[Cerita Fantasi] aleza

Keyword : salju, cerpelai, polkadot, gula-gula, pasar malam, pohon pisang

Aleza tampak sangat gembira hari ini. Sejak matahari menampakkan sinarnya, gadis berusia empat belas tahun itu tak henti-hentinya bersenandung. Wajahnya berseri-seri, sesekali tubuhnya bergoyang kesana-kemari seolah-olah sedang mengikuti irama lagu yang dinyanyikannya.

Wajar saja jika Aleza sangat gembira. Hari ini ayahnya akan pulang, setelah hampir satu bulan lamanya meninggalkan rumah untuk melakukan perjalanan bisnis. Ayah Aleza berprofesi sebagai pedagang. Setiap tiga bulan sekali ia dan para lelaki lain di Asfaris akan melakukan perjalanan ke negara tetangga. Mereka biasanya membawa berbagai macam kain tenun yang diolah di pabrik-pabrik kecil di Asfaris, untuk ditukar dengan beberapa keping uang logam atau berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Roxxyy!! Apa yang kau lakukan?!!”

Aleza sedang asyik memotong-motong wortel ketika seekor cerpelai secara tiba-tiba hinggap di bahunya. Tubuhnya berwarna seputih salju dengan sedikit warna hitam pada bagian ekornya. Aleza menemukan cerpelai tersebut lima tahun lalu saat sedang berjalan-jalan di kebun ayahnya. Dalam sekali pandang ia langsung jatuh cinta pada binatang tersebut. Roxy pun dibawa pulang dan sejak saat itu ia sudah seperti saudara Aleza.

Read More »

Pertemuan Mingguan

Ina melirik pergelangan tangannya. Pukul dua lewat tiga puluh menit. Ah, sial! Telat! Rutuknya dalam hati. Kalau saja Ina tidak merebahkan diri dahulu usai salat dzuhur tadi, mungkin dia takkan setergesa ini. Segera saja ia mengambil kunci motor yang tergeletak di atas meja dan berpamitan pada ibunya yang sedang berada di dapur.

Ina memacu motornya dengan kecepatan penuh. Hari ini seharusnya ia bertemu dengan beberapa temannya. Karena tertidur, dia jadi terlambat. Tak sampai tiga puluh menit, akhirnya Ina tiba di tempat tujuan. Masjid Raya Sabilal Muhtadin, sebuah masjid yang terletak di pusat kota Banjarmasin. Masjid itu merupakan salah satu masjid terbesar di kota tempat Ina tinggal. Beberapa tahun lalu masjid tersebut direnovasi oleh pemerintah dan menghasilkan bangunan yang terlihat lebih megah dan menawan dari yang sebelumnya.

Setelah memarkir motor, Ina menyempatkan diri memeriksa penampilannya. Diperbaikinya kerudung yang terlihat berantakan dan rok yang terlihat kusut. Dirasa oke, Ina pun berjalan cepat menuju teras masjid, berharap ia tak banyak ketinggalan. Dari jauh, dilihatnya enam orang gadis berjilbab yang duduk melingkar dan seorang wanita paruh baya sedang berbicara. Ina tersenyum. Ah, inilah yang selalu Ina tunggu setiap minggunya. Pertemuan dengan para sahabatnya dalam mendalami agama.

***

Jumlah kata : 192 kata

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid”

[Cerpen] Kedai Alina

kedai

Semenjak Ranti sahabatnya menikah, kehidupan Nayla terasa semakin membosankan saja. Ia merasa kehilangan teman tempatnya berbagi. Tak ada lagi makan siang yang diselingi obrolan ringan. Atau belanja gila-gilaan yang membuat kaki terasa penat. Hingga memanjakan diri di salon favorit mereka. Semuanya kebiasaan itu mendadak hilang. Apalagi Ranti menikah tanpa proses pacaran yang cukup lama. Sehingga bisa dibilang Nayla tak memiliki cukup persiapan akan kehilangan waktu dari sahabatnya itu.

Bukannya Nayla marah pada Ranti karena tak bisa lagi menemaninya. Sudah menjadi kewajiban Ranti untuk mengikuti suaminya kemanapun ia pergi. Nayla pun berusaha mengerti akan hal itu. Namun tetap saja rasa kesepian itu muncul di hati Nayla, yang pada akhirnya membuatnya merasa menyesal tak memiliki banyak teman.

Untuk mengobati rasa kesepiannya tersebut, Naylamemutuskan untuk lebih membuka diri. Dia mulai bergabung dengan teman-teman di kantornya. Namun mungkin karena terlalu lama bergaul dengan Ranti, membuat Nayla kesulitan untuk bergabung dengan mereka. Lagipula dia tak tahan jika harus mendapatkan pandangan, “setelah sahabat nikah, baru deh ngelirik kami.” Akhirnya Nayla pun memutuskan untuk meninggalkan kelompok tersebut dan menenggelamkan diri dalam kesendiriannya.

Read More »

[Cerpen Adaptasi] Pegawai Senior

tin-02

Ide itu datang dari Rasya. Dia mengatakan padaku kalau sebaiknya kami mencoba memperkerjakan pegawai senior di perusahaan yang baru kami bangun. Senior di sini maksudnya bukan yang berusia tiga puluh sampai empat puluhan. Yang dimaksud Rasya dengan senior adalah mereka yang sudah pensiun dari pekerjaannya.

“Memangnya menurutmu hal tersebut akan berpengaruh pada perkembangan usaha kita?” tanyaku dengan tanda tak yakin. Selama ini aku selalu memiliki pandangan negatif terhadap para orang tua. Bisakah mereka bekerja dengan cepat? Apakah mereka akan mengerti teknologi terbaru?

“Ya siapa tahu saja, bukan? Para pensiunan ini memiliki pengalaman hidup yang lebih jauh dari kita,” kata rekan kerjaku itu dengan sangat yakin.

Aku menggembungkan pipiku tanda sedang berpikir. Sebagai salah satu pemegang saham di perusahaan ini, tentu saja saran dari Rasya tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi selama ini dia selalu membuktikan insting bisnisnya jarang meleset.

“Hmm.. baiklah kalau begitu. Kau jalankan saja rencanamu itu,” kataku akhirnya.

***

Read More »

[Percikan] Bendahara Kelas

percikan

BENDAHARA KELAS

“Eh, eh, Ibu debt collector datang,” kata Bima pada Arya ketika Putri mendekati mereka. Keduanya kemudian sama-sama mengecek dompet mereka.

“Yah, aku nggak bawa uang lebih hari ini, Put. Besok aja ya,” kata Bima sambil memperlihatkan bagian dalam dompetnya yang kosong melompong.

“Aku juga, Put,” kali ini Arya yang berbicara.

Putri hanya tersenyum mendengar alasan yang diberikan kedua temannya itu. “Ya sudah besok siapin uangnya ya. Kalau nggak aku tagih tiap hari, lho,” kata Putri kemudian sebelum ia beranjak pergi.

***

Read More »