Mengontrol Tontonan Anak bagi Ibu Bekerja

Putri saya sekarang berusia 9 bulan. Sebagai seorang ibu bekerja, salah satu risiko yang harus saya ambil dalam pengasuhan anak saya adalah menitipkannya pada orang lain. Dalam hal ini, saya memilih seorang ibu rumah tangga yang masih bersaudara jauh dengan kami. Beliau memiliki 2 orang anak perempuan dengan usia 9 dan 3 tahun, pas sekali untuk menemani putri kecil saya dalam kesehariannya.

Setiap jam istirahat, saya selalu berusahu menjenguk putri saya. Nah, di jam istirahat ini kadang saya ikut juga berinteraksi dengan anak-anak. Mereka kadang bermain dan satu hal yang tidak ketinggalan adalah menonton televisi. Biasanya sih tontonannya kalau tidak Ipin dan Upin ya VCD lagu anak Islami. Insya Allah masih tontonan yang amanlah kalau menurut saya.

Di masa kecil dulu, televisi merupakan salah satu sarana hiburan paling utama saat berada di rumah. Layaknya anak kecil lainnya, saya menonton aneka kartun yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi swasta. Paling legendaris tentu saja Doraemon yang bahkan hingga saya beranjak dewasa masih ditayangkan. Di masa itu, mungkin tidak pernah terpikir di benak saya tentang pengaruh yang akan saya dapatkan setelah menonton acara televisi tersebut. Nonton kartun adalah hiburan. Just it!

Baca juga : Belajar Menjadi Orang Tua

Read More »

Belajar Menjadi Orang Tua

 

Delapan bulan sudah saya menyandang status baru sebagai ibu. Ada banyak hal yang saya pelajari selama 8 bulan ini. Mulai dari usaha menyusui, menyiapkan MPASI dan tentunya memantau perkembangannya baik motorik maupun perkembangan lainnya. Alhamdulillah hingga usianya yang hampir 9 bulan ini, anak saya perkembangannya cukup baik. Dia sudah bisa merangkak dan mulai mengucapkan beberapa kata random. Dia juga sudah mulai memahami beberapa instruksi yang kami berikan. Adapun untuk urusan makan, saya masih kesulitan karena anak saya kadang masih menolak makanan yang saya buatkan untuknya.

Tentang perkembangan motorik bayi ini, saya juga sempat dilanda masa galau. Jadi ceritanya saat itu saya mem-follow instagram Andien yang kebetulan usia anaknya tak jauh dari saya. Nah, di instagramnya ini Andien kan cukup sering memposting perkembangan Kawa, putra itu. Awalnya saya merasa termotivasi dengan postingan-postingannya. Beberapa stimulasi yang dilakukan menjadi inspirasi bagi saya untuk diberikan pada putri saya.

Tapi kemudian lama-lama saya jadi frustrasi sendiri. Apa pasal? Perkembangan Kawa sangat pesat sementara perkembangan anak saya terbilang biasa saja. Bayangkan saja si Kawa sudah bisa merayap di usia 5 bulan sementara anak saya cuma bisa nungging-nungging doang. Jadilah setiap kali melihat video perkembangan Kawa saya jadi merasa kecewa pada diri sendiri (atau anak saya?).

Read More »

Manajemen ASIP Setelah Bekerja

Pagi itu, seperti biasa saya memulai aktivitas pumping di kantor. Sebuah tas khusus ASIP sudah siap di samping saya. Saya pun mulai mengeluarkan alat tempur pumping saya, merangkainya dan mulai menyalakannya. Baru beberapa detik saya langsung sadar ada yang salah. Pompanya tidak menghisap sama sekali. Segera saya matikan pompa. Saya cek setiap bagian pompa dari silikon hingga bagian dalamnya.

“Duh, kemana valve-nya?” rutuk saya setelah membuka bagian atas pompa. Ternyata valve yang biasanya menempel pada bagian leher . Segera saya membereskan kembali peralatan pompa. Tak ada pilihan lain. Saya harus pulang ke rumah untuk mengambil valve yang ketinggalan tersebut. Untungnya jarak antara kantor dan rumah tak terlalu jauh. Dalam setengah jam saya sudah kembali ke kantor dan bisa memulai aktivitas pumping yang tertunda.

Kejadian seperti di atas sebenarnya tak hanya sekali ini terjadi. Beberapa kali saya mendapati tutup botol yang tertinggal, salah bawa kepala pompa, hingga lupa men-charge mesin pompa. Semuanya terlihat sepele namun kadang sukses mengganggu mood saya untuk pumping. Padahal ya aturan dasarnya ibu menyusui itu sebaiknya tidak boleh stress karena akan berpengaruh pada produksi ASI. Dan memang karena hal-hal kecil seperti di atas kadang membuat hasil pumping saya tidak sesuai dengan target yang ingin saya capai.

Read More »

MPASI, Antara Teori dan Praktik

Tak terasa Tyas putri saya sudah berusia 7 bulan. Ini artinya sudah 1 bulan sejak pertama kali diberikan makanan pendamping berupa MPASI. Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, untuk MPASI Tyas saya memilih versi WHO yang memperkenalkan berbagai jenis makanan sejak awal pemberian MPASI. Berbagai macam teori tentang MPASI sudah saya baca untuk persiapan MPASI Tyas. Lantas apakah teori yang saya baca tersebut sesuai dengan kenyataan di lapangan? Berikut adalah jawabannya.

Teori 1 : Membuat daftar menu harian

Dalam forum HHBF yang saya ikuti, sebelum memulai MPASI para ibu dianjurkan membuat daftar menu tunggal yang akan diberikan pada bayi selama 14 hari. Hal ini bertujuan agar para ibu bisa mengatur menu mana yang tinggi serat sehingga bisa menghindarkan bayi dari sembelit. Kenyataannya, saya tidak membuat daftar tersebut. Alasannya sih karena nggak sempat aja. Jadi selama pemberian menu tunggal, saya memberikan bahan makanan sesuai yang ada di kulkas aja sambil mengecek apakah bahan ini tinggi serat atau tidak. Bahkan sempat ada beberapa bahan makanan yang saya berikan berulang. Lalu apakah anak saya kena sembelit? Iya. Tyas sembelit setelah saya berikan pisang dua hari berturut-turut. Pisang memang dikelompokkan dalam buah tinggi serat yang kalau untuk bayi bisa memicu sembelit. Sembelitnya sampai nangis karena udah ngeden tapi nggak keluar-keluar itu pup. Untungnya cuma sehari kejadian ngeden sampai nangis ini.

Teori 2 : Menggunakan saringan kawat untuk menghaluskan makanan

Untuk menghaluskan makanan untuk MPASI, ibu disarankan menggunakan saringan kawat. Jadi bahan makanan yang sudah dikukus dibenyek-benyek di atas saringan kawat dan diambil bagian yang sudah halusnya. Tak lupa diambil juga bagian yang menempel di bawah saringan. Kenapa tidak dihaluskan dengan menggunakan blender? Karena penggunaan blender kadang memerlukan tambahan air yang bisa membuat bubur jadi encer yang beresiko membuat bayi susah naik tekstur. Saya sendiri awalnya cukup rajin menyaring bahan makanan ini. Hingga kemudian saya menggunakan jagung untuk MPASI anak saya, dan saya pun menyerah. Duh, jagung ini susah sekali disaring sodara-sodara. Mungkin seharusnya sebelum dikukus dia diparut dulu pakai parutan kelapa biar halus. Akhirnya setelah itu saya lebih sering pakai blender ketimbang saringan kawat. Selain lebih memudahkan dalam menghaluskan makanan, penggunaan blender juga lebih mempersingkat waktu saya membuat MPASI untuk anak saya. Jadi ya saya kagum sih sama ibu-ibu yang keukeuh tetap pakai saringan kawat untuk menghaluskan MPASI anaknya.

Read More »

Pengalaman Mengajak Bayi Travelling

Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami mengajak Tyas putri kami untuk mengunjungi kakek neneknya yang tinggal di Tangerang. Di usianya yang memasuki bulan ke tujuh, ini adalah pertama kalinya bagi anak saya melakukan perjalanan jauh dan naik pesawat pula. Sebagai orang tua baru, tentunya kami harus mempersiapkan perjalanan ini dengan baik. Saya sendiri sebelum keberangkatan sudah mencari-cari informasi seputar membawa bayi naik pesawat. Mulai dari perlengkapan apa saja yang harus dibawa, hingga tips agar bayi bisa nyaman dalam perjalanan. Selain itu saya dan suami juga beberapa kali melakukan perjalanan yang cukup sebagai pemanasan sebelum kami benar-benar berangkat nanti.

Satu hari sebelum hari H, saya dan suami berkemas. Suami memasukkan pakaiannya ke dalam ransel kecil sementara pakaian saya dan Tyas diletakkan di satu koper travelling. Dalam koper tersebut, selain berisi pakaian saya dan Tyas, juga saya masukkan beberapa perlengkapan bayi seperti popok, pompa ASI dan beberapa perlengkapan MPASI seperti saringan kawat dan parutan keju. Selain tas koper, saya juga membawa sebuah tas jinjing berisi popok ganti, minyak telon, ASIP dan MPASI untuk anak saya dalam perjalanan nanti. Rencananya kami akan berada di tempat mertua selama 5 hari. Oh, ya selain membawa dua tas tersebut, saya juga menyewa sebuah stroller untuk memudahkan kami membawa Tyas saat berada di tempat kakek neneknya nanti.

Tas dan koper sudah siap, maka tahap selanjutnya adalah berangkat. Pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 4 sore. Untuk perjalanan ini, saya terlebih dahulu melakukan check in online pada maskapai yang sudah saya pilih. Nah, berdasarkan saran yang saya dapat, jika membawa bayi sebaiknya pilihlah kursi bagian depan atau bagian belakang agar memudahkan akses keluar nanti. Saya sendiri awalnya memilih kursi bagian tengah karena saat check in kursi bagian depan sudah terisi. Eh saat check in lagi di bandara kursi saya dipindahkan ke depan oleh petugasnya. Jadi, kesimpulannya, ibu yang bawa bayi tidak boleh duduk di bagian tengah pesawat.

Read More »