[Cerpen Adaptasi] Pegawai Senior

tin-02

Ide itu datang dari Rasya. Dia mengatakan padaku kalau sebaiknya kami mencoba memperkerjakan pegawai senior di perusahaan yang baru kami bangun. Senior di sini maksudnya bukan yang berusia tiga puluh sampai empat puluhan. Yang dimaksud Rasya dengan senior adalah mereka yang sudah pensiun dari pekerjaannya.

“Memangnya menurutmu hal tersebut akan berpengaruh pada perkembangan usaha kita?” tanyaku dengan tanda tak yakin. Selama ini aku selalu memiliki pandangan negatif terhadap para orang tua. Bisakah mereka bekerja dengan cepat? Apakah mereka akan mengerti teknologi terbaru?

“Ya siapa tahu saja, bukan? Para pensiunan ini memiliki pengalaman hidup yang lebih jauh dari kita,” kata rekan kerjaku itu dengan sangat yakin.

Aku menggembungkan pipiku tanda sedang berpikir. Sebagai salah satu pemegang saham di perusahaan ini, tentu saja saran dari Rasya tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi selama ini dia selalu membuktikan insting bisnisnya jarang meleset.

“Hmm.. baiklah kalau begitu. Kau jalankan saja rencanamu itu,” kataku akhirnya.

***

Kurang dari satu bulan sejak mengungkapkan ide briliannya, Rasya mengabarkan kalau ia sudah mendapatkan para pegawai senior yang dia inginkan. Aku sempat mengerutkan kening mendengar kabar tersebut. “Kita sudah membicarakannya bulan lalu dan kau menyetujuinya,” Rasya mengingatkanku.

“Jadi ada berapa pegawai senior yang kau dapatkan?” tanyaku kemudian.

“Ada empat orang. Dua orang wanita dan dua orang pria. Satu orang diantara mereka kuminta bekerja padamu,” kata Rasya sambil menyerahkan sebuah dokumen padaku. Kutebak isinya adalah curiculum vitae pegawai yang dimaksud.

“Apa kau serius, Sya? Jadi kau meminta seorang kakek atau nenek untuk membantu pekerjaanku?” tanyaku setengah tak percaya.

“Tenang saja, Kanaya. Dia memiliki kualifikasi yang baik, kok. Aku jamin kau tidak akan kecewa,” Rasya meyakinkanku.

Aku menghela nafas. “Baiklah. Nanti siang kau kirim pegawai senior itu ke ruanganku,” kataku sebelum berlalu dari hadapan Rasya.

***
Namanya Ahmad. Bapak Ahmad Jazuli, begitu yang tertulis pada kertas di hadapanku. Beliau adalah pensiunan PNS. Usianya hampir tujuh puluh tahun namun terlihat sangat energik dan berpakaian sangat rapi.

“Pak Ahmad dulu bekerja di bagian mana?” tanyaku sambil membaca kembali curriculum vitae yang diserahkan Rasya.

“Terakhir sebelum pensiun aku menjabat sebagai Kepala Bagian,” jawab Pak Ahmad. Suaranya terdengar tegas dan penuh percaya diri.

“Hmm.. kalau saya lihat di sini, sepertinya latar belakang pekerjaan Pak Ahmad tidak terlalu sesuai dengan bidang pekerjaan kami di sini,” tambahku kemudian. Aku dan Rasya menjalankan usaha di bidang jasa desain interior sementara pak Ahmad bekerja di bidang pendidikan.

“Kata Pak Rasya pekerjaan yang akan kami kerjakan tidak selalu berhubungan dengan dunia desain,” jawab Pak Ahmad lagi.

Aku menganggukkan kepala. Rupanya Pak Ahmad ini pandai juga berdiplomasi, kataku dalam hati.

“Kalau boleh tahu, kenapa Pak Ahmad memilih bekerja lagi setelah pensiun? Bukankah Pak Ahmad sudah mendapatkan uang pensiun setiap bulannya?” plus anak-anak juga pasti mengirimkan uang bulanan, tambahku dalam hati.

Pak Ahmad tersenyum mendengar pertanyaanku. “Aku sudah terbiasa bekerja selama puluhan tahun. Selain itu istriku juga sudah meninggal dan anak-anakku tinggal di luar kota. Aku tak mungkin terus-terusan menghabiskan hari-hariku berada di rumah. Jadi kuputuskan untuk mencari kegiatan. Dan kebetulan sekali aku melihat iklan kalian.”

“Baiklah. Untuk sementara Pak Ahmad duduk di luar ruangan saya saja dulu. Di samping Lala. Nanti kalau saya perlu bantuan saya akan hubungi, Pak,” kataku menutup pembicaraan kami.

***
Kenyataannya memang nyaris tak ada pekerjaan yang bisa kuberikan pada Pak Ahmad. Hampir setiap harinya aku disibukkan dengan rapat bersama beberapa klien kami sementara Rasya mengurusi bagian produksi. Seingatku satu-satunya interaksiku dengannya selama satu minggu ini adalah menyapanya saat akan memasuki ruangan dan kemudian pergi lagi tanpa sempat berpamitan.

“Kurasa sebaiknya kau pindahkan saja Pak Ahmad ke divisi lain, Sya. Aku benar-benar tak ada pekerjaan yang bisa diberikan padanya,” kataku akhirnya pada Rasya dalam pembicaraan lewat teleponku dengannya. Hari itu awal minggu ketiga pak Ahmad bekerja di kantor kami. Aku sudah tak bisa lagi membiarkan pak Ahmad hanya duduk-duduk bengong di mejanya menunggu instruksi dariku.

“Baiklah kalau itu maumu. Nanti akan kulihat di mana Pak Ahmad bisa ditempatkan,” balas Rasya di ujung telepon.

Sayangnya, ketika tiba di kantor, aku mendapat kabar kurang mengenakkan. Lala asistenku tidak bisa masuk karena sakit. Ah, sepertinya aku memberi terlalu banyak pekerjaan pada gadis mungil itu. Kutatap meja Lala yang ditumpuki berkas-berkas sementara di sampingnya tampak Pak Ahmad yang sibuk dengan laptop di hadapannya. Aku menghela nafas.

***
“Makasih banyak ya, Pak Ahmad tadi sudah bantuin saya pas rapat,” kataku dalam perjalanan pulang kami hari ini. Gara-gara Lala mendadak izin, mau tak mau aku harus mengajak Pak Ahmad untuk mengikuti rapat hari ini.

Awalnya aku tak yakin Pak Ahmad akan bisa menggantikan Lala mengingat aku nyaris tak pernah memberikan tugas apapun pada Pak Ahmad. Namun nyatanya hari ini Pak Ahmad sangat banyak membantuku. Beliau mengerti hampir seluruh pekerjaan Lala, sehingga aku tak perlu repot menjelaskan apa yang harus ia lakukan saat menemaniku rapat. Pak Ahmad juga memberikan saran-saran yang sangat membantu dalam urusan pekerjaanku. Bahkan ia juga secara tak langsung juga memberikan beberapa wejangan seputar kehidupan yang sedang kujalani sekarang. Mengingatkanku pada almarhum ayahku.

Kutatap wajah Pak Ahmad yang sedang berada di balik kemudi. Wajah tua itu tampak tersenyum tipis. “Ah, memang sudah menjadi tugas saya bukan untuk membantu?” katanya lagi.

Aku hanya tersipu mendengar jawaban bijak beliau. Rasya benar. Kehadiran seorang pegawai senior seperti Pak Ahmad bisa jadi diperlukan untuk perusahaan kami yang masih seumur jagung. Ah, sepertinya aku harus segera menghubungi Rasya untuk mengucapkan terima kasih atas ide briliannya ini.

NB : Cerpen ini diadaptasi dari film The Intern

 

29 thoughts on “[Cerpen Adaptasi] Pegawai Senior

      • Iya, Matt nya minta maaf. Ga tau ya klo di Amerika tapi di Belanda banyak pasangan laki laki yg bertukar peran dgn perempuan, jadi cowok nya yg di rumah, dan ceweknya kerja. Biasanya klo si istri lebih gede gajinya dari suaminya, ga jauh jauh pertama kali Luc menawarkan aku yg kerja dan dia di rumah jaga anak anak, langsung deh dapat semprotan dariku, dia malah heran liat aku ngambek, why not? Tanya nya polos hahahaha

        • Oo gitu ya, mbak. Selama suami tidak rela kayaknya bukan masalah ya mbak. Tapi kayaknya kalau soal peran tetap nggak bisa ditukar menurut saya. Dan di film ini juga diperlihatkan matt yang sempat merasa inferior dan akhirnya selingkuh

          • Ya menurutku juga begitu, ibu tetap harus lebih berperan di rumah untuk anak-anak, klo mau kerja tentu saja boleh. Tapi mungkin suamiku agak beda pemikiran nya, ayah ibu sama pentingnya dan menurut dia bisa saja bertukar peran, hehehe.
            Balik lg ke film, Jules juga awalnya merasa mungkin krn dia, untung lah Matt sendiri yg bilang… Bukan karena aku merasa kehilangan dirimu, but I’m lost!

            Hihihi jadi malah ngabahas film. Tapi ide buat mempekerjakan pegawai senior (yg udah pensiun) bisa berjalan lancar juga, bagus ya

  1. kurang panjang cerpennya… kekekkeke…. filmnya asik ya, pertama ngunduh, ekspektasi ga besar-besar amat secara belon ada baca satu sinopsisnya pun… ternyata ya… 😀

  2. anu mbak, panjangin dikit cerpennya, soalnya saya penasaran, hihihi… dan lagi nih beberapa kantor yang saya tahu mendingan memperkerjakan orangtua yang layak daripada anak muda masa kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *