Pengalaman Berpuasa Saat Hamil

Tahun lalu, saat sedang hamil saya memutuskan untuk tetap berpuasa. Saat itu usia kehamilan saya sekitar 3 bulan. Masa di mana biasanya ibu hamil masih dihantui oleh yang namanya morning sickness, tak terkecuali saya. Meski morning sickness yang saya alami tak separah teman-teman yang lain, namun tetap saja menimbulkan rasa tidak nyaman. Apalagi dari yang saya baca, pada usia kehamilan 13-16 minggu merupakan kondisi di mana hormon HCG berada pada level tertinggi.  Itu artinya kemungkinan mual-mual yang saya rasakan akan lebih berat ketimbang minggu-minggu sebelumnya.

Sebelum memutuskan untuk tetap berpuasa di bulan Ramadan, tentunya saya terlebih dahulu melakukan bertanya kepada dokter kandungan tempat saya memeriksakan kehamilan setiap bulannya. Dalam Islam sendiri ibu hamil dan menyusui sebenarnya mendapat keringanan untuk tidak berpuasa dengan catatan membayarnya di hari lain. Lalu bagaimana jawaban dari dokter kandungan saya?  “Asal kamu bisa makan sebanyak saat tidak berpuasa, silakan saja,” begitu kata dokter kandungan saya kala itu. Akhirnya dengan memantapkan hati saya pun memutuskan untuk tetap menjalankan ibadah puasa.

Di awal-awal Ramadan, alhamdulillah saya tidak mengalami kesulitan menjalankan puasa meski sedang hamil. Dugaan akan rasa lapar yang berlebihan ternyata tidak saya alami. Seingat saya laparnya sama seperti ketika saya menjalankan puasa saat sedang tidak hamil. Lalu soal mual? Alhamdulillah puasa justru menghindarkan saya dari rasa mual karena di masa awal kehamilan, saya mengalami mual setelah makan. Berhubung saya tidak makan selama berpuasa, jadinya mual tak terlalu terasa di siang hari. Lain halnya dengan muntah. Seperti yang saya tulis di atas, usia kehamilan 13-16 minggu merupakan puncak tertinggi hormon HCG berada di tubuh kita. Jadilah saya sempat muntah beberapa kali setelah makan sahur.

Read More »

4 Cara Berhemat di Bulan Ramadhan

Tahun ini merupakan kali ke-3 saya menjalani Ramadhan dengan status sebagai seorang istri, plus tahun pertama sebagai seorang ibu. Tentunya jika dibandingkan dengan Ramadhan saat masih sendiri ada beberapa hal yang berubah dalam keseharian saya. Yang paling nyata adalah dalam pengaturan keuangan plus dapur. Meski masih tinggal bersama ibu saya, namun tetap dong saya bertanggung jawab atas kelangsungan perut suami. Apalagi suami bukan orang Banjar yang otomatis lidahnya berbeda dengan saya yang Banjar tulen.

Salah satu hal yang paling berasa saat Ramadhan adalah soal pengaturan keuangan selama bulan Ramadhan. Meski siang hari kita tidak makan minum, siapa yang menjamin kalau pengeluaran bakal bisa lebih irit ketimbang di luar bulan Ramadhan. Malah bisa-bisa sebaliknya. Pengeluaran di bulan Ramadhan membengkak. Mending keluarnya buat sedekah, lah ini kebanyakan buat hal-hal yang berhubungan dengan urusan perut. Heu.

Nah, sebagai seorang pengatur keuangan di rumah, mau tak mau saya harus pintar-pintar menyiasati pengeluaran selama bulan Ramadhan. Beberapa hal yang biasanya saya lakukan antara lain:

Read More »

Tausiyah tentang Tarawih

Selama bulan Ramadhan, kantor saya memanggil seorang ustad untuk memberikan tausiyah bagi para karyawan. Tausiyah ini diadakan di aula kantor dan wajib dihadiri para pejabat struktural. Meski begitu, jika karyawan ada yang ingin mendengar langsung isi tausiyahnya, tidak dilarang untuk ikut bergabung di aula.

Sayangnya, tak semua karyawan bersemangat untuk datang ke aula. Mungkin karena ada pekerjaan yang menunggu mereka di ruangan. Atau juga karena durasi tausiyahnya yang lumayan lama yang membuat mereka tidak bersemangat mengikuti tausiyah tersebut. Saya sendiri juga termasuk yang tidak datang ke aula tersebut 😀

Untungnya, kantor kemudian berinisiatif menyiarkan isi tausiyah dari ustad tersebut pada speaker-speaker yang dipasang di tiap departemen. Ini tentu kebijakan yang sangat baik mengingat isi dari tausiyah tersebut sangatlah baik untuk menambah pengetahuan karyawan tentang agama Islam.

Read More »