[cerpen] Nostalgia

OK-nostalgia_Page_1

Seperti melihat hantu! Begitulah yang kurasakan ketika melihat sosoknya memasuki ruangan kantorku. Dengan tinggi seratus tujuh puluh lima sentimeter, rambut yang sedikit berantakan, wajah bak pemain film India dan tubuh yang sedikit berisi. Rasanya aku tak melihat perbedaan berarti antara dirinya kini dengan dirinya lima tahun yang lalu. Semuanya masih tampak sama. Jikapun ada yang berbeda, maka itu adalah wanita yang saat ini berjalan di sampingnya.

Secara refleks aku menegakkan tubuhku ketika melihatnya dan wanita itu memasuki ruanganku. Sekilas, sempat kulihat rona keterkejutan yang sama di wajahnya. Yah, kurasa itu hal yang wajar. Kau akan menikah dan ternyata calon istrimu meminta bantuan mantan kekasihmu untuk mengurus tetek bengek pernikahan kalian. Siapa yang tak terkejut? Dan aku pun sangat yakin calon istrinya itu tak tahu-menahu tentang hal ini.

“Ariiinnn…Lama nggak ketemu!!” Sapa sang calon istri ketika akhirnya kami berhadapan. Sebuah pelukan hangat diberikannya padaku, layaknya teman yang lama tak bersua. Oh ya, aku belum bercerita bukan kalau aku juga mengenal sang calon istri dari mantan kekasihku ini? Dia adalah Wanda, salah satu teman sekelasku saat masih duduk di bangku SMA.

“Oya, kenalin ini calon suamiku, Raka.” Wanda berkata lagi setelah melepaskan pelukan hangatnya. Tubuhnya kini bergeser sedikit ke samping, memberi ruang bagiku dan Raka untuk saling bertatap.

Jujur untuk beberapa detik aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Kalian mengerti maksudku, bukan? Ini adalah kondisi yang sangat canggung. Jika aku bersikap jujur dengan mengatakan sudah kenal dengan Raka, maka pasti akan pertanyaan lanjutan seperti kenal di mana dan sebagainya. Namun jika aku berpura-pura tak mengenal Raka, apakah itu tidak membuatnya tersinggung? Maka akhirnya kuputuskan untuk menunggu Raka yang mengambil sikap.

“Raka. Senang bertemu denganmu.”

Akhirnya setelah jeda beberapa menit, aku mendapatkan jawaban dari pertanyaanku. Raka memutuskan untuk berpura-pura tak mengenalku, dan entah mengapa aku bersyukur untuk itu.

“Sama-sama,” jawabku sambil menyambut uluran tangannya. Lalu kami bertiga memulai pembicaraan seputar rencana pernikahan Wanda dan Raka.

***

Aku memulai usaha ini sekitar satu setengah tahun yang lalu. Saat itu aku baru kembali ke Banjarmasin setelah hampir tiga tahun tinggal di Jakarta. Awalnya ibu memintaku untuk melanjutkan karierku di bank sewaktu masih di Jakarta dahulu. Namun setelah melalui pemikiran panjang, aku memutuskan untuk mengambil jalan lain dengan membuka usahaku sendiri, sebuah wedding organizer.

Mendirikan wedding organizer merupakan salah satu mimpiku selama bertahun-tahun. Sejak kecil aku sudah mencintai pernikahan dan segala tetek bengeknya. Tak perlu ditanya berapa kali aku menjadi salah satu panitia pernikahan. Mulai dari sekedar membantu menggunting pita-pita untuk pernikahan tante-tanteku, menjadi pagar ayu dalam pernikahan para sepupu, hingga akhirnya membantu mengkoordinir pernikahan beberapa sahabat. Semua kulakukan dengan sukarela dan senang hati.

Berbekal dari semua pengalaman itulah, ditambah dengan tabunganku selama bekerja di bank, aku memulai usaha ini. Awalnya memang agak tersendat, mengingat kala itu usaha wedding organizer belum terlalu familiar di kotaku. Namun seiring dengan promosi dari mulut ke mulut, dan keberhasilanku menyelenggarakan pernikahan salah satu pernikahan putra pejabat penting di kota ini, usahaku mulai berkembang hingga akhirnya Tuntung Pandang Wedding Organizer menjadi pilihan utama para calon pengantin untuk mengurusi pernikahan mereka.

Pertemuanku dengan Wanda sendiri terjadi sekitar enam bulan yang lalu. Saat itu aku dan dia sama-sama menghadiri reuni yang diadakan SMA kami. Sebenarnya, selama SMA kami tak bisa dibilang akrab. Meski pernah sekelas, aku dan dia memiliki lingkup pertemanan yang berbeda. Bukan berarti aku dan dia bermusuhan, hanya saja kami memiliki dunia yang berbeda, begitu aku sering mengibaratkannya.

Namun siapa sangka ajang reuni kala itu menjadi titik awal pertemanan kami. Aku yang kala itu datang sendiri merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Wanda yang juga ternyata datang sendirian. Di antara para peserta reuni yang rata-rata datang bersama pasangan dan keluarganya, aku dan Wanda berubah menjadi sepasang sahabat dengan sejuta cerita. Mulai dari ke mana kami kuliah selepas SMA, hingga ke pekerjaan masing-masing.

“Jadi yang punya Tuntung Pandang WO itu kamu, Rin? Waah kebetulan banget!!” Tanyanya dengan penuh antusias ketika mengetahui usahaku saat itu.

“Kebetulan apa nih? Kamu mau nikah, yaa? Ayo pakai WO-ku aja. Ntar kukasih potongan harga, deh.” Balasku dengan nada riang. Dalam hatiku ada rasa bangga karena ternyata wedding organizer yang kudirikan cukup familiar di telinganya.

“Belum, sih. Tapi doain aja, ya. Bener lho, ya, aku dikasih potongan harga?”

“Pasti. Kamu hubungi aku aja kalau udah dilamar nanti. Ayo mana nomormu? Kita tuker-tukeran dulu, biar gampang nanti,” kataku sambil mengeluarkan Blackberry Bold dari dalam tas cangklong yang hari itu kukenakan.

Sejak saat itu aku dan Wanda semakin sering berkomunikasi. Tiada hari berlalu tanpa kami saling berkabar melalui Blackberry Messenger. Aku sendiri sempat terkejut bagaimana kami ternyata memiliki banyak kesamaan. Mulai dari genre film, hingga buku-buku yang kami baca. Saking penasarannya, aku bahkan sempat bertanya pada Wanda, “Kok bisa sih waktu SMA dulu kita tidak akrab?” Dan Wanda hanya mengirimkan ikon tawa sebagai balasannya.

Hingga akhirnya dua minggu yang lalu Wanda mengirimkan sebuah kabar kepadaku. Ia akan pulang minggu ini, bersama kekasihnya yang akan melamarnya. Dalam pembicaraan kami selama ini, Wanda selalu menyebut kekasihnya tersebut dengan sebutan “Mas-ku.” Ia adalah seorang pria yang ia kenal selama bekerja di Bandung. Dia adalah pemuda berdarah Jawa dengan usia yang terpaut hanya beberapa bulan dari Wanda. Tinggi, tampan, dan baik hati. Begitu ia menggambarkan sang kekasih. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa “Mas” yang sering ia sebut tersebut adalah Raka, sampai ketika siang ini kami bertiga dipertemukan.

***

Sebuah pesan masuk ke ponsel-ku tepat ketika tubuh ini sudah menyentuh tempat tidur tercinta. Sebuah nomor tak dikenal, namun tak perlu waktu lama bagiku untuk mengetahui siapa pengirimnya.

Kita perlu bicara.

Begitu isi pesan itu.

Tak ada yang perlu dibicarakan lagi.

Dengan cepat aku mengetikkan balasan.

Aku mencarimu selama lima tahun, Rin.Kumohon.Aku perlu penjelasan.

Aku terhenyak membaca SMS balasan dari Raka. Lima tahun jelas bukanlah waktu yang singkat bagi Raka. Terutama setelah apa yang kulakukan padanya di akhir hubungan kami.

Temui aku besok jam 5 di Pondok Bahari.

Akhirnya aku luluh. Mungkin memang sudah waktunya Raka mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

***

Suasana di Pondok Bahari sore ini tampak lebih ramai dari biasanya. Di meja sebelahku, tampak segerombol anak muda sedang berkumpul, dengan beberapa di antara mereka memegang kamera DSLR di tangan mereka. Riuh rendah suara mereka berhasil menyaingi alunan musik yang diputar di tempat ini. Pemandangan yang sungguh mengingatkanku pada masa kuliah dahulu.

Lima belas menit yang lalu, Raka mengirimkan SMS. Katanya dia akan sedikit terlambat karena sedikit urusan. Untuk mengisi waktu, kubuka agenda yang berisi aneka ragam catatan seputar pernikahan-pernikahan yang harus kutangani. Ada sekitar empat pernikahan yang sudah masuk ke list-ku untuk tiga bulan ke depan. Ditambah dengan pernikahan Wanda dan Raka, makan total aku harus mengurusi pernikahan dalam waktu kurang dari empat bulan.

“Rini..”

Saat sedang tenggelam dalam berbagai catatanku, sebuah suara terdengar dari hadapanku. Kudongakkan wajah ke arah suara, tampak Raka sudah duduk dengan manis di hadapanku.

“Sudah lama nunggunya?” tanyanya berbasa-basi.

“Lumayan. Ayo pesan dulu,” kataku sambil mengangsurkan kertas menu ke arah Raka. Dan seperti dugaanku, dia langsung memilih secangkir es cappucino sebagai pelengkap makan sorenya. Kadang ada hal yang tak pernah berubah dari seseorang, bukan?

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku kemudian. Berpura-pura tak tahu tujuannya mengajakku bertemu.

“Aku sudah tahu semuanya. Wanda sudah bercerita padaku. Aku turut menyesal, Rin,” jawabnya kemudian.

“Cerita apa? Kau tidak khawatir Wanda curiga dengan pertanyaanmu padanya?” tanyaku pada Raka. Berusaha memperingatkannya kalau sebelumnya kami berpura-pura tak saling mengenal.

“Aku tidak bertanya apa-apa. Wanda sendiri yang menceritakannya padaku. Kau tahulah. Percakapan dalam perjalanan pulang,” jawabnya lugas.

Aku hanya terdiam.

“Kenapa kau tak pernah memberi kabar lagi, Rin? Pertama kau menikah tanpa memberitahuku. Dan sekarang, aku juga jadi orang terakhir yang mengetahui bahwa suamimu telah meninggal. Bagaimana mungkin kau melakukan ini padaku?” cecarnya lagi.

Aku lagi-lagi hanya bisa diam. Jujur sebenarnya aku tak siap dengan pertanyaan yang diajukan Raka. Aku tak siap untuk mengungkit luka lama itu. Tentang perpisahan kami, tentang pernikahanku, juga tentang kesedihan yang harus kutanggung setelah Arif meninggal dua tahun yang lalu.

Masih jelas terbayang di benakku bagaimana hari itu kedua orang tua Raka berbicara padaku. Hari itu tepat satu hari sebelum wisuda kami berdua. Raka, pria tampan berdarah Jawa yang sudah menemaniku selama dua tahun itu akhirnya memperkenalkanku pada kedua orang tuanya. Binar kebahagiaan tak dapat kusembunyikan dari wajahku saat melihat bagaimana ramahnya kedua orang tua Raka padaku. Sayangnya kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa jam.

“Kami mohon tinggalkan Raka, nak Arini. Saya sebagai ibunya tidak bisa menerima kamu sebagai menantu,” kata ibunya malam itu di teras kos-kosan Raka. Hanya ada kami berdua saat itu. Kurasa Raka sengaja meninggalkan aku dan ibunya berdua agar bisa saling mengenal.

“Tapi kenapa, Bu?” tanyaku dengan suara tertahan.

“Dalam kepercayaan kami anak pertama dan anak ketiga sebaiknya tidak diperkenankan untuk menikah. Kalau pernikahan itu tetap dilangsungkan, maka akan ada musibah yang menimpa salah satu keluarga. Raka sudah berkali-kali kami beritahu hal itu, namun ia sangat keras kepala.”

Aku terdiam, berusaha mencerna penjelasan yang diberikan ibu Raka padaku. Selama dua tahun menjalin hubungan dengan Raka, tak pernah sekalipun ia menyinggung tentang hal ini. Setiap kali kutanya tentang pendapat orang tuanya padaku, ia selalu berkata mereka pasti akan menyukaiku. Ah, Raka. Kenapa kau mesti berbohong? Sesalku dalam hati.

“Karena itu saya mohon sama kamu, nak Arini. Tinggalkan Raka. Bukan hal yang baik menikah tanpa restu orang tua,” ibu Raka berkata lagi. Kali ini sambil menggenggam tanganku. Aku tergugu.

***

Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengambil keputusan. Satu bulan setelah kami lulus, aku memutuskan hubungan dengan Raka. Bosan kujadikan alasan atas keputusan itu. Raka marah besar dan mengutukku akan hal itu. Aku bersikap tak peduli. Aku tahu dia terluka. Namun aku yakin luka yang ia alami tak sedalam luka yang kurasakan karena harus melepaskannya.

Untunglah di saat diri ini terpuruk karena patah hati aku bertemu dengan Arif, pria yang kukenal saat melakukan perjalanan ke Jakarta. Dalam waktu singkat ia berhasil mencuri perhatianku. Kami pun menikah, dan aku mengikutinya ke Jakarta.

Hari-hari menjadi nyonya Arif merupakan hari-hari di mana aku mulai menghapus sosok Raka dari ingatanku. Bersama Arif, aku belajar membangun cinta. Semuanya terasa begitu indah, hingga akhirnya kecelakaan itu datang.

“Ibu mertua sebenarnya masih mengizinkanku untuk tinggal di rumahnya. Namun aku lebih memilih pulang. Terlalu banyak kenangan bersama Arif di rumah itu. Aku takut jadi gila,” kataku pada Raka, menjelaskan alasanku kembali ke Banjarmasin.

“Kau tak berniat menikah lagi?” tanya Raka kemudian.

“Entahlah. Saat ini aku hanya ingin menjalani hidup.”

“Seandainya saja aku tahu yang sebenarnya, tentu aku takkan melepaskanmu, Rin,” jawab Raka kemudian.

“Sudahlah, Ka. Tak perlu beranda-andai. Semua sudah menjadi kehendak-Nya,” jawabku sambil tersenyum.

“Wanda gadis yang baik. Kalian akan jadi pasangan yang sangat serasi nanti,” kataku lagi.

“Kau benar. Dia gadis yang sangat baik.” Raka tersenyum kecil. Ada rona merah di wajahnya saat mengucapkan kalimat tersebut. Jelas sekali ia sangat mencintai Wanda. Dan meski ada sedikit perasaan terluka dalam hatiku ketika melihat senyum itu, mau tak mau aku turut tersenyum.

“Setidaknya sekarang aku berhasil mewujudkan keinginanku untuk menjadi panitia pernikahanmu. Benar, kan?” kataku kemudian.

“Kau masih ingat percakapan itu?” Raka tampak terpana.

“Tentu saja. Aku selalu mengingatmu selama bertahun-tahun,” jawabku. sambil tersenyum. Ingatanku melayang pada sepotong percakapan yang terjadi antara aku dan Raka bertahun yang lalu.

“Kelak aku akan mendirikan wedding organizer. Kalau kau menikah duluan, hubungi aku, ya? Aku akan menjadi orang yang mengurusi pernikahanmu.”

“Pernikahanku? Tidakkah seharusnya itu pernikahan kita?”

“Haha. siapa tahu kan kita tidak berjodoh.”

***

02102012

Cerpen ini dimuat di Tamanfiksi.com edisi 07.

17 thoughts on “[cerpen] Nostalgia

  1. Cerpen yang bagus… padat dan mengalir, suka deh bacanya. Mbak memang berpengalaman sekali di tulis-menulis cerpen ini, top banget.
    Yah, saya agak kurang setuju (secara pribadi lho ya) dengan ibunya Raka yang membatalkan pernikahan hanya karena kepercayaan bahwa anak pertama vs anak ketiga akan membawa sial. Bukankah semua nasib dan takdir itu ada di tangan Tuhan? :hehe. Tapi itu mungkin karena saya terlalu terbawa cerita :haha, dan lebih setuju kalau Raka jadian dengan Rini.

  2. Mbak saya sudah baca. Ide yang sederhana namun penokohannya hidup dan ceritanya mengalir. Tips agar cerpen kita dimuat di media gimana mbak? Bisa minta tips kah? hehehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *