Cerpen Ekskul Penulis Cilik

“Ustadzah, gimana kalau kita adakan lomba antar teman-teman di sini? Nanti yang menang dapat hadiah coklat,” begitu kata Syahla tiba-tiba di tengah ekskul menulis yang saya pegang setahun terakhir. Syahla adalah salah satu siswa kelas V yang mengikuti ekskul menulis. Tulisannya sebenarnya bagus namun kadang dia lebih senang berbicara ketimbang menulis.

“Wah, boleh juga. Kakak tunggu naskah kalian sampai akhir semester ya,” jawab saya dengan antusias. Maklum saja. Selama satu semester memegang ekskul menulis di salah satu SD IT di Banjarmasin, jarang sekali saya temukan adik-adik kecil ini begitu semangat untuk menulis.

“Baiklah. Nanti ceritanya ulun ketik dulu baru dikumpul,” kata Syahla kemudian.

“Yang lain ikutan juga, kan?” Saya bertanya kepada Penulis Cilik yang lain.

“Ikuut,” Gina, Raina dan Afifah menyahut dengan semangat.

“Ustadzah saya tidak ikut,” kali ini Majdah salah siswa kelas IV menjawab pertanyaan saya.

“Saya juga tidak,” kali ini dua anak kelas IV yang lain menyatakan ketidakikutsertaan mereka.

“Yakin tidak mau ikut? Hadiahnya coklat, lho,” saya mulai mengiming-imingi. “Waktunya juga masih lama,” tambah saya lagi.

Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya. Akhirnya saya menyerah. Sepertinya hanya siswa kelas V yang akan mengikuti lomba ini.

Dua minggu setelah lomba diusulkan, saya menerima naskah cerpen dari Syahla dan Raina. Tak tanggung-tanggung, Raina menyerahkan lima cerita sekaligus untuk saya baca. Sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat selama ini dia juga lebih sering berbicara ketimbang menulis. Berikut adalah salah satu cerpen yang ditulis oleh Raina.

DI DALAM PERMEN

Oleh : Raina Adzkia

Hari Senin Rara diberi uang jajan oleh ibu. “Ini buat kamu ya selama satu minggu,” kata ibu. Ibu memberi Rara uang seratus ribu selama satu minggu karena Rara 1 hari 20.000. Rara menaruh uang jajan ke dalam dompetnya. Karena pulangnya sore Rara 1 minggu hanya 5 hari sekolah.

Rara segera bersiap untuk sekolah, sarapan dan dijemput oleh antar jemput sekolah karena ibu dan ayah Rara sibuk. Ayah Rara adalah seorang dokter dan ibu Rara juga seorang dokter. Ayah dan ibu Rara bekerja di Rumah Sakit punya kakek Rara. Keluarga Rara adalah keluarga yang hampir semuanya dokter. Ketika di perjalanan Rara melihat toko permen baru. Rara berniat ketika pulang sekolah Rara akan ke toko permen itu. Toko permen itu bernama Candy World.

Sepulang sekolah Rara diantar oleh antar jemput yang tadi pagi dijemput untuk ke sekolah. Ketika sampai ke rumah Rara mengganti baju, mengambil dompetnya, meminta izin kepara ibu dan segera pergi ke toko permen atau Candy World tidak jauh dari rumah Rara.

Rara masuk dan memilih-milih permen yang ada di Candy World. Rara memilih permen lolipop yang berbentuk wajah seorang anak perempuanย  ukurannya sedang. Rara mengambil permen itu dan membayar di kasir. Harga lolipop itu adalah 20.000. Rara membawa pulang lolipop ke rumah Rara.

Sesampai ke rumah Rara membuka bungkus permen lolipop itu. Rara tersedot ke dalam lolipop yang Rara beli di Candy World. Rara melihat ke sekitarnya. Rara melihat seperti dunia yang berbeda dari dunia yang Rara lihat sebelumnya. Tidak lama kemudian Rara melihat permen-permen yang hidup. Rara bertanya kepada permen-permen itu, “Bagaimana cara untuk keluar dari sini?” kata Rara.

“Kamu harus mencari permen yang kamu beli di toko permen.”

“Terima kasih, para permen-permen,” kata Rara.

Rara bergegas mencari permen itu. Berapa lama kemudian Rara mendapatkan permen yang ia beli di toko permen. Rara segera ke sana dan mencari pintu yang disebut-sebut oleh para permen. Rara mendapatkan pintu itu dan segera membuka pintu itu dan kembali ke rumah.

***

18 thoughts on “Cerpen Ekskul Penulis Cilik

  1. Semoga bakar luar biasa ini tidak skedar begitu saja, semog semakin mengakar kuat, menjadi karakter yang bisa menghasilkan karya yang mencerahkan ๐Ÿ™‚

  2. wah, manteb amat ni anak. udah bisa gini. hehehe…
    cara nulisnya udah bagus. khayalannya tinggal ditingkatin lagi, jadi deh makin keren.
    cuma untuk ceritanya kok gitu doang belakangnya? hehehe…
    oh, iya, titip koreksi buat Nak Raina, kalo nulis jumlah hari, minggu dsb, jangan pake angka.
    seperti 1 hari, 5 hari, dll. harusnya ditulis pake kata aja. satu hari, lima hari, dsb.
    keep writing ya, Nak.

  3. Idenya bagus ya, memang imajinasi anak-anak itu super banget dan polos-polos, jadi semua buah pikirannya pasti orisinil. Tinggal teknik saja sih, dan itu sangat bisa dipelajari kalau menurut saya. Mbak dan para penulis lain pasti sudah tahu soal itu, dan mudah-mudahan anak-anak ini bisa menelurkan semakin banyak karya di dunia kepenulisan Indonesia, seperti pembina ekskulnya :hihi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *