[Cerpen] Kedai Alina

kedai

Semenjak Ranti sahabatnya menikah, kehidupan Nayla terasa semakin membosankan saja. Ia merasa kehilangan teman tempatnya berbagi. Tak ada lagi makan siang yang diselingi obrolan ringan. Atau belanja gila-gilaan yang membuat kaki terasa penat. Hingga memanjakan diri di salon favorit mereka. Semuanya kebiasaan itu mendadak hilang. Apalagi Ranti menikah tanpa proses pacaran yang cukup lama. Sehingga bisa dibilang Nayla tak memiliki cukup persiapan akan kehilangan waktu dari sahabatnya itu.

Bukannya Nayla marah pada Ranti karena tak bisa lagi menemaninya. Sudah menjadi kewajiban Ranti untuk mengikuti suaminya kemanapun ia pergi. Nayla pun berusaha mengerti akan hal itu. Namun tetap saja rasa kesepian itu muncul di hati Nayla, yang pada akhirnya membuatnya merasa menyesal tak memiliki banyak teman.

Untuk mengobati rasa kesepiannya tersebut, Naylamemutuskan untuk lebih membuka diri. Dia mulai bergabung dengan teman-teman di kantornya. Namun mungkin karena terlalu lama bergaul dengan Ranti, membuat Nayla kesulitan untuk bergabung dengan mereka. Lagipula dia tak tahan jika harus mendapatkan pandangan, “setelah sahabat nikah, baru deh ngelirik kami.” Akhirnya Nayla pun memutuskan untuk meninggalkan kelompok tersebut dan menenggelamkan diri dalam kesendiriannya.

Selama bersahabat dengan Ranti, ada beberapa tempat yang menjadi tempat rutin mereka untuk bertemu. Warung Makan Bu Drajat dan Kedai Corner untuk makan siang mereka, café Myrtle untuk menghabiskan sore, serta Salon Maria untuk perawatan tubuh mereka. Beberapa kali Nayla mengunjungi tempat-tempat itu setelah pernikahan Ranti. Kali ini dia mendapatkan pertanyaan, “Kemana temannya, Mbak?” dengan tatapan seolah-olah Ranti adalah kekasihnya. Lagi-lagi Nayla tak tahan dengan pertanyaan itu. Dan akhirnya dia juga memutuskan meninggalkan tempat-tempat tersebut.

Berhari-hari Nayla menyusuri jalan di kotanya, berharap menemukan tempat baru yang akan disinggahinya untuk sekedar menghirup secangkir teh hangat. Mulai dari café mahal yang terletak di pusat kota, hingga warung tenda yang menawarkan harga miring. Hingga akhirnya ia menemukan tempat itu, Kedai Alina, sebuah kafe mungil yang terletak di tepat beberapa puluh meter di samping café Myrtle.

Selama bertahun-tahun melewati jalan tersebut, belum pernah rasanya Nayla melihat papan nama dari Kedai Alina ini. Padahal papan namanya, Kedai Alina sudah berdiri di jalan itu jauh lebih lama ketimbang café Myrtle. Apakah itu karena ia selalu terfokus pada café Myrtle dan tak berniat mencari tempat lain, sehingga keberadaan Kedai Alina tak terdeteksi olehnya?Atau mungkin juga karena ukurannya yang mungil dan dekorasinya yang sangat sederhana, sehingga membuat mata Nayla tak pernah tertarik untuk meliriknya? Entahlah, Nayla pun tak bisa memastikannya.

***

“Pesanan yang biasa, Mbak? Teh kayu manis dan pancake bluberry?”

Gadis itu bertanya pada Nayla tak lama setelah ia melambaikan tangan padanya.Ini adalah kali ke delapan Nayla mengunjungi Kedai Alina tersebut seusai jam kerjanya. Dan rupanya beberapa pramusaji di kedai tersebut sudah cukup familiar dengan keberadaannya.

“Kau yakin sekali dengan tebakanmu. Bagaimana jika aku berniat mencoba menu yang baru?” tanya Nayla kemudian. Setiap kali ke Kedai Alina, Nayla memang selalu memesan menu yang sama.

“Mbak ingin mencoba menu yang lain?” gadis itu bertanya dengan nada terkejut. Tangannya sudah siap untuk mencatat pesanan Nayla.

Nayla tersenyum mendengar pertanyaan tersebut.

“Tidak. Aku tadi hanya bercanda. Aku belum berniat mencoba menu yang lain,” katanya lagi, membuat gadis tersebut ikut tersenyum.

“Baiklah, Mbak. Pesanan Mbak akan kami antarkan beberapa menit lagi,” gadis tersebut berkata lagi sebelum meninggalkan Nayla.

Sepeninggal gadis tersebut, Nayla mulai mengedarkan pandangannya. Seperti biasa, kedai itu tak pernah ramai. Hanya ada satu dua orang di kanan kirinya. Semuanya duduk sendiri, sama seperti dirinya. Ada yang menyesap minumannya sambil memandang jalanan. Ada yang membaca buku, dan ada pula yang memainkan jarinya di atas keyboard laptop miliknya. Semuanya tampak nyaman dengan kegiatan mereka masing-masing, menikmati kesendirian mereka.

Ketika pertama kali Nayla menginjakkan kakinya di Kedai Alina, ia sempat merasa tak nyaman dengan tempat itu. Kedai Alina terletak di pojokan jalan, dindingnya berwarna abu-abu kusam, dan pintunya selalu tertutup. Satu-satunya hal yang menandakan kedai itu buka adalah label open dan close yang dipasang di depan pintu.Nayla sendiri bahkan tak tahu apa yang menariknya menuju kedai tersebut.

Saat kakinya mulai melangkah masuk, ia disambut suasana tak biasa. Sunyi, begitu Nayla menyebutnya. Tak banyak pengunjung berada di kedai tersebut. Pun tak ada musik yang menemani para pengunjung tersebut. Kursi-kursi disusun berhadapan, namun yang terisi hanya salah satu dari kursi. Aroma wangi kopi dan roti sesekali menghampiri hidung, diselingi perbincangan singkatan antara pramusaji dengan pengunjung kedai. Dan bagi Nayla, itulah satu-satunya “musik” penghibur di kedai tersebut.

Jika bukan karena kakinya yang sudah terlanjur berada di dalam kedai, mungkin Nayla sudah membatalkan niatnya untuk sekedar nongkrong di tempat itu. Selama ini ia terbiasa dengan suasana hangat yang didapatkannya di Cafe Myrtle. Entah itu live music yang selalu menemaninya. Atau juga obrolan orang-orang di sekelilingnya. Semua suasana yang bertolak belakang dengan yang dihadapinya saat ini.

Nayla akhirnya menarik sebuah kursi yang ada di dekat jendela. Seorang pramusaji langsung menghampirinya dan memberikan daftar menu. “Lumayan,” kata Nayla dalam hati ketika melihat daftar menu yang diberikan. Setidaknya makanan di kedai tersebut bukan cukup menarik perhatiannya. Nayla kemudian memesan secangkir Teh Kayu Manis dan seporsi Pancake Bluberry.

***

“Krieet.”

Terdengar suara dari pintu. Nayla segera mengalihkan perhatiannya. Seorang pria tampak memasuki kedai. Nayla mengenal pria tersebut. Bukan dalam arti sebenarnya tentunya. Nayla mengenal pria tersebut sebagai salah satu pelanggan kedai. Sejak kali pertama ia duduk di kedai Alina, sosok tersebut selalu ada di Kedai Alina.

Delapan kali mengunjungi Kedai Alina, membuat Nayla mengenal sosok-sosok yang menjadi pelanggan tetap di tempat itu. Wanita di salah satu pojokan itu misalnya. Setiap kali Alina singgah ke Kedai Alina, ia selalu menemukan wanita itu sedang sibuk dunia mayanya. Nayla mengetahui hal tersebut dari ekspresi yang ditunjukkan wanita tersebut saat berhadapan dengan laptop di hadapannya. Kadang ia tersenyum simpul, hingga tertawa terbahak-bahak.

Sedangkan pria yang baru masuk tadi, biasanya ia akan mengambil tempat duduk di dekat jendela, memesan secangkir minuman, kemudian mengeluarkan buku sketsa dari tas ransel miliknya. Entah apa yang digambar pria tersebut. Yang Nayla tahu, sejak pertama melihat pria tersebut, Nayla selalu merasa tertarik padanya.

Jika pria tersebut berada dalam jangkauan matanya, Nayla bisa dengan leluasa memperhatikan pria tersebut. Wajah dan tingginya sebenarnya biasa, namun ada rona kesenduan yang ia rasakan setiap kali pria itu datang, terutama dengan tatapan dingin yang selalu diberikannya.

Saat sedang sibuk dengan sketsanya, seringkali pria tersebut mengerutkan keningnya. Kadang pula pria tersebut menatap kosong ke arah sampingnya. Dan yang paling Nayla sukai, saat pria itu tersenyum saat menatap sketsa buatannya.

Nayla masih ingat dengan jelas kapan pertama kali ia melihat senyum itu hadir. Saat itu adalah kali ketiga ia singgah di Kedai Alina. Itu juga kali pertama Nayla menyadari keberadaan pria tersebut.Seperti saat ini, pria tersebut tampak sibuk dengan sketsa di tanganya. Di atas mejanya terdapat pensil dengan berbagai ukuran yang sejujurnya Nayla tak mengerti apa saja kegunaannya.

Selama nyaris satu jam Nayla memperhatikan pria tersebut dengan pekerjaannya. Teh kayu manis di hadapannya sudah kehilangan uapnya sejak puluhan menit sebelumnya, namun keasyikan memandangi pemuda itu dan sketsanya membuat Nayla melupakan hal itu.

Tepat saat Nayla akhirnya memutuskan untuk mengganti tehnya yang sudah kelewat dingin, tanpa sengaja ia melihat pria itu tersenyum. Senyum yang sangat indah, kontras sekali dengan tatapan dingin yang selama ini Nayla lihat. Sejak saat itu, Nayla selalu menanti-nanti kapan lagi bisa melihat senyum pria misterius tersebut.

***

Langit mulai menguning ketika akhirnya Nayla memutuskan untuk meninggalkan Kedai Alina. Dari balik buku yang ia baca ditatapnya pria pembuat sketsa yang duduk tak jauh dari hadapannya. Tampak ia juga sudah bersiap-siap untuk meninggalkan Kedai. Ini juga merupakan salah satu hal yang ia sukai dari pria tersebut. Ia selalu meninggalkan Kedai Alina sebelum malam tiba, tak peduli sketsa yang digambarnya sudah selesai atau belum.

Masih dengan ekor matanya Nayla menatap sang pria yang kini sudah berjalan menuju pintu keluar. Hari ini lagi-lagi ia tak berhasil menemukan senyum milik pria tersebut. Mungkin sketsa yang digambarnya hari ini tak sesuai harapannya. Namun tak apa. Nayla masih bisa menunggu untuk pertemuan berikutnya.

Setelah yakin sang pria benar-benar meninggalkan Kedai Alina, Nayla pun beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kasir. Seperti biasa, senyum ramah didapatinya saat akan membayar tagihan.

“Namanya Sam, Mbak,” suara gadis penjaga kasir terdengar saat Nayla mulai mengeluarkan uang dari dompetnya.

“Maaf?” Terkejut, Nayla serta-merta mengalihkan pandangannya pada gadis di hadapannya.

“Iya, pria yang sering Mbak perhatikan itu namanya, Sam.”

Nayla bisa merasakan bagaimana seluruh wajahnya berubah menjadi merah begitu mendengar jawaban gadis penjaga kasir tersebut. Selama ini dia selalu yakin bahwa tak ada yang mengetahui kebiasaannya memperhatikan pria pembuat sketsa. Siapa sangka ternyata dari sudut tempat duduknya yang sempit, seorang gadis penjaga kasir mengetahui kelakuan anehnya. Sungguh memalukan!

“Bagaimana kau tahu namanya Sam?”

“Ada di sketsa yang di gambarnya. Pria itu kadang memberikan gambarnya pada kami. Saya masih menyimpan sketsa-sketsa itu,” jawab gadis tersebut sambil menyerahkan beberapa sketsa. Memang benar kata gadis itu.

“Tapi kenapa kau tiba-tiba memberitahukan ini padaku?”

“Ah, iya. Kemarin pria itu menyerahkan sebuah sketsa lagi pada saya. Saat itu Mbak tidak ke sini, jadi saya tidak bisa menyerahkannya langsung.” Gadis itu kemudian mengeluarkan lagi selembar sketsa

Nayla menerima sketsa yang diberikan gadis tersebut. Lidahnya tercekat ketika melihat gambar yang ada di kertas tersebut.

“Cantik, ya, Mbak?”

“Iya.”

“Mbak suka?”

Kali ini Nayla hanya bisa tersenyum. Dalam sketsa tersebut tampak gambaran dirinya yang sedang tenggelam dalam buku yang dibacanya. Pada bagian atas sketsa tersebut, tertulis judul, “Pembaca Buku.”

***

NB : Cerpen ini ditayangkan di website Tamanfiksi.com

20 thoughts on “[Cerpen] Kedai Alina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *