[Fiksi] Deria dan Ular Gota

Hingga satu minggu yang lalu, Deria tak pernah mengerti mengapa beberapa minggu terakhir ibunya selalu melarangnya mendekati di sungai yang mengaliri desa tempat mereka tinggal. Di saat teman-temannya tertawa sambil mencipratkan air ke wajah masing-masing, Deria hanya bisa menatap dari pinggir sungai. Ia tak mungkin ikut bergabung karena ibu akan langsung meneriakinya dari bagian dapur rumah mereka. Deria sendiri merasa heran dari mana ibunya tahu dirinya bermain air padahal ibunya berada di dalam rumah. Pernah satu kali Deria nekat ingin menceburkan dirinya ke air. Baru saja kakinya tercelup, sosok sang ibu sudah berada di pinggir sungai dengan tongkat di tangannya. Tanpa banyak bicara Deria terpaksa berdiri kembali dan berjalan mengikuti ibunya pulang ke rumah.

Alasan dari larangan ibu itu akhirnya Deria ketahui beberapa hari yang lalu. Saat itu, ia baru saja tiba di rumah setelah menghabiskan setengah harian di kediaman Levia, sahabat karibnya. Saat itu ibu sedang berada di dapur ditemani Mak Kaja, salah satu tetangga mereka. Mungkin karena ibunya terlalu asyik mengobrol sehingga tidak menyadari kehadiran Deria. Deria pun langsung masuk ke kamarnya. Saat dirinya hendak melepaskan pakaian yang dikenakannya, sayup-sayup didengarnya pembicaraan ibunya dengan Mak Raudah.

“Mak Niah, sudah dengar kabar terbaru belum? Si ular Gota muncul lagi!” tanya Mak Kaja pada ibunya.

“Benarkah?” tanya ibu kemudian.

“Begitu yang kudengar dari pak Aslan. Katanya salah satu anak sudah jadi korban. Itu lho anaknya Helmar.”

“Si Agna itu? Wah malang sekali nasibnya, ya? Berapa tahun usianya? Sepuluh? Sembilan?”

“Sembilan tahun. Dan ia baru saja merayakan ulang tahunnya minggu lalu.”

Setelah kalimat tersebut tak ada pembicaraan lagi antara ibunya dengan Mak Kaja. Deria sendiri hanya diam mendengarkan pembicaraan dua orang wanita dewasa ini. Sejujurnya ia tak terlalu mengerti dengan arah pembicaraan yang didengarnya itu.

“Bukankah Deria juga lahir dengan tanda lahir yang sama dengan si Agna?” suara Mak Kaja terdengar kembali.

Mendengar namanya disebut, jantung Deria langsung berdegup kencang. Tanda lahir? Apakah yang dimaksud Mak Kaja itu adalah tanda lahir berbentuk seperti cacing yang ada di bahu kirinya? Apa hubungannya dengan ular Gota yang sebelumnya disebutkan? Deria kemudian menempelkan telinganya ke dinding agar bisa lebih jelas mendengar pembicaraan ibunya dengan Mak Kaja. Sayangnya bukannya mendapat penjelasan, Deria malah mendengar pernyataan yang lebih membuatnya heran.

“Tidakkah sebaiknya kau ceritakan saja perihal tanda lahir itu pada Deria? Kurasa itu lebih baik ketimbang kau terus-terusan melarangnya untuk mendekati sungai,” Mak Kaja berkata kembali.

“Masalahnya kalau aku bercerita tentang tanda lahir itu, maka itu sama juga dengan menceritakan asal usul dirinya,” kata ibunya kemudian.

***

Dua belas tahun sudah Deria hidup hanya berdua bersama ibunya. Keduanya tinggal di sebuah desa bernama Desa Roselle. Desa ini dulunya merupakan salah satu bagian dari Kerajaan Bagmus, sebuah kerajaan besar yang sempat berkuasa puluhan tahun yang lalu. Kurang lebih ada lima puluh kepala keluarga yang tinggal di desa ini. Sebuah sungai selebar sepuluh meter membelah Desa Roselle menjadi dua bagian. Sungai ini merupakan sungai utama di kerajaan Bagmus dan juga merupakan pusat kehidupan di desa Roselle.

Ayah Deria meninggal saat usianya masih satu tahun. Kata ibunya, ayah meninggal saat dalam perjalanan pulang dari berdagang. Memang rata-rata penduduk di desa Roselle hidup dari berdagang. Mereka membawa buah-buahan dan hasil ternak melalui sungai menuju ke kota.

Tak banyak yang diketahui Deria tentang sosok ayahnya. Yang ia tahu hanyalah ayahnya dulu merupakan sosok pria yang cukup disegani di desa Roselle. Wajahnya tampan dnegan tubuh tinggi dan kulit putih bersih yang biasanya dimiliki kaum bangsawan. Ia memiliki sepasang bola mata tajam dan hidung bangir yang kini diwariskan kepada Deria. Selain itu, Deria juga memiliki benda peninggalan ayahnya yang diberikan tepat sebelum ayahnya pergi untuk berdagang.

Tentang sungai, memang ada beberapa mitos yang menyelimuti sungai di Desa Roselle. Salah satunya adalah tentang keberadaan ular Gota. Ular ini katanya merupakan ular raksasa yang tinggal di dasar sungai dan muncul setiap sepuluh tahun sekali. Tanda-tanda kemunculannya ditandai dengan air yang terus-menerus pasang selama satu bulan penuh. Selain itu warna air sungai juga berubah menjadi kehijauan jelang kemunculan ular Gota.

Dengan ukurannya yang besar, tentu saja keberadaan Ular Gota selalu membuat penduduk desa khawatir. Konon kabarnya untuk mencegah ular Gota muncul para penduduk desa mengadakan aneka macam ritual. Mereka mempersembahkan bermacam-macam makanan dan melemparkannya ke dasar sungai. Sayangnya semua usaha itu sia-sia. Setiap sepuluh tahun, pasti ada saja penduduk yang menjadi korban dari ular Gota ini.

Deria sendiri baru mengetahui hal ini setelah bertanya pada Levia. Sahabatnya itu bisa dibilang kamus berjalan. Ia sangat gemar membaca dan memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi. Nyaris semua buku yang ada di perpustakaan desa sudah pernah dibacanya. Selain itu Levia juga memiliki kemampuan khusus untuk bisa mengorek informasi dari mana saja. Tentang ular Gota ini, misalnya. Selain mengetahuinya dari cerita sang ayah, Levia juga mengetahuinya dari sebuah buku tua yang ia temukan di perpustakaan desa. Judul buku itu “Makhluk-makhluk Berbahaya Penghuni Dasar Sungai di Kerajaan Basmus”. Tebalnya kurang lebih lima ratus halaman dan dihabiskan Levia hanya dalam beberapa hari.

“Menurutmu apakah aku juga akan menjadi mangsa ular Gota itu?” tanya Deria setelah mendengar penjelasan tentang ular Gota. Jujur ia jadi semakin cemas setelah mengetahui cerita tentang ular Gota ini.

“Sebentar, kubaca dulu,” kata Levia. Ia kemudian kembali tenggelam dalam bacaannya.

“Ah, ini dia. Dalam buku ini disebutkan kalau ular Gotaanga hanya akan memangsa keturunan dari musuhnya,” Levia menunjukkan sebuah kalimat yang ia temukan di salah satu halaman.

“Lalu siapakah musuh dari ular Gota?” Deria bertanya lagi sambil matanya menatap ke lembaran kertas di hadapannya. Tak perlu waktu lama, ia dan Levia menemukan jawabannya.

Salah satu Raja dan beberapa prajurit kerajaan Bagmus pernah membunuh anak dari ular Gota. Sejak saat itu ular Gota bersumpah akan selalu memangsa keturunan orang-orang yang membunuh anaknya setiap sepuluh tahun sekali. Raja tersebut kemudian meninggalkan kerajaannya dan menjadi rakyat biasa agar keturunannya bisa diselamatkan, begitu yang tertulis di buku itu.

***

“Dari mana kau mengetahui tentang hal itu?” tanya ibunya malam itu di meja makan mereka. Sepulang dari rumah Levia, kepala Deria dipenuhi pertanyaan tentang Raja dan prajurit yang mendapat kutukan dari ular Gota. Jika memang benar apa yang tertulis di buku yang mereka baca itu, maka bisa dikatakan Deria dan Agna yang sudah menjadi korban adalah keturunan dari Raja dan prajurit.

“Levia dan aku menemukannya di salah satu buku tua di perpustakan,” jawab Deria pendek.

Ibu menghentikan makannya. Ia kemudian menatap Deria dengan menggenggam tangan putri kesayangannya itu.

“Kalau begitu apakah itu berarti aku juga akan mati, Bu?” tanya Deria setelah yakin ibunya membenarkan pertanyaan ayahnya.

“Entahlah. Ayahmu dulu berhasil selamat beberapa kali sebelum akhirnya ditemukan oleh ular Gota itu,” kata ibunya kemudian

“Maksud ibu? Ayah sebenarnya meninggal karena ular Gota?”

Ibunya hanya menunduk dan terdiam.

Begitu rupanya, kata Deria dalam hati. Jadi ayah bukan meninggal karena kapalnya tenggelam melainkan karena diserang oleh ular Gota.

“Kalau begitu, katakan padaku bagaimana cara ayah menghindari ular Gota?” Deria bertanya lagi pada ibunya.

***

Malam semakin larut. Deria dan ibunya berbaring bersama di tempat tidur Deria. Ini adalah kebiasaan yang selalu mereka lakukan jika Deria merasa gelisah di masa kecilnya. Ibunya akan menceritakan dongeng-dongeng kesukaannya hingga Deria tertidur. Untuk malam ini, dongeng itu berganti dengan kisah tentang ayahnya dan ular Gota.

“Kau ingat gelang yang diberikan ayahmu sebelum kematiannya?” tanya ibunya sambil membelai rambut Deria.

Deria mengangguk. Selama bertahun-tahun gelang itu tersimpan dengan rapi di salah satu kotak penyimpanannya. Mungkin karena bahannya yang terbuat dari perak yang membuat Deria enggan mengenakan gelang itu. Dia takut gelang itu akan hilang saat ia bermain. Selain itu ibu juga melarangnya mengenakan perhiasan apapun hingga usianya dua belas tahun.

“Ayahmu mendapatkan gelang itu dari ibunya. Gelang itu merupakan warisan turun-temurun dari keluarganya. Ibu sendiri tak tahu apa kegunaan dari gelang itu hingga jelang kematian ayahmu.”

Deria manggut-manggut mendengar penjelasan ibunya itu. Ia mengerti kemana arah pembicaraan ibunya. Gelang itu pasti merupakan benda yang bisa menangkal kedatangan ular Gota. Demi menyelamatkan buah hatinya, ayahnya mengorbankan dirinya dengan memberikan pelindung dirinya. Hal yang sama yang pasti juga dilakukan nenek dan para leluhurnya yang lain.

“Mulai sekarang pakailah selalu gelang itu kemana pun kau pergi. Semoga saja dengan begitu kau bisa terhindar dari serangan ular Gota itu,” kata ibunya kemudian

“Apakah hanya ayah yang memiliki gelang itu, Bu?” tanya Deria lagi. Ia mendadak teringat pada Agna yang menjadi korban ular Gota. Jika dulu ayah Agna berhasil hidup selama bertahun-tahun, bukankah itu berarti Agna seharusnya juga memiliki gelang yang sama dengan dirinya?

“Seharusnya tidak. Dari yang diceritakan ayahmu, gelang itu diberikan kepada Raja dan semua prajuritnya oleh seorang pandai besi. Mungkin saat itu anak itu lupa mengenakan gelangnya,” kata ibunya lagi.

Deria meraba gelang perak di pergelangan tangan kirinya. Pada permukaan gelang tersebut tampak ukiran seekor ular. Siapapun yang membuat gelang itu, pastilah ia mengetahui dengan pasti kelemahan ular Gota. Untuk saat ini, ada satu pertanyaan besar yang muncul di kepalanya. Daripada harus bergantung pada sebuah benda untuk menyelamatkan hidupnya, tidakkah lebih baik untuk mengetahui cara mengalahkan ular Gota itu? tanya Deria dalam hati. Tak lama, mata Deria mulai tertutup dan ia pun tertidur di pangkuan ibunya.

***

0 thoughts on “[Fiksi] Deria dan Ular Gota

  1. Ini masih ada lanjutannyakah Mbak? Penasaran euy, nanti jadi kisah petualangan atau bagaimana ya… *membayangkan sendiri*. Atau mungkin ular tersebut punya ceritanya sendiri… oh ya, di awal cerita ada disebut Mak Raudah, itu maksudnya siapa Mbak? Apa Mak Kaja, cuma mungkin namanya belum diganti? Ah, pokoknya saya menantikan lanjutan ceritanya, semoga suatu hari nanti bisa selesai :amin!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *