Curhat (yang ngakunya) Penulis

curhat-yang-ngakunya-penulis

Hari itu, saya iseng membongkar-bongkar kardus yang berisi bahan-bahan kuliah saya. Saat memilah beberapa, mata saya tertumbuk pada beberapa lembar kertas yang diketik rapi. Saya baca tulisan yang ada di kertas A4 tersebut. Ah, saya baru sadar ternyata itu adalah cerpen yang saya tulis saat masih kuliah dulu yang berjudul Dinno dan Dhira.

Menjadi seorang penulis telah menjadi impian saya sejak bertahun-tahun lalu. Saat itu wujudnya berupa keinginan menjadi seorang wartawan. Saya bahkan sempat berniat untuk kuliah di jurusan komunikasi yang sayangnya gagal karena tidak ada jurusannya di kampus negeri di kota saya. Akhirnya saya pun nyemplung di dunia teknik sipil dan melupakan sejenak mimpi menjadi penulis.

Kenyataannya, saya kemudian beralih minat dari wartawan menjadi penulis cerita. Saya sendiri lupa kapan pastinya saya mulai menulis cerita fiksi. Satu-satunya bukti yang jelas ya itu tadi, transkrip cerpen remaja yang saya tulis saat di bangku kuliah. Membaca kembali cerpen itu setelah beberapa tahun sukses membuat saya tersenyum sendiri.

Hingga saat ini, alhamdulillah beberapa tulisan saya sudah berhasil dimuat di media cetak seperti Femina dan majalah Gadis. Sayangnya, mungkin karena tekad dan disiplin yang kurang kuat, kiprah saya di dunia menulis hanya begitu-begitu saja. Beberapa cara saya coba untuk bisa mendisiplinkan diri menulis. Mulai dari mengajak teman berkolaborasi, hingga ikut kelas menulis online. Hasilnya? Yah ada sih tulisan yang dimuat tapi lebih banyak yang tidak ada kabarnya (hiks). Di lain pihak, beberapa teman seperjuangan kini mulai menuai benih mereka di berbagai media.

wpid-img_20150603_154844.jpg
Salah satu tulisan yang dimuat di Femina

Jujur kalau ditanya bagaimana perasaan saya saat melihat teman mengabarkan tulisannya dimuat maka saya akan bilang iri setengah mati. Ya, saya akan mengucapkan selamat padanya tapi dalam hati saya sebal karena merasa si teman ini pamer. Padahal ya, saya sendiri juga pasti begitu kalau tulisan berhasil dimuat. Haha. Biasanya kalau sudah begini saya akan mengingatkan diri kalau mereka yang tulisannya sering dimuat itu nulisnya pasti lebih sering dan disiplin dari saya. Bayangkan kalau misalnya Tere Liye nulisnya nggak disiplin, nggak mungkin kan dia bisa menghasilkan belasan novel bestseller dalam waktu kurang dari sepuluh tahun?

Hingga saat ini, saya memang masih mengandalkan mood saat ingin menulis cerita fiksi. Kadang ide ada tapi bingung membuat kalimat pembukanya. Ada yang sudah ditulis tapi mandek di tengah jalan. Tambahan lain, kadang saya merasa terbebani dengan tulisan-tulisan teman yang semakin bagus sementara saya kok kayaknya begitu-begitu saja kemajuan menulisnya. Entahlah, kadang ini menjadi beban tersendiri bagi saya.

Selain itu, saya juga masih terbiasa dengan ritme menulis di kantor, di sela-sela kesibukan pekerjaan. Saat di rumah, saya berusaha membuka laptop namun jarang sekali menghasilkan tulisan. Adanya sih saya browsing-browsing doang. Lalu bagaimana dengan menulis di ponsel? Yah dulu sih masih sering, sekarang sudah mulai jarang. Ya ya ya, lagi-lagi intinya adalah saya kurang komitmen, kurang tekad, dan kurang disiplin. Kalau kata seorang teman, mungkin karena hal ini (menjadi penulis) bukan lagi benar-benar menjadi impian saya.

Nah, selain menulis fiksi, saya juga cukup aktif menulis di blog. Perkenalan saya dengan blog dimulai sekitar tahun 2007, namun baru benar-benar aktif di tahun 2010 saat saya bergabung di Multiply. Suasana keakraban yang ada di Multiply membuat saya betah dan rajin curhat nulis di sana. Sayangnya setelah bertahun-tahun Multiply akhirnya ditutup dan saya harus rela rumah saya di Multiply digusur.

Karena sudah terbiasa ngeblog, mau tak mau saya harus mencari rumah baru. WordPress menjadi pilihan saya untuk. Namanya rumah baru, pasti ada adaptasi lagi. Mulai dari menjaring teman-teman baru, hingga belajar untuk lebih menyaring tulisan. Kenapa? Karena di WordPress tulisan curhat tidak bisa disetting khusus untuk kontak seperti di Multiply dulu. Alhamdulillah untuk urusan ngeblog ini saya masih lumayan disiplin dan rajin. Mungkin karena dalam ngeblog tak terlalu banyak yang harus dipikirkan layaknya menulis cerpen. Hehe.

Ternyata, digusurnya Multiply memiliki makna tersendiri bagi saya dan mungkin bagi ex-MPers lainnya. Ibaratnya nih, di MP dulu kami hidup dalam dunia kami sendiri tanpa tahu dunia luar. Dan begitu akhirnya dipaksa keluar, barulah kami tahu ternyata dunia blogging itu tidak melulu soal curhat dan berbagi, tapi juga bisa menjadi sarana untuk meningkatkan penghasilan. Yup, saya bicara tentang me-monetize blog kita.

Di kalangan para penulis sendiri juga kayaknya sudah banyak yang melirik dunia blog ini. Memang kalau dilihat sekarang ini menulis di blog terasa lebih lebih menguntungkan. Bisa diundang ke berbagai acara, jalan-jalan, atau job review dengan penghasilan yang lumayan. Bandingkan dengan penantian akan tulisan yang dimuat yang bisa berbulan-bulan itu. Jelaslah orang lebih memilih job yang lebih cepat menghasilkan. Tapi ya tentunya blogger yang benar-benar berkualitaslah yang bisa mendapatkan hal-hal seperti itu.

Untuk dunia blog ini sendiri, saat ini saya juga sedang kepikiran untuk menjadikannya self-hosted blog. Sayangnya, hingga saat ini saya masih maju-mundur untuk berpindah dari ayanapunya.wordpress.com ke ayanapunya.com. Ada beberapa alasan yang membuat saya masih maju mundur ini. Pertama, jika saya ingin tetap menggunakan WordPress, saya harus membeli hosting dengan biaya yang (mungkin) nggak mahal sih, tapi saya takutnya tidak konsisten dalam nge-ngeblognya. Kedua, blog yang sudah self-hosted itu lumayan ribet ngurusinnya. Soalnya harus belajar istilah-istilah macam DA, PA, broken link dan lain sebagainya. Belum lagi masalah konten dan penampilan blog. Harus benar-benar dipikirkan juga.

So, siapa tadi yang bilang jadi blogger itu gampang? Minimal harus bisa edit gambar biar postingan terlihat cantik dan menarik. Trus juga harus bisa menghasilkan tulisan yang bisa menarik pembaca plus juga bermanfaat. Jika saya benar-benar ingin berpindah ke self-hosted blog, maka saya harus siap belajar lebih banyak lagi.

0 thoughts on “Curhat (yang ngakunya) Penulis

  1. idem, kadang pengen beli hosting pakai nama sendiri, tapi khawatir mandeg tengah jalan semangat nulisnya… jadi sementara amannya pakai yang gratisan 😀

  2. Saya udah nyoba self host dan gagal. Akhirnya kembali seperti semula ngeblog di gratisan. Tapi anehnya kok lebih bisa konsisten. Mungkin karena merasa nggak terbebani saja 🙂

      • Iya kepikiran cepet2 monetise. Klo di blog gratisan sih nyantai aja nawarin diri jadi penulis artikel. Klo ada job syukur, klo nggak ada ya nggak papa. Semacam nothing to lose. Lha pas udah self host pikiran jadi lebih ngarep dapat duit. Pas nggak dapat seperti yg diharapkan ujung2 malas menulis dan terbengkalai ha ha ha……..

  3. Kalau udah ‘memodali’ blog, jadi semangat ngeblognya, Ka. Hehehe… Ulun galau jua waktu handak nukar domain. Jadi, dalam hati baucap “Cobai setahun dulu”. Tapi pas sudah setahun langsung perpanjang pas batas waktunya 😀
    Sekarang galaunya handak pindah ke wordpress. Tapj dipikir2 tetap di blogspot aja 😀

  4. Aku juga baru2 aja kembali ke dunia blogging nih mba. Duluuuu banget ngeblog tapi waktu itu belum ada namanya “menghasilkan uang” dari blog. Makanya kaget banget waktu orang2 pada bagus2in konten blognya. Kaget hehe. Nggak pengin kalah, aku akhirnya beli domain .com biar semangat nulis. Eh, awal2nya aja. Lama2 juga jarang diurus. Belum lagi aku sering galau antara blogspot-WP. Butuh masukan nih mba. What should I do? 🙁

  5. Pernah kepikiran mau di-dotkom-kan, tapi, inget lagi,”Ntar isinya mau apa? Trus, konsisten gak nulisnya?” Akhirnya, di-dotkom-kan gak jadi, nulis pun jarang. Aduhaiiiiiiiiiiii

  6. kalau nggak mau ribet, beli domain aja, mbak.
    jadi makenya wordpress yang gartis ini tapi alamatnya diubah jadi dotcom

    saya aja masih full gratisan 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *