Manajemen ASIP Setelah Bekerja

Pagi itu, seperti biasa saya memulai aktivitas pumping di kantor. Sebuah tas khusus ASIP sudah siap di samping saya. Saya pun mulai mengeluarkan alat tempur pumping saya, merangkainya dan mulai menyalakannya. Baru beberapa detik saya langsung sadar ada yang salah. Pompanya tidak menghisap sama sekali. Segera saya matikan pompa. Saya cek setiap bagian pompa dari silikon hingga bagian dalamnya.

“Duh, kemana valve-nya?” rutuk saya setelah membuka bagian atas pompa. Ternyata valve yang biasanya menempel pada bagian leher . Segera saya membereskan kembali peralatan pompa. Tak ada pilihan lain. Saya harus pulang ke rumah untuk mengambil valve yang ketinggalan tersebut. Untungnya jarak antara kantor dan rumah tak terlalu jauh. Dalam setengah jam saya sudah kembali ke kantor dan bisa memulai aktivitas pumping yang tertunda.

Kejadian seperti di atas sebenarnya tak hanya sekali ini terjadi. Beberapa kali saya mendapati tutup botol yang tertinggal, salah bawa kepala pompa, hingga lupa men-charge mesin pompa. Semuanya terlihat sepele namun kadang sukses mengganggu mood saya untuk pumping. Padahal ya aturan dasarnya ibu menyusui itu sebaiknya tidak boleh stress karena akan berpengaruh pada produksi ASI. Dan memang karena hal-hal kecil seperti di atas kadang membuat hasil pumping saya tidak sesuai dengan target yang ingin saya capai.

Read More »

MPASI, Antara Teori dan Praktik

Tak terasa Tyas putri saya sudah berusia 7 bulan. Ini artinya sudah 1 bulan sejak pertama kali diberikan makanan pendamping berupa MPASI. Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, untuk MPASI Tyas saya memilih versi WHO yang memperkenalkan berbagai jenis makanan sejak awal pemberian MPASI. Berbagai macam teori tentang MPASI sudah saya baca untuk persiapan MPASI Tyas. Lantas apakah teori yang saya baca tersebut sesuai dengan kenyataan di lapangan? Berikut adalah jawabannya.

Teori 1 : Membuat daftar menu harian

Dalam forum HHBF yang saya ikuti, sebelum memulai MPASI para ibu dianjurkan membuat daftar menu tunggal yang akan diberikan pada bayi selama 14 hari. Hal ini bertujuan agar para ibu bisa mengatur menu mana yang tinggi serat sehingga bisa menghindarkan bayi dari sembelit. Kenyataannya, saya tidak membuat daftar tersebut. Alasannya sih karena nggak sempat aja. Jadi selama pemberian menu tunggal, saya memberikan bahan makanan sesuai yang ada di kulkas aja sambil mengecek apakah bahan ini tinggi serat atau tidak. Bahkan sempat ada beberapa bahan makanan yang saya berikan berulang. Lalu apakah anak saya kena sembelit? Iya. Tyas sembelit setelah saya berikan pisang dua hari berturut-turut. Pisang memang dikelompokkan dalam buah tinggi serat yang kalau untuk bayi bisa memicu sembelit. Sembelitnya sampai nangis karena udah ngeden tapi nggak keluar-keluar itu pup. Untungnya cuma sehari kejadian ngeden sampai nangis ini.

Teori 2 : Menggunakan saringan kawat untuk menghaluskan makanan

Untuk menghaluskan makanan untuk MPASI, ibu disarankan menggunakan saringan kawat. Jadi bahan makanan yang sudah dikukus dibenyek-benyek di atas saringan kawat dan diambil bagian yang sudah halusnya. Tak lupa diambil juga bagian yang menempel di bawah saringan. Kenapa tidak dihaluskan dengan menggunakan blender? Karena penggunaan blender kadang memerlukan tambahan air yang bisa membuat bubur jadi encer yang beresiko membuat bayi susah naik tekstur. Saya sendiri awalnya cukup rajin menyaring bahan makanan ini. Hingga kemudian saya menggunakan jagung untuk MPASI anak saya, dan saya pun menyerah. Duh, jagung ini susah sekali disaring sodara-sodara. Mungkin seharusnya sebelum dikukus dia diparut dulu pakai parutan kelapa biar halus. Akhirnya setelah itu saya lebih sering pakai blender ketimbang saringan kawat. Selain lebih memudahkan dalam menghaluskan makanan, penggunaan blender juga lebih mempersingkat waktu saya membuat MPASI untuk anak saya. Jadi ya saya kagum sih sama ibu-ibu yang keukeuh tetap pakai saringan kawat untuk menghaluskan MPASI anaknya.

Read More »

Pengalaman Mengajak Bayi Travelling

Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami mengajak Tyas putri kami untuk mengunjungi kakek neneknya yang tinggal di Tangerang. Di usianya yang memasuki bulan ke tujuh, ini adalah pertama kalinya bagi anak saya melakukan perjalanan jauh dan naik pesawat pula. Sebagai orang tua baru, tentunya kami harus mempersiapkan perjalanan ini dengan baik. Saya sendiri sebelum keberangkatan sudah mencari-cari informasi seputar membawa bayi naik pesawat. Mulai dari perlengkapan apa saja yang harus dibawa, hingga tips agar bayi bisa nyaman dalam perjalanan. Selain itu saya dan suami juga beberapa kali melakukan perjalanan yang cukup sebagai pemanasan sebelum kami benar-benar berangkat nanti.

Satu hari sebelum hari H, saya dan suami berkemas. Suami memasukkan pakaiannya ke dalam ransel kecil sementara pakaian saya dan Tyas diletakkan di satu koper travelling. Dalam koper tersebut, selain berisi pakaian saya dan Tyas, juga saya masukkan beberapa perlengkapan bayi seperti popok, pompa ASI dan beberapa perlengkapan MPASI seperti saringan kawat dan parutan keju. Selain tas koper, saya juga membawa sebuah tas jinjing berisi popok ganti, minyak telon, ASIP dan MPASI untuk anak saya dalam perjalanan nanti. Rencananya kami akan berada di tempat mertua selama 5 hari. Oh, ya selain membawa dua tas tersebut, saya juga menyewa sebuah stroller untuk memudahkan kami membawa Tyas saat berada di tempat kakek neneknya nanti.

Tas dan koper sudah siap, maka tahap selanjutnya adalah berangkat. Pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 4 sore. Untuk perjalanan ini, saya terlebih dahulu melakukan check in online pada maskapai yang sudah saya pilih. Nah, berdasarkan saran yang saya dapat, jika membawa bayi sebaiknya pilihlah kursi bagian depan atau bagian belakang agar memudahkan akses keluar nanti. Saya sendiri awalnya memilih kursi bagian tengah karena saat check in kursi bagian depan sudah terisi. Eh saat check in lagi di bandara kursi saya dipindahkan ke depan oleh petugasnya. Jadi, kesimpulannya, ibu yang bawa bayi tidak boleh duduk di bagian tengah pesawat.

Read More »

Cerita Lebaran : Jatuh Bangun di Kampung Orang Tua

“Tadi Dede pintar lho, Mas pas aku dan Mama salat. Dia rebahan dan nggak rewel,” kata¬† saya pada suami sepulang dari salat Ied yang kami laksanakan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Tak seperti tahun lalu, tahun ini Ramadan dan lebaran kami memang terasa berbeda dengan kehadiran putri kami yang sekarang berusia 6 bulan. Jika tahun lalu saya masih bisa mengikuti ibadah tarawih bersama suami di mesjid atau musala, maka untuk tahun ini ibadah tarawih saya lakukan di rumah saja karena rasanya tak mungkin membawa Tyas ke musala atau mesjid untuk ikut tarawih.

“Iyakah? Alhamdulillah kalau Dede-nya pintar,” balas suami saya sambil menimang putri kami.

Berbeda dengan tarawih, untuk ibadah salat Ied saya dan suami akhirnya memutuskan untuk membawa serta anak kami. Selain karena durasinya yang terbilang singkat, saya juga ingin mengenalkan Tyas pada suasana salat Ied. Selain itu anak saya masih belum terlalu aktif pergerakannya. Meski begitu, tetap saja yang namanya membawa bayi, otomatis persiapannya jadi sedikit lebih repot ya. Untungnya saya dan keluarga tidak sampai terlambat tiba di tempat salat. Hanya selang beberapa menit sebelum imam memulai salat, saya dan ibu sudah berhasil mendapatkan tempat salat.

Saat suami setuju untuk membawa serta Tyas dalam pelaksanaan salat ied, dia menyarankan agar saya salat sambil memangku anak kami. Namun karena yakin anak saya tidak akan rewel, sebelum melaksanakan salat, Tyas saya letakkan di antara saya dan ibu dengan beralas selimut miliknya. Alhamdulillah, selama kami salat Tyas tidak menunjukkan tanda-tanda bosan atau rewel. Sementara kami salat, matanya tampak bolak-balik memandangi saya dan ibu saya. Tyas juga tidak melakukan aksi tengkurap seperti yang kerap dilakukannya jika sudah direbahkan. Mungkin dia sadar kalau alas tidurnya keras jadi dia lebih memilih tetap dengan posisi telentang. Sambil memandangi ibu dan neneknya, sesekali anak saya mengeluarkan celotehan khas miliknya.

Read More »

Persiapan MPASI untuk si Kecil

Bulan Juni ini, Insya Allah anak saya akan berusia 6 bulan. Itu artinya anak saya sudah bisa dikenalkan pada makanan padat atau yang biasa disebut dengan MPASI. Layaknya ibu-ibu baru lainnya, tentunya saya sangat bersemangat menanti datangnya hari anak saya mulai makan. Anak saya sendiri juga sudah mulai menunjukkan ketertarikannya pada makanan. Setiap kali orang tuanya mulai makan, matanya bakal memandangi kami seolah berkata, “Duh aku juga pengen dong makan itu,” Heuheuheu.

Nah, berhubung ini adalah tahap baru dalam perkembangannya, tentunya ada hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum memberikan MPASI untuk anak saya. Persiapan ini tak melulu dalam bentuk barang namun hal-hal lain yang menurut saya penting. Persiapan tersebut antara lain:

Read More »