Hujan yang Dinanti

“Saya ini sudah bayar tiap bulan tapi air nggak mengalir di rumah saya selama berhari-hari. Dasar perusahaan payah!”

Suara Bapak berkumis di hadapan Linda terdengar sayup-sayup di telingaku. Setidaknya sudah ada tiga orang hari ini yang melaporkan hal yang sama di bagian pelayanan. Sebagai customer service, tak ada pilihan lain bagi Linda selain mendengarkan omelan orang-orang tersebut.

“Huh, akhirnya pergi juga tuh Bapak. Sampai lapar aku dengerin dia ngomel-ngomel. Makan yuk,” kata Linda setelah tak ada lagi pelanggan yang menghampiri mejanya.

Sejak kemarau melanda beberapa bulan terakhir, perusahaan tempatku bekerja memang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih bagi pelanggan. Kondisi sungai yang terkena intrusi air laut membuat air tak bisa didistribusikan secara normal dan merata.

Hal ini tentu saja berpengaruh pada kepuasan konsumen. Tak terhitung sudah berapa orang yang datang ke kantor melaporkan rumahnya yang tak kebagian air. Belum lagi keluhan lewat telepon yang rasanya tak berhenti berdering sepanjang hari. Aku sendiri cukup beruntung tidak ditempatkan langsung di bagian pelayanan konsumen.

“Langitnya gelap!” seru Linda saat kami berada di parkiran. Wajahnya terlihat sangat bahagia.

“Alhamdulillah, moga-moga aja hujan turun segera ya, Lin,” balasku tak kalah ceria pada Linda. Di bulan November ini sepertinya permohonan kami akan turunnya hujan dikabulkan olehNya.

β€œTulisan ini diikutsertakan Giveaway November Rain”

presented by β€œKeina Tralala”

32 thoughts on “Hujan yang Dinanti

  1. alhamdulillah… hujan sudah turun…

    hmm….. nulis apa yah? tentang hujan bersama syaikhan sudah pernah saya buat…. kalau untuk sabiq, masih kekecilan…. masa diajak manid hujan… eh tapi pernah naik motor bertiga di bawah gerimis

  2. Customer service itu sebetulnya pekerjaan yang susah bingits ya Mbak :hehe. Menganggap orang lain manusia bahkan ketika mereka tidak dianggap manusia oleh pelanggan :huhu. Semoga hujan yang turun menjadi berkah dan membawa berkah bagi semua orang yang menantinya. Cerita yang bagus!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *