Beli Rumah Di Mana?

Salah satu pembahasan yang cukup booming antara saya dan rekan kerja seangkatan adalah seputar rumah. Dengan usia yang rata-rata sudah matang dan status sebagai pegawai tetap seperti sekarang, keinginan untuk memiliki rumah sendiri jelas bukan hal yang aneh. Apalagi beberapa dari kami juga baru saja melepas masa lajang, jadilah topik berburu rumah menjadi salah satu bahan obrolan jika sudah bertemu.

Saya sendiri setelah menikah masih tinggal di rumah orang tua saya bersama ibu dan adik bungsu saya. Awalnya suami menginginkan agar kami mengontrak rumah terpisah setelah menikah. Namun karena berbagai pertimbangan akhirnya suami setuju untuk tinggal dulu di rumah orang tua saya hingga masa yang belum ditentukan.

Meski tinggal bersama orang tua, tentu saya juga tetap punya keinginan memiliki rumah sendiri. Rasanya lebih menyenangkan jika kita bisa menata rumah kita sendiri, bukan? Karena itulah, layaknya teman-teman yang lain, saya juga rajin berburu brosur perumahan. Dan berhubung departemen tempat saya bekerja sekarang sering melakukan survey untuk keperluan pemasangan pipa, maka bisa dibilang misi berburu rumah ini terasa lebih mudah.

Di Banjarmasin sendiri, harga perumahan (tipa 36-35) berkisar antara 150-250 jutaan. Biasanya harga rumah ini bergantung pada lokasi perumahan serta material yang dipakai. Jika ingin punya rumah di tengah kota dengan akses nyaman, dan material yang baik, tentunya harus siap dengan harga yang lumayan mahal. Jika pertimbangannya adalah biaya, maka bisa saja memilih rumah sedikit ke luar kota dengan material seadanya yang mungkin akan membuat kita harus keluar uang lagi untuk renovasi.

Pertimbangan lain dari memilih rumah adalah kedetakan dengan rumah orang tua. Hal ini sempat jadi sentilan bagi saya pribadi. Jadi ceritanya kami sedang membahas tentang rencana membeli rumah. Dalam pembicaraan tersebut saya tanpa sengaja berkata, “Kalau beli rumah enaknya sih dekat sama orang tua. Jadi gampang kalau punya anak.”

Mendengar perkataan saya itu, serta-merta teman saya itu menanggapi. “Belum apa-apa mikirnya sudah ke situ,” begitu katanya. Saya kurang tahu maksudnya apa. Tapi kalau yang saya tangkap sih teman saya ini mau mengatakan belum apa-apa sudah mikir nitip anak ke orang tua. Duh, jujur kalimatnya itu benar-benar menyentil saya (walaupun ya sebenarnya memang maksud saya memang begitu).

Tentang beli rumah dekat orang tua ini, saya yakin bukan hanya saya yang berpikiran seperti itu. Bahkan dari beberapa cerita saya ketahui, ada beberapa rekan kerja yang berniat menjual rumahnya yang terletak sedikit di luar kota untuk kemudian mencari rumah di dalam kota. Alasannya selain karena lebih dekat dengan kantor, juga karena dekat dengan rumah orang tua. Yah, memang tidak bisa dipungkiri kalau orang tua akan selalu menjadi tempat kita berlari, bahkan setelah kita dewasa.

24 thoughts on “Beli Rumah Di Mana?

  1. Beli rumah yang jauh dari ortu juga bagus, biar bisa sedikit mandiri. Kalo punya anak kan bisa pakai asisten rumah tangga (art). Orang tua cukup sesekali melihat kelakuan art selama kita kerja.
    Saran saya kalo ada uang sebaiknya sudah nyicil rumah sebelum anak lahir. Kalo anak sudah punya, apalagi jumlahnya lebih dari satu, kebutuhannya banyak lho.
    Saya dulu suka perumahan sekitar Kayu Tangi.

    • iya. kalau sementara ini pilihan saya dan suami juga kayaknya agak jauh dari rumah ortu (pertimbangan biaya. heu)
      kayu tangi sekarang padat juga, mas. yang lagi booming daerah tembus ke jalan tol itu. soalnya kan lahannya baru dibuka dan aksesnya dekat ke pusat kota

  2. Ya, ada orang tua memang membuat semua terasa lebih nyaman dan lebih aman ya Mbak :hehe. Tapi kalau sudah hidup merantau jauh seperti saya di sini :huhu, opsi yang tertinggal cuma mencari rumah yang agak di pinggir kota yang sesuai dengan kantong. Soalnya kalau yang dicari di dalam kota… harganya nggak nahan! :huhu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *