Donor Darah

Beberapa waktu yang lalu, perusahaan tempat saya bekerja mengadakan kegiatan donor darah untuk para karyawan. Kegiatan ini diadakan dalam rangka rangkaian peringatan ulang tahun perusahaan yang ke-42.

Saat mengetahui kegiatan ini, jujur saya tidak tertarik untuk mengikutinya. Selama bertahun-tahun saya memyimpan ketakutan pada yang namanya donor darah. Alasannya sederhana saja. Saya ngeri melihat darah saya dihisap lewat jarum suntik.

Namun kemudian salah satu teman kantor berhasil membujuk saya. Meski takut, sebenarnya saya juga menyimpan rasa penasaran tentang donor darah ini. Selain karena tahu donor darah bermanfaat bagi orang banyak (buat saya sendiri juga), kondisi fisik saya sangat memenuhi syarat untuk melakukan donor darah. Akhirnya, dengan meyakinkan diri, saya dan dua orang teman melangkahkan kaki menuju tempat kegiatan donor darah diadakan.

Begitu sampai di aula, tampak beberapa karyawan sedang mendonorkan darahnya. Tampak juga karyawan lain yang sedang menunggu giliran donor darah. Pada salah satu sisi aula, tampak bersusun kotak-kotak kue dan minuman bagi mereka yang sudah selesai mendonorkan darah.

Saya langsung mendaftarkan diri pada panitia. Setelah mendaftar, saya diberi formulir berisi data diri untuk diisi. Formulir tersebut kemudian diserahkan pada petugas yang menunggu di sisi kiri aula.

Begitu menyerahkan formulir, tekanan darah saya pun diperiksa. 120/80, begitu yang ditulis petugas pada formulir yang saya serahkan. Setelahnya, saya dipersilakan menunggu giliran untuk donor darah.

Sambil menunggu, saya perhatikan rekan-rekan lain yang sedang mendonorkan darahnya. Mereka berbaring dengan santai pada tempat yang disediakan. Di pergelangan tangan mereka terpasang jarum dan selang yang mengalirkan darah menuju kantong darah yang diletakkan di lantai.

Beberapa menit menunggu, akhirnya tiba giliran saya. Saat merebahkan diri petugas bertanya apakah saya merasa pusing atau mual. Meski sebenarnya merasa sedikit pusing akibat aroma darah di sekeliling, saya memutuskan memberi jawaban “Tidak.”

Petugas kemudian bersiap untuk memasang jarum suntik di lengan kiri saya. “Tangannya dikepal yang kuat ya, Mbak,” begitu kata petugas pada saya. Saya pun mengepalkan tangan kiri sementara tangan kanan saya menutup mata. Bisa saya rasakan petugas mengoleskan alkohol di lengan saya dan mulai mencari pembuluh darah saya.

Sebuah suntikan kecil saya rasakan di lengan kiri saya. Sayangnya sepertinya petugas itu gagal menemukan pembuluh darah yang tepat. “Wah, kayaknya ngambil darahnya di tangan kanan saja, Mbak,” katanya pada saya.

Saya pun berpindah tempat. Dibandingkan dengan percobaan pertama, kali ini saya lebih santai. Petugas pun bisa dengan mudah menemukan pembuluh darah di lengan kanan saya. Setelah jarum dan selang terpasang, dimulailah proses pengambilan darah. Dan ternyata, saya tidak merasakan apapun saat cairan merah itu keluar dari tubuh saya.

Selang beberapa menit, kantong darah pun penuh. Jarum suntik berikut selang dilepaskan dari tubuh saya. Bekas tusukan kemudian ditutup dengan perban dan plester. Saya juga diminta melipat tangan untuk mencegah darah keluar lagi.

Setelah dirasa cukup, saya diperbolehkan beranjak dari tempat tidur. Saya pun berdiri dan langsung berjalan menuju meja tempat makanan dan minuman disediakan. Akhirnya saya melakukan donor darah untuk pertama kalinya.

27 thoughts on “Donor Darah

  1. Wah. Hebat Mba Aya!!! Keren akhirnya bisa donor darah.
    Eh ngomong soal donor, katanya kalau udah donor, baiknya dirutinkan. Kalau gak bisa bikin ndud. Ini mitos apa kenyataan ya mba?

  2. Wah, donor darah. Ga pernah tertarik sih. Kayanya kebayangnya saya bakal lemes kalo darahnya diambil. Soalnya, saya justru kurang darah. Wajah saya kalo ga pucet nih, itu namanya tumben. Hahaha… tapi ga tau deh kalo sekarang. Itu kan yg selama ini. Mungkin udah beda keadaan darah saya.
    So, btw, what’s ur blood type?

  3. Saya sampai saat ini belum berhasil untuk kegiatan mulia yang satu ini. Kayaknya perlu dijajal nih.

    Trauma saat kuli uyah dulu masih belum bisa saya hilangkan. Sewaktu semester dua ada kegiatan donor darah. Setelah mendaftar dan chek darah, saya layak untuk donor darah. Menunggu giliran saya duduk memperhatikan teman yang lagi diambil darahnya. Setelah teman tersebut selesai dia bangkit dari tempat tidur dan melangkah. Baru beberapa langkah dia sempoyongan, lalu duduk di kursi. Melihat kejadian itu saya langsung drop dan gak jadi donor darah. Saya trauma melihat jarum suntik dan selang darah. Entah sekarang, gimana ya?

    • saya sih beraninya mungkin karena pas kemarin ambil darah buat tes kesehatan ternyata nggak sakit. jadi ya akhirnya berani deh 🙂
      iya sih kemarin rada pening juga ngelihat orang-orang yang lagi donor. kayak gimana gitu ngelihatnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *