangnya sepertinya usaha pertama saya ke tukang urut tersebut belum membuka jalan untuk bisa hamil. Kemungkinan karena waktu itu masa suburnya sudah lewat jadi ya nggak jadi deh proses pembuahannya.

Setelah ke tukang urut, usaha kedua saya untuk hamil adalah program ke dokter. Kebetulan setelah menikah saya sempat ngobrol dengan tetangga yang program ke dokter untuk kehamilannya. Saya pun dengan semangat mendatangi dokter kandungan tersebut ke Rumah Sakit tempatnya berdinas. Untuk kunjungan pertama ini, rahim saya dicek lewat USG transvaginal. Sebelumnya juga ditanyakan kapan haid terakhir saya.

“Rahimnya baik-baik saja. Tidak ada kista atau apapun. Nanti kamu balik lagi pas jadwal haid bulan depan, ya,” begitu kata dokter kandungan.

Bulan berikutnya, saya datang lagi ke dokter kandungan. Kali ini dokter kandungan memberikan dua jenis obat pada saya (saya lupa namanya). Setelah saya googling, ternyata obat yang diberikan dimaksudkan untuk merangsang proses ovulasi pada sel telur saya.

Secara rutin saya pun mengkonsumsi obat yang diberikan dokter. Namun, kali lagi-lagi sepertinya Allah belum mengizinkan saya untuk hamil. Pasalnya, tepat di masa subur saya sakit! Otomatis lah ya, program bikin anaknya gagal total. Yang ada saya harus fokus menyembuhkan diri dari penyakit yang menyerang saya kala itu.

Karena merasa Allah belum mengizinkan saya untuk punya anak, saya pun berusaha pasrah. Yah, mungkin harus lebih sabar nunggunya. Toh masih banyak pasangan lain yang lebih lama nunggu untuk hamil. Sekalian juga untuk memperkuat hubungan sama suami. Begitu yang ada di pikiran saya kemudian. Kalau suami sih sepertinya lebih santai menghadapi saya yang belum hamil. Heu.

Satu hari, salah seorang istri dari paman saya menawarkan untuk datang ke tukang urut di desa tempat keluarga saya banyak tinggal di Aluh-aluh sana. Awalnya saya tidak terlalu antusias dengan saran beliau ini. Soalnya kan saya sudah pernah diurut dan belum berhasil. Kebetulan juga saat itu saya dan suami sedang mencoba pengobatan herbal sebagai alternatif lain yang kami jalani untuk program hamil sekalian untuk obat penyakit saya juga.

Namun mungkin memang waktunya yang pas dan sudah takdir Allah, tepat saat saya berkunjung ke Aluh-aluh untuk acara pernikahan, eh nenek tukang urutnya ada di kediaman sepupu yang baru melahirkan. Tanpa pikir panjang ibu saya pun langsung meminta nenek mengurut saya. Jadilah saat para tamu mengunjungi sepupu yang baru melahirkan, saya di kamar lain diurut perutnya.

Untuk urut yang kedua ini, Nenek tukang urutnya tak banyak bicara. Tapi kalau dari gaya-gaya mengurutnya sih kayaknya sama dengan proses urut yang pertama. Rahim saya miring dan harus dibetulkan posisinya.

Lalu, apakah usaha saya yang kali ini berhasil? Alhamdulillah satu bulan setelah kembali dari Aluh-aluh, saya positif hamil. Mungkin ini karena Nenek tukang urut lebih jago ngurutnya ketimbang tukang urat pertama. Atau juga karena saat diurut bertepatan dengan masa subur saya. Bisa juga ada pengaruh dari obat herbal yang saya dan suami minum selama beberapa minggu sebelumnya. Yang saya tahu, jelang satu tahun pernikahan, Allah telah memberi izinnya pada saya untuk hamil.

22 thoughts on “Ikhtiar Hamil

  1. Alhamdulillah, turut seneng mba 🙂 Saya jg sudah menikah 7 bulan dan masih blm isi. Kadang suka sediiih dan deg2an hehe tapi yakin Allah pasti Maha Tahu yg terbaik utk umat-Nya yaa..

    • Iya. Kalau kata dokter kan setelah satu atau dua tahun apa ya baru ke dokter. Tapi mungkin karena pengaruh umur jadinya aku usaha banget. Tapi semuanya dikembalikan ke Allah juga. Kalau belum hamil malah bisa tuh puas-puasin pacaran sama suaminya 🙂

  2. Saya hamil indent setahun mbak, saya pikir emang belum waktunya aja sih. Setelah hamil, berturut2 deh hamilnya.
    Sehat selalu ya mbak

  3. Alhamdulillah. Barakallah. Sekedar meluruskan: tidak ada istilah rahim miring maupun rahim rebah. Dan setelah hamil ini jangan sekali2 mendatangi atau didatangi tukang urut ya mbak Yana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *