Dari Gunung Kayangan ke Mandi Angin

“Kak, Sabtu sibuk, ngga? Kami mau jalan-jalan ke Taman Labirin,” tanya seorang adik pada saya beberapa waktu yang lalu. Mendengar nama Taman Labirin, sontak saya bersemangat. Taman Labirin merupakan sebuah tempat wisata baru di kabupaten Tanah Laut yang sedang booming beberapa bulan terakhir.

Sesuai rencana, Sabtu pagi kami bertujuh Untuk menuju ke Taman Labirin ini, kami menempuh perjalanan sekitar satu jam menuju Taman Agrowisata Tambang Ulang di kabupaten Tanah Laut. Sebelum menjejakkan kaki di Tambang Ulang, terlebih dahulu kami mampir di Gunung Kayangan, sebuah spot lain di kabupaten Tanah Laut yang juga cukup terkenal. Untuk masuk ke tempat ini setiap kepala dikenai iuran Rp. 5000,-

Pada bagian atas tempat ini, terdapat sebuah bangunan mirip musalla tempat orang biasanya mengambil foto. Ukiran Tanah Laut dalam huruf raksasa menjadi ikon utama dari tempat wisata ini. Sayang aneka macam coretan hiasan batu tempel ini berkurang keindahannya. Puas berfoto-foto di Gunung Kayangan, kami pun kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan kembali ke Tambang Ulang.

DSC_2411 DSC_2415???????????????????????????????

Setiba di Tambang Ulang, kami harus menerima kenyataan kalau taman agrowisata itu ditutup. “Tempatnya disewa pihak Mapala. Besok baru buka sekitar pukul dua,” begitu kata penjaga taman. Karena sudah kadung berada di depan taman agrowisata, kami pun memutuskan makan siang terlebih dahulu di sebuah rumah makan yang tepat berada di pintu masuk taman.

Sambil menikmati makanan yang disediakan, kami merencanakan kembali tujuan baru dari perjalanan hari ini. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya Tahura Sultan Adam di Mandi Angin akhirnya menjadi tujuan baru. Itu artinya kami harus bertolak dari kabupaten Tanah Laut menuju kota Banjarbaru dengan jarak kurang lebih satu jam perjalanan. Pantai sebenarnya sempat menjadi pilihan. Namun mengingat tak satu pun dari kami yang membawa baju ganti, akhirnya objek wisata pantai dicoret dari tujuan alternatif.

DSC_2433 DSC_2438

Meski sempat tinggal selama empat tahun di Banjarbaru, namun ini adalah untuk pertama kalinya saya mengunjungi Tahura Sultan Adam yang lebih dikenal dengan sebutan Mandi Angin itu. Dari yang saya ketahui, Mandi Angin merupakan tempat yang kerap menjadi tujuan para pecinta alam.

Menggunakan Avanza, kami bertujuh mendaki tanjakan menuju bagian atas Tahura. Sebuah kolam kecil sudah menunggu kami di bagian atas tanjakan. Beberapa orang tampak berenang pada kolam kecil tersebut. Kami sendiri lebih memilih menuju ke arah batu-batu besar yang dialiri air tepat di belakang kolam kecil tersebut.

Kurang lebih setengah jam berada di atas, kami memutuskan pulang. Waktu menunjukkan pukul enam ketika kami keluar dari kawasan Tahura. Saat singgah di sebuah masjid untuk menunaikan salat Magrib, salah seorang teman baru sadar kalau tablet miliknya tidak ada di dalam tas. Setelah dicari berkali-kali, akhirnya disimpulkan kalau tablet tersebut tertinggal di Mandi Angin.

Karena hari sudah malam, maka teman saya yang kehilangan tablet tersebut memutuskan kembali ke Mandi Angin sementara yang lain diantar pulang. Kebetulan ada seorang kenalan di Banjarbaru yang bersedia meminjamkan motornya. Jadilah teman saya itu berkendara kembali menuju ke Mandi Angin dan kami melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin.

Sekitar pukul setengah sebelas malam, sebuah nomor asing masuk ke ponsel saya. Saya angkat, ternyata itu adalah teman yang tabletnya tertinggal beberapa jam sebelumnya. Dari pembicaraan singkat saya ketahui kalau tablet teman saya itu sudah tidak ada lagi ketika teman saya tiba di Mandi Angin. Karena terdesak, dia terpaksa membeli ponsel baru.

Ironisnya, karena semua data ada di tablet yang lama, dia jadi tidak bisa menghubungi teman kami yang tinggal di Banjarbaru. “Nomor kamu aja ketemunya dari facebook,” begitu katanya pada saya. Saya pun berusaha membantu dengan mencarikan nomor teman yang tinggal di Banjarbaru tersebut. Beruntung salah satu anggota perjalanan ada yang belum tidur saat itu dan langsung mengirimkan nomor yang saya maksud.

Segera saya kirimkan pesan teks berisi nomor ponsel tersebut pada teman saya yang sedang menunggu di Banjarbaru. Saat beberapa menit kemudian saya tanya apakah sudah berhasil menghubungi teman kami yang tinggal di Banjarbaru, dia kemudian menjawab, “Sudah ketemu. Tapi ini lagi hujan lebat. Jadinya nggak bisa pulang juga.”

0 thoughts on “Dari Gunung Kayangan ke Mandi Angin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *